Q6iK6DjV_iE

Jakarta, Parmagz – 3 tahun berselang sejak Makoto Shinkai merilis film Your Name yang menjadi salah satu film anime terlaris di seluruh dunia, Shinkai dan CoMix Wave Films kembali meluncurkan film berjudul Tenki No Ko atau Weathering With You yang rilis di Indonesia pada 21 Agustus 2019.

Di Weathering With You, Shinkai kembali menampilkan formula yang sama seperti film-film sebelumnya, termasuk Your Name. beberapa formula yang tetap Shinkai gunakan antara lain seperti kisah antara laki-laki dan perempuan yang ingin menggapai impiannya masing-masing, hingga narasi cerita yang menembus batas nalar manusia (magis).

Cerita diawali dengan menampilkan Morishima Hodaka (dengan Kotaro Daigo sebagai pengisi suara) yang berasal desa terpencil di Shikoku, pergi merantau ke Tokyo karena masalah personal dengan keluarganya, hingga membuat dirinya mencari kehidupan baru untuk keluar dari permasalahan tersebut.

Saat ia menaiki kapal feri dalam perjalanannya menuju Tokyo, badai besar menghantam kapalnya yang membuat dirinya hampir terjatuh ke laut. Ia diselamatkan oleh Keisuke Suga (suara diisi oleh Shun Oguri), seorang yang bekerja di suatu majalah misterius bernama K&A, yang membahas topik tentang kejadian supranatural di sekitar Tokyo. Ketika Hodaka sampai di Tokyo, Hodaka merasa Tokyo tidaklah seperti apa yang terdapat dalam pikirannya selama ini. Tokyo terus menerus turun hujan, tidak ada sedikit pun cuaca cerah hadir di kota itu.

Saat Hodaka dan Keisuke akan berpisah, Keisuke memberikan kartu namanya kepada Hodaka untuk menghubunginya jika membutuhkan bantuan. Hodaka pun awalnya berprinsip untuk tidak akan menghubunginya karena ia merasa Keisuke hanya akan memanfaatkannya. Hodaka akhirnya pergi mencari pekerjaan tetap di Tokyo, namun dirinya sangat sulit menemukan pekerjaan karena terhalang oleh umurnya yang masih 16 tahun. Suatu waktu, ia bertemu dengan Hina Amano (Nana Mori sebagai pengisi suara) di restoran cepat saji tempat Hina bekerja paruh waktu. Hina datang ke meja Hodaka untuk memberikan makanan karena dirinya merasa iba kepada Hodaka yang sudah 3 hari datang ke restorannya tanpa memesan satupun makanan.

Karena sudah pasrah dirinya selalu ditolak saat melamar pekerjaan, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Keisuke dan berangkat menuju kantor milik Keisuke. Di sana ia bertemu dengan Natsumi (suara diisi oleh Tsubasa Honda), sepupu dari Keisuke yang juga bekerja di majalah misterius kepunyaan Keisuke itu.  Setelah melewati masa pelatihan dasar sebagai jurnalis, Hodaka pun diterima sebagai penulis di majalah tersebut.

 

Bertemu Gadis Sinar Matahari

Topik pertama yang didapatkan Hodaka saat bekerja di majalah itu ialah mencari kebenaran tentang Gadis Sinar Matahari. Dalam cerita tersebut, Gadis Sinar Matahari ialah seorang gadis yang dapat mengubah cuaca Tokyo yang selalu turun hujan menjadi cerah. Hodaka pergi bersama Natsumi mewawancarai setiap saksi mata tentang gadis tersebut. Sampai akhirnya, Hodaka mengetahui bahwa Gadis Sinar Matahari itu ialah Hina Amano, gadis yang ditemuinya di restoran cepat saji.

Hina Amano ialah gadis yatim piatu yang tinggal bersama adiknya Nagi (dengan Sakura Kiryu sebagai pengisi suara). Hina menceritakan kepada Hodaka bahwa dirinya dapat terhubung dengan langit, oleh karena itu Hina dapat mengontrol cuaca dari hujan menjadi cerah atau pun sebaliknya hanya dengan “berdoa”. Hodaka berpikir bahwa kekuatan Hina berpotensi menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan, apalagi saat itu Hina telah diberhentikan dari pekerjaan di restoran cepat saji dan sangat membutuhkan uang. Akhirnya mereka berdua menawarkan jasa untuk menghentikan hujan dan mencerahkan kota lewat jejaring internet kepada masyarakat yang membutuhkan cuaca cerah.

Gambar: Toho Pictures

Masa Muda yang Berbeda

Baca juga:  Confessions: Mengais Sisa Kemanusiaan dari Para Pendendam

Kontradiksi yang ditawarkan dalam film ini ialah terdapat pada karakter Hodaka dan Hina, di umur mereka yang masih terbilang muda dan harusnya duduk di bangku sekolah, tetapi mereka sudah harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini, Hodaka ialah murid kelas satu SLTA berumur 16 tahun yang keluar dari sekolah dan rumahnya untuk menembus batasan hidupnya di Tokyo. Sedangkan Hina ialah anak yatim piatu berumur 15 tahun yang terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan adiknya. Bahkan, untuk memuluskan ia agar diterima untuk bekerja, di dalam cerita, Hina sampai harus memalsukan umur dalam resume-nya agar bisa mendapatkan pekerjaan.

Dalam film ini, kita dihidangkan sebuah pemandangan masa muda yang berbeda dari biasanya, bukanlah masa muda yang menyenangkan penuh dengan canda tawa. Bukan pula suasana belajar di sekolah, atau pun hidup bersama suasana keluarga yang terasa hangat. Shinkai memberikan sebuah gambaran yang kontra terhadap kehidupan masa muda yang ideal. Dan tentu, dalam kehidupan yang nyata, masih banyak Hodaka dan Hina lainnya yang menghabiskan masa muda seperti mereka berdua.

 

Kentalnya Kepercayaan Shinto

Shinkai memang selalu menyajikan kekentalan kepercayaan Shinto yang dia sisipi di dalam filmnya. Sering juga dia menampilkan beberapa elemen yang terdapat dalam kepercayaan Shinto di dalam film yang dia buat.  Di Weathering With You, Hina mempunyai takdir bahwa sebagai Gadis Sinar Matahari, dirinya harus dikorbankan agar cuaca di Jepang dapat kembali normal seperti sedia kala.

Semakin ia sering “berdoa” untuk membuat cuaca menjadi cerah, semakin pudar juga tubuhnya dari dunia yang ia tinggali. Hal ini diperlihatkan dengan perubahan tubuh Hina yang menjadi seperti air dan tidak dapat tersentuh oleh orang lain, maupun dirinya sendiri.

Hingga pada akhirnya, Hina hilang dari dunia sebagai bentuk pengorbanan untuk menjalankan takdirnya. Cuaca pun kembali cerah di negeri Jepang setelah pengorbanan Hina.

 

Romansa Magis ala Shinkai

Ketika Hina menghilang untuk melakukan pengorbanan, Hodaka tentu tak mau menerima kenyataan tersebut. Hina pernah bercerita kepada Hodaka bahwa ia baru menyadari kemampuannya dapat mengendalikan cuaca saat dirinya berdoa di kuil yang berada di atas atap sebuah gedung yang telah usang. Hina akhirnya mendapatkan kekuatannya setelah mencoba berdoa di kuil tersebut pada setahun sebelum pertemuannya dengan Hodaka.

Hodaka pun akhirnya pergi menuju tempat kuil itu dengan harapan dapat membawa kembali Hina ke dunia. Setelah sampai di sana, Hodaka mencoba berdoa seperti apa yang biasa dilakukan Hina. Selepas itu langit bergejolak, Hodaka dibawa oleh angin menuju pintu langit dan pergi menyelamatkan Hina. Dari sini, ketika Hodaka bertemu dengan Hina di pulau yang berada di atas awan, Hina berusaha menjelaskan kepada Hodaka bahwa dirinya memang ditakdirkan sebagai pengorbanan. Namun Hodaka meyakinkan Hina untuk tetap hidup dan menjalani ini semua bersamanya.  Hina pun akhirnya selamat, dan berhasil kembali ke dunia. Namun konsekuensi dari kembalinya Hina ialah, Jepang kembali dilanda cuaca yang ekstrem.

Hingga 3 tahun berselang, cuaca buruk terus melanda Jepang, banjir mulai bermunculan karena luapan air tidak dapat ditahan lagi. Akhirnya hal tersebut pun membuat kota Tokyo di dalam film setengahnya sudah menjadi laut, masyarakat diungsikan dan beberapa distrik di kota Tokyo dikabarkan telah menjadi distrik yang mati. Akhirnya film ditutup dengan pertemuan Hodaka dan Hina setelah 3 tahun dipisahkan karena Hodaka harus menjalani hukumannya untuk menyelesaikan masa pendidikannya. Akhirnya kisah cinta mereka pun menimbulkan konsekuensi besar yang telah mengubah peradaban dunia.

Baca juga:  Confessions: Mengais Sisa Kemanusiaan dari Para Pendendam

 

Karya Epik Makoto Shinkai yang Sayang Dilewatkan

Elemen visual yang diberikan dalam film sangat memanjakan, transisi scene ke scene lain pun sangat terliat begitu halus. Aspek visual dan art yang dihadirkan dalam menunjukkan kekuatan Hina sangatlah epik. Gambar dari pemandangan dan seluk-beluk kota Tokyo terlihat begitu detail dan menawan. Bahkan, saat scene fantasi yang membawa Hodoka pergi menuju pintu langit untuk menyelamatkan Hina, itu juga sangat sukses membuat mata penonton terpukau dengan tampilan visual yang ditayangkan.

Namun bukan itu saja, aspek visual dan art yang sangat baik dan memukau, disajikan dengan elemen suara yang juga tidak kalah mewah di dalam filmnya. Soundtrack yang tepat dan pas di dalam film, sangat menambah kesan dramatis dan membuat kita seketika merinding ketika suara musik terdengar saat menonton filmnya. Contohnya ketika musik dimainkan saat adegan pembuka di akhir voice over Hodoka, dan ketika scene Hina dan Hodoka jatuh berdua dari langit, di situ terlihat perpaduan yang cocok dari segi visual atau pun sound yang sangat tepat sasaran dimasukan dalam adegan yang tersajikan, sangat menambah nilai lebih dari film tersebut.

Gambar: Toho Pictures

Secara keseluruhan, apa yang dihadirkan Makoto Shinkai dalam Weathering With You adalah suatu kemajuan baginya maupun CoMix Wave Films sebagai rumah produksi filmnya. Dari aspek cerita yang menarik dan juga unik, pembagian peran masing-masing karakter yang sesuai dengan porsinya, visualisasi dan art terlihat sangat magis, dan juga elemen suara yang dihadirkan semakin menambah keseruan di dalam film.

Dalam film ini, setiap karakter memang mempunyai peran penting dalam jalannya sebuah cerita. Ini tidak lepas dari kelihaian Shinkai yang berhasil memasukan peran secara proporsional kepada masing-masing karakternya. Terbukti dalam menuju penyelesaian konflik, dari karakter utama hingga karakter pendukung, semuanya ikut andil dalam menentukan klimaksnya sebuah cerita

Walaupun dari segi pengembangan karakter terlihat agak sedikit dipaksakan di awal cerita, namun ketika cerita mulai memasuki bagian klimaks, dapat dilihat, dari masing-masing karakter, entah itu Hodaka dan Hina, Keisuke, Natsumi atau pun Nagi, setiap karakter dapat memberikan efeknya ke dalam akhir cerita yang dikemas dengan begitu baik. Bahkan, karakter pembantu seperti Detektif Takai dan para polisi juga menambah keseruan jalan cerita dari film ini.

Pada akhirnya, film ini adalah tontonan yang menarik untuk disaksikan, berkat hal-hal yang dijelaskan tadi, kita dapat mengetahui bahwa Makoto Shinkai memang tidak pernah terlepas dari keahliannya dalam membuat anime yang mempunyai cerita yang epik dengan visualisasi dan kualitas sound yang juga sebanding dengan cerita yang ditampilkan, sehingga film-film yang dia buat bisa menjadi sangat terkenang di benak penonton. Oleh karena itulah, rasanya akan disayangkan jika kita tidak dapat meluangkan waktu untuk bisa menonton salah satu karya hebat dari Makoto Shinkai ini. Selamat Menyaksikan!

 

Penulis: Fikri R. Alamsyah

Penyunting: M Farobi Afandi

Bagikan:
294