Semesta dari Haruki Murakami kerap menampilkan sisi gelap dari kemanusiaan. Jika kemanusiaan selalu dianggap menceritakan tentang bagaimana cara manusia hidup, maka Murakami dalam semestanya menyediakan sebuah alternatif bagi kemanusiaan.

Yaitu tentang bagaimana manusia mati, dan bagaimana manusia memaknai kematian itu sendiri. Semesta itu terekam dalam novel-novel yang telah diorbitkannya, salah satunya dari karya fenomenal Norwegian Wood yang Murakami terbitkan pada tahun 1987.

Kegelapan Manusia dalam Norwegian Wood

Norwegian Wood singkatnya berkisah tentang Toru Watanabe yang mengingat kepingan masa lalunya saat mendengar alunan lagu Norwegian Wood karya The Beatles melalui radio pesawat yang ditumpanginya saat pergi menuju Jerman. Kepingan kenangan itu membawanya kembali ke dalam sebuah kisah masa remajanya yang kelam dan menyesakkan.

Bercerita tentang Toru Watanabe, seorang mahasiswa yang mempunyai masa lalu kelam tentang kehilangan sahabat karibnya, Kizuki yang mati bunuh diri. Kizuki mempunyai pacar bernama Naoko, yang mana Watanabe, sang protagonis utama juga mempunyai rasa cinta terhadapnya.

Masa lalunya dikelilingi oleh kematian dari orang terdekatnya. Setiap kematian itu membawa Watanabe menjadi pribadi yang menjalani kehidupan tanpa makna. Sahabatnya terdekatnya, Kizuki, mati bunuh diri di umur 17 tahun. Pada saat itu, dirinya hanya tinggal memiliki Naoko, kekasih mendiang Kizuki sekaligus orang yang dicintai Watanabe. Namun karena Watanabe menghargai persahabatan mereka bertiga, ia menahan perasaannya.

Naoko sendiri amat tersakiti dengan kematian Kizuki, yang menyebabkannya mempunyai gangguan mental yang amat dahsyat. Sehingga dirinya harus dirawat oleh sebuah institusi kejiwaan yang disebut Sanatorium. Waktu berlalu, Naoko tiba-tiba bunuh diri di hutan dengan cara menggantungkan dirinya saat musim dingin dan meninggalkan wasiat kepada Watanabe.

Baca juga:  Narasi Alternatif Peristiwa G30S 1965’ melalui Film Senyap dan Jagal

Hidup Watanabe selepas kematian Naoko, orang yang dicintainya itu terus berlanjut walau terus-menerus dikelilingi oleh bayangan kematian orang-orang terdekatnya. Kematian menjadi sebuah hal yang menyakitkan bagi Watanabe. Tapi sisi tersebut tidak bisa ia tolak, karena kematian adalah bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa dihindarinya.

Narasi Kematian yang Kental

Murakami dalam novel ini memberikan sebuah gambaran tentang kematian adalah sesuatu yang nyata. Dan manifestasi dari kematian itu adalah kepedihan maupun kesedihan yang mengisi sisi gelap dari manusia. Dalam Norwegian Wood, eksplorasi tentang kegelapan manusia diawali dengan munculnya rasa kehilangan. Watanabe maupun Naoko, mempunyai gangguan mental yang serius selepas mendapati kematian Kizuki. Keduanya mempunyai luka yang sama, walau pilihan hidup mereka akhirnya berbeda.

Ketika Naoko memilih untuk juga mengakhiri hidupnya menyusul Kizuki, Watanabe memilih untuk tetap hidup walau harus membawa sisi kegelapan yang semakin membesar memenuhi jiwanya.

Narasi kehilangan yang kental sangat lekat dengan Norwegian Wood, setiap karakter dalam novel ini mempunyai rasa kehilangan dan kesakitan yang dirasakan secara berbeda namun dengan rasa sakit yang sama dalam hidupnya. Secara ironis, Murakami seperti menujukkan bahwa sisi kegelapan manusia itu adalah manifestasi dari pilihan hidup manusia.

Sisi kegelapan manusia adalah hal yang nyata dan sangat berperan penting dalam menuntun manusia memilih jalan hidupnya. Kegelapan manusia secara absolut tidak bisa dipisahkan dan bersifat perpetual. Toru Watanabe mendapati hal itu dengan bagaimana ia merasakan kesakitan dan kepedihan terus menerus hingga berlanjut sampai akhir cerita. Kehilangan akan orang terdekatnya sungguh menjadi beban terbesar yang memengaruhi individu Watanabe sebagai manusia.

Paradoks Kehidupan Masa Muda

Dalam Norwegian Wood, di sini kita akan menemukan gairah masa muda yang bukan lagi digambarkan dengan hal yang berkaitan seperti iringan kebahagiaan atau idealisme pergerakkan. Masa muda yang dijalani oleh karakter di Norwegian Wood hampir seluruhnya dipenuhi dengan kepedihan dan luka yang mendalam. Setiap karakter mempunyai kegelapannya masing-masing yang dipengaruhi oleh masa lalunya.

Baca juga:  Film Jagal (2012): Sebuah Misteri Tak Terpecahkan.

Norwegian Wood memberikan sebuah gambaran yang berbeda tentang kehidupan masa muda yang ideal. Masa muda dinarasikan dengan begitu kelam, masa muda bukan lagi tempat untuk saling menyebar tawa dan kebahagiaan. Paradoks seperti itu ditawarkan Murakami yang seakan memberikan peringatan bahwa memang masa muda tidak melulu soal kebahagiaan, melainkan lebih dari itu, masa muda juga bisa menjadi bagian kegelapan manusia, seperti kepedihan atau pun kesakitan karena perasaan kehilangan, yang dihasilkan dari kehidupan yang telah dilalui oleh setiap manusia.

Dalam review Norwegian Wood kali ini, pada akhirnya Haruki Murakami dengan sangat apik menarasikan sebuah pengalaman alternatif tentang bagaimana memaknai kemanusiaan secara fundamental. Yang tentunya bukan hanya sekadar bercerita tentang terang dan manisnya kehidupan manusia saja. Namun novel ini juga memberikan sebuah sisi gelap dan kemuraman dari manusia dengan narasi alegoris yang akan meyakinkan kita bahwa: kegelapan manusia adalah sisi yang tidak bisa dipisahkan, dan tentu sudah menjadi kepastian untuk tetap bersama manusia hingga akhir hayatnya.

Bagikan:
96