Judul: Manusia Indonesia

Penulis: Mochtar Lubis

Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Tahun Terbit: Cetakan kelima, 2012

Tebal Halaman: 140 halaman

 

Jakarta, Parmagz — Waktu saya masih menjalankan perkuliahan di semester satu, dosen mata kuliah Pengantar Pemikiran Nurcholish Madjid saya pernah menyampaikan bahwa Indonesia masih bingung untuk mencari rasa filsafatnya. Tidak seperti negara-negara di Barat atau Asia Timur yang ‘filsafat kebangsaan’ nya sudah kerasa betul dengan pikiran dan tindakan mereka sebagai sebuah bangsa dan negara.

Kemudian, dosen saya menyampaikan bahwa kalangan akademisi yang gencar mencari apa itu ‘filsafat Indonesia’ juga belum mampu menemukan inti dari nilai filsafat yang cocok untuk orang-orang Indonesia. Mereka kebingungan mencari dari sisi historis Indonesia atau pun dari sisi Indonesia sebagai negara gugus kepulauan yang terpisah oleh rangkaian lautan. Akibatnya, setiap daerah mempunyai etnis dengan karakter yang berbeda-beda sehingga membuat perbedaan itu belum menemukan titik tengah agar ‘filsafat Indonesia’ dapat menjadi sebuah magnum opus bagi bangsa ini.

Buku Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis yang berawal dari pidato kebudayaannya 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki yang kemudian dibukukan, pertama kali dirilis pada tahun 2001. Buku ini pun bisa dikatakan memberikan sedikit pencerahan atas pertanyaan-pertanyaan terkait dengan ‘filsafat Indonesia’. Walau tentunya belum bisa dikatakan dapat mendekati kaidah perumusan ‘filsafat Indonesia’ karena masih cenderung dengan pemikiran subjektif yang bisa dibilang lebih dominan.

Dalam buku ini, Mochtar Lubis mengklasifikasikan sifat manusia Indonesia menjadi enam sifat. Pertama, munafik atau hipokrit. Kedua, enggan dan segan bertanggung jawab. Ketiga, bersikap dan berperilaku feodal. Keempat, percaya takhayul. Kelima artistik. Dan terakhir, lemah watak atau pun karakternya.

Tidak bisa dipungkiri, terkadang saya tertawa atau bahkan membenarkan keenam karakter tersebut yang bisa dibilang cukup relevan berdasarkan pengalaman saya dengan sifat kebanyakan manusia Indonesia di masa kini yang sering saya temui. Meskipun isi buku ini sudah bertahun-tahun yang lalu Mochtar ungkapkan, tapi rasanya sifat manusia Indonesia tidak juga berubah, malahan semakin nyata dengan apa yang Mochtar tuliskan.

Berikut saya paparkan keenam sifat manusia Indonesia tersebut:

1. Munafik atau Hipokrit

Sifat pertama ini Mochtar ungkapkan dari sisi historis Indonesia sebagai negara bekas jajahan dari negara-negara Eropa selama berabad-abad. Penjajahan mereka membawa berbagai macam sifat kolonial dengan karakter yang menunjukkan kekuatan dominan mereka, sehingga menekan karakter bangsa kita yang akhirnya membentuk jiwa-jiwa kemunafikan atas perlakuan penjajahan yang mereka lakukan.

Pada dasarnya, apa yang bangsa kita lakukan itu selalu terkait dengan adanya paksaan dari orang lain di saat melakukan sesuatu. Seperti dengan hal keagamaan, kenegaraan, dan kehidupan sehari-hari manusia Indonesia yang suka bermuka dua. Satu muka baik yang secara khusus untuk diperlihatkan kepada orang lain, padahal muka satunya justru berkebalikan dengan yang diperlihatkan orang lain.

Laki-laki kelahiran Padang, 7 Maret 1922 ini menyebut kemunafikan yang terdapat dalam diri manusia Indonesia sebetulnya ada jauh sebelum dijajah oleh bangsa asing. Yakni ketika feodalisme Indonesia merajalela di negeri ini. Dengan kemunafikan yang disebutkan oleh Mochtar ini, manusia Indonesia menjadi manusia yang bisa dikatakan dapat membunuh jiwa kemanusiaan secara individual.

“Sikap kemunafikan yang sudah ditanam ke dalam diri manusia Indonesia ini oleh manusia Indonesia lainnya yang lebih berkuasa dan menindas serta memeras, merampas dan memperkosa kemanusiaan mereka”. Hal 20.

2. Tidak Bertanggung Jawab

Kalian pasti sudah gak asing lagi pastinya dengan sifat kedua ini. Entah kamu yang jadi korban atas ketidakbertanggungjawaban orang lain atau kamu yang jadi tersangka karena melakukan salah satu sifat manusia Indonesia yang diungkapkan oleh laki-laki berzodiak Aries ini.

“Bukan saya” menjadi kata yang sering dikatakan oleh mulut manusia Indonesia. Mereka dengan cekatan untuk melakukan pembelaan diri dengan melempar tanggung jawab yang dimiliknya begitu saja. Bisa dilihat di lingkup ruang kerja ketika seseorang mempunyai tugas namun tugas itu tidak bisa ia lakukan dengan baik, sehingga membiarkan tugas tersebut menjadi terbengkalai dan bersikap bodo amat.

Bisa juga dilihat dari perlakuan menggelitik pejabat-pejabat yang terkena kasus korupsi di Indonesia. Terlepas mereka telah tertangkap dan telah terbukti melakukan tindakkan korupsi, ironisnya mereka masih aja bermain petak umpet dan malah mudah sekali menebar senyuman  ketika memakai rompi oranye khas tahanan KPK. Tak merasa bersalah dan seakan urat malunya belum putus, membuat lari dari tanggung jawab bukanlah suatu hal yang harus dibebani.

3. Jiwa Feodal

Definisi feodal menurut KBBI yakni berhubungan dengan susunan masyarakat yang dikuasai oleh kaum bangsawan. Sederhananya, feodal memang khas disematkan oleh sejarawan dengan struktur sistem politik di Eropa pada abad pertengahan oleh kaum bangsawan sebagai penguasa pemerintahan monarki.

Padahal salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia pada saat masa penjajahan ialah membebaskan manusia Indonesia dari belenggu feodalisme. Sayangnya, saat ini feodalisme justru bermunculan dan akhirnya bisa dibilang sebagai “feodal kekinian”. Kekhasan dari jiwa feodal masa kini ialah sikap dari para pejabat pemerintahan yang mengambil keuntungan dari hubungan kekerabatan atau relasi kenalan untuk bisa menggapai posisi yang diinginkan di struktrur pemerintahan. Hal ini menimbulkan pemilihan untuk posisi yang dikerjakan bukan lagi melihat pada aspek kecakapan, kepemimpinan maupun pengetahuan atau pengalamannya. Akhirnya jiwa feodal pun justru hidup berkembang dengan subur di kalangan atas maupun di kalangan bawah.

Contoh nyatanya adalah kasus dinasti politik Ratu Atut di mana jabatan strategis diduduki oleh keluarganya, dimulai dari anak pertama dan kedua, adik kandung, adik ipar, adik tiri, dan menantu Atut.  Dinasti politik keluarga ini berujung pada kasus tindakan korupsi yang merugikan negara sebesar Rp 79 miliar.

4. Percaya Takhayul

Sifat ini sih yang pasti gak bisa lepas dari manusia Indonesia, mengingat kebudayaan dan tradisi kita secara historis memang menganut pada kepercayaan animisme (roh nenek moyang) dan dinamisme (benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan ghaib). Baik dulu maupun sekarang, masih ada manusia Indonesia yang mempercayai bahwa keris, pisau, batu, sungai, pantai, patung, dan pedang mempunyai kekuatan ghaib yang dianggap sakral.

Mochtar juga menjelaskan bahwa manusia Indonesia mempunyai pola reaksi semantic habits, di mana makna kata-kata yang menjadi simbolik tanpa adanya tindakan yang mencerminkan dari kata-kata tersebut. Mochtar memberi contoh perihal Pancasila yang mengandung makna luhur, tetapi sayangnya menjadi ideologi yang hampa tanpa adanya sikap realisasi dari bangsa Indonesia sendiri.

5. Artistik

Manusia Indonesia yang sikapnya memasang roh, sukma, jiwa, tuah dan kekuasaan pada benda maupun alam di sekelilingnya, membuat manusia Indonesia menjadi kaum ‘perasa’ yang unggul. Ketajaman naluri rasa ini membuat manusia Indonesia mampu mengembangkan daya artistic dalam dirinya, yang dapat dituangkan ke dalam banyak karya-karya yang dapat diciptakan. Seperti kerajinan tangan, batik, tenun, patung-patung, dan ukiran. Ciptaan artistik ini cukup banyak memboyong nama Indonesia ke kancah dunia. Banyak kebudayaan Indonesia yang diakui oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau UNESCO yang mengatakan bahwa Indonesia menjadi negara super power di bidang budayanya.

Bagi Mochtar, ciri artistik manusia Indonesia ini yang paling menarik dan memesona. Ciri ini pun juga merupakan sumber dan tumpuan harapan untuk Indonesia ke depannya, baik secara perekonomian maupun secara aspek politiknya.

6. Karakter yang Lemah

Sifat ini menurut Mochtar terkait dengan sikap manusia Indonesia yang kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keinginannya. Mudah plin-plan dan gampang goyah  jika ada paksaan dari luar demi menyelamatkan dirinya sendiri.

Laki-laki yang pernah di penjara selama sembilan tahun saat pemerintahan Bung Karno ini memberikan contoh lewat salah satu The Founding Fathers kemerdekaan bangsa Indonesia, yaitu Soekarno.  Dulu, Soekarno menganggap inflasi itu baik asal demi terjadinya perubahan di Indonesia. Namun sialnya, laju inflasi itu malah mencapai 650 persen setahun dan membuat rakyat porak-poranda melihat negara di ujung tanduk kebangkrutan.

Karakter lemah atau mudah goyah ini juga bisa sering dilihat pada lingkup organisasi atau ruang diskusi yang membahas sesuatu topik yang sedang hangat. Padahal pada ruang diskusi atau musyawarah saling bertukar pendapat itu diperlukan agar tidak terjadinya diskriminasi terhadap suara-suara yang tak terdengar. Sayangnya, kebungkaman suara itu lebih unggul sebab malu dan takut salah menjadi karakter manusia Indonesia yang dibangun oleh sistem pendidikan kita.

“Salah satu kelemahan kita, menurut penglihatan saya ialah kita tidak berdaya melakukan pilihan, semuanya kita terima, dan kita biarkan hidup bersama, tanpa menganggu jiwa kita.” Hal 8.

Itulah enam sifat manusia Indonesia menurut laki-laki yang juga bekerja sebagai seorang jurnalis ini. Buku ini tidak lain berusaha untuk menampar sifat-sifat manusia Indonesia sekaligus menyampaikan apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya. Seperti kata Socrates “Mengetahui diri sendiri ialah permulaan dari segala kebijaksanaan”. Dan bisa mengetahui bahkan menerima diri sendiri itu butuh waktu loh.

Dosen saya pernah bilang kalau hal yang paling sulit itu untuk lihat ke dalam diri, sadar apa yang kita lakukan dan menyalahkan diri sendiri untuk tindakan positif ke depannya. Berani membangun sebuah self-criticism dan berhenti untuk menyalahkan orang lain atau entitas luar diri kita.

Indonesia sebagai negara dengan populasi umat Muslim terbesar di dunia dan sebagai agama dengan pemeluk terbanyak di negeri ini harusnya bisa menjadi pion lentera untuk kemajuan bangsa ke arah yang lebih baik. Seperti firman Allah SWT dalam Alquran surah 13 (Ar-Rad) ayat 11, yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka”.

Potongan ayat suci tersebut harusnya bukan hanya dipelajari saat kajian-kajian, tapi ayat yang sarat akan makna tersebut harus bisa diimplementakan ke dalam kehidupan yang kita yakini bahwa Indonesia optimis bisa maju di masa mendatang.

Tunggu apa lagi? Ada sekitar hampir 300 juta orang di Indonesia, yang jelas kalau kita mau membuat Indonesia bisa lebih maju dan dapat bersaing di panggung dunia, tentunya gak bisa hanya sekadar dari memenangkan Calon Presiden yang kamu dukung. Bukan juga cuma ngeluh karena hidup serasa gak adil menurut kamu. Karena arah perubahan bukan persoalan siapa yang memimpin tapi juga dari perubahan pola pikir dan tindakan setiap individunya pada arah kemajuan bangsa dan negara. Kalau bukan mulai dari diri sendiri, siapa lagi?

 

Penulis: Nurma Syelin

Editor: Pikri Alamsyah

Bagikan:
129