Jakarta, Parmagz – Waktu itu, saya pergi menuju rumah teman, untuk sekadar bersilaturahmi, sembari ngopi dan berbincang tentang kehidupan kami yang tengah menjadi seorang mahasiswa. Setelah sampai di rumahnya, saya mendapati ia mempunyai novel Sang Alkemis edisi cetakan yang terbaru. Saya yang ngebet karena melihat novel itu pun langsung meminjamnya saat itu juga dan berniat membaca dikeesokan harinya sambil menemani libur semester yang cukup panjang. Buku yang ditulis oleh Paulo Coelho ini berhasil saya baca dikeesokan harinya dan berhasil saya lahap dalam waktu satu hari saja.

Novel ini sangat menarik, karena menampilkan cerita yang sederhana nan penuh makna. Dalam pemahaman saya sendiri, novel ini memberikan narasi motivasi dengan gaya yang berbeda, tidak seperti buku-buku motivator yang dipenuhi doktrin normatif yang membosankan. Hampir setiap narasi yang dibangun Paulo Coelho ke dalam karyanya ini, mempunyai pesan untuk selalu percaya kepada diri sendiri dalam hal mengejar sebuah mimpi. Terlihat ketika banyak peristiwa yang menimpa Santiago — tokoh utama dari novel tersebut —isi dari cerita dan makna utama novelnya  selalu memberikan pesan-pesan spiritual yang bisa menggugah jiwa pembacanya.

Singkatnya, novel ini menceritakan tentang Santiago— seorang penggembala domba yang mengejar takdirnya untuk mendapatkan harta karun di antara Piramida-Piramida Mesir. Tentu sepak terjang dalam mengejar takdirnya, Santiago harus melewati berbagai konflik. Dari ia harus kehilangan hartanya, terbuang di negeri Mesir hingga harus menjadi penjual kristal untuk menyelamatkan dirinya agar tetap bisa bertahan hidup di sana.

Perasaan pesimis sempat melanda Santiago, dirinya lekas berpikir untuk kembali pulang ke Spanyol dan melupakan takdirnya itu. Tapi, Santiago akhirnya tetap mengejar takdirnya untuk menembus padang pasir bersama dengan kawanan karavan yang membantunya untuk sampai ke takdirnya itu. Maktub! Demikian novel itu selalu mengulang kata tersebut yang berarti Telah Tertulis.

Memang benar, takdir Santiago telah tertulis, ia tidak hanya mendapatkan harta karun duniawinya yang fana itu setelah melewati perjalanan yang berlika-liku dan penuh dengan kelelahan. Tapi selama petualangannya berkelana melewati padang pasir nan tandus, ia menemukan harta yang lebih berharga lagi yang nyatanya bukanlah sebongkah emas, melainkan; harta yang sebenarnya terletak pada dirinya sendiri — yaitu hatinya. Hatinya adalah sebuah harta yang membawanya menuju perjalanan spiritual yang menjadikannya pribadi yang luar biasa.

“Di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada.” — Sang Alkemis.

Takdir Sebagai Sesuatu yang Maktub

Berbicara tentang takdir, tentunya sebagai seorang muslim saya harus mempercayai bahwa takdir itu memang ada. Seperti yang tertera dalam rukun iman yang keenam, percaya kepada qadha dan qadar. Takdir harus kita percayai, karena ia sesuatu yang telah terjadi dulu, sekarang dan yang akan datang, telah tertulis dalam takdir Tuhan. Maktub! Sekali lagi novel itu mengatakan.

Menurut Nurcholish Madjid, dalam bukunya yang berjudul Pintu-Pintu Menuju Tuhan (1994), dia menjelaskan bahwa takdir adalah hukum ketetapan Tuhan dan juga bagian integral dari beriman kepada-Nya. Adakalanya takdir tidak dapat dilawan oleh manusia, walaupun terkadang kita memiliki segudang pilar rencana. Tapi, manusia sebagai ciptaan-Nya kadang kala harus tunduk kepada takdir serta pasrah dan percaya kepada sang Maha Kuasa.

Demikianlah novel tersebut juga menuliskan hal yang senada tentang takdir.

“Dan kepastian yang ajaib bahwa segala yang ada di langit dan di bumi telah dituliskan oleh Tangan Yang Esa.”

Dalam Islam, takdir dibagi menjadi dua; yang pertama adalah Qada’ (Takdir baik) dan yang kedua adalah Qadar (Takdir buruk). Kedua takdir tersebut akan kita dapati, mau yang baik ataupun yang buruk. Tapi walaupun demikian, sebagai seorang Muslim — dan sebagai seorang manusia yang percaya akan entitas Tuhan. Kita dianjurkan untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah kita jalani dalam kehidupan yang telah kita lalui selama ini.

Tuhan memberikan takdir yang baik agar kita selalu mensyukuri nikmat-Nya. Dan Dia memberikan takdir yang buruk agar kita selalu ingat kepada-Nya. Ia menjadi sebuah guru pembelajaran untuk manusia, bahwa sesuatu yang baik akan kita pelajari jika mengambil pelajaran penting dari takdir buruk yang menimpa kita.

Takdir pun tentunya ada yang tidak bisa diubah, dan ada juga takdir yang bisa diubah. Dalam hal ini, takdir yang tidak bisa diubah dan sudah pasti, disebut; Takdir Mubram. Sedangkan untuk takdir yang bisa diubah, disebut; Takdir Muallaq.

Takdir Mubram yang akan terjadi dalam kehidupan manusia adalah kematian. Kematian adalah kepastian yang akan kita dapati, karena sejatinya semua manusia pasti akan mati. Dan kematian bukanlah sesuatu yang bisa di cegat dalam siklus kehidupan.

Sedangkan Takdir Muallaq adalah takdir yang bisa diubah, seperti kehidupan yang kita jalani akan seperti apa ke depannya, apakah kita bisa meraih kesuksesan yang diimpikan, itu tergantung dari cara kita berkonsisten terhadap apa yang berusaha kita gapai dalam hidup.  Maka takdir kita adalah menggapai impian-impian itu. Dan jika kita bersungguh-sungguh menggapai impian itu, maka Tuhan pun akan membantu kita meraihnya.

Sehingga kita bisa merubah takdir kita yakni menjadi seseorang yang kita inginkan serta meraih hal-hal yang kita ingin gapai dalam laras kehidupan.

Begitu pula dalam novel ini, Santiago tadinya hanyalah seorang anak gembala yang suka berkelana dengan domba-dombanya. Namun karena ia bersikukuh menjalani takdirnya yaitu menggapai harta karun sebagai impiannya, ia meninggalkan segalanya, kehidupan bebasnya, domba-dombanya, bahkan gadis yang dicintainya.

Tapi dengan kepercayaan kepada suara hatinya, ia berhasil menggapai takdirnya itu, walau rintangan sempat menyekat dirinya menuju takdirnya, Santiago dapat melaluinya sebab dalam perjalanan spiritualnya, ia bertemu dengan beberapa tokoh memberinya petuah yang membuatnya menjadi lebih percaya diri terhadap takdirnya.

Raja Salem berkata kepadanya sebelum ia pergi meninggalkan Spanyol menuju Mesir, “Dan saat engkau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, maka seisi jagat raya akan bahu-membahu membantumu untuk meraihnya.” Dan memang benar, selama ia berjalan menyusuri padang pasir yang luas dan hampa, jagat raya membantunya dengan mengirim pertanda-pertanda yang membawanya menuju harta karunnya itu.

Santiago dan Takdir yang Ia Dapatkan

“Takdir adalah segala apa yang selalu ingin kau capai.”

Begitulah kata Sang Alkemis kepada Santiago. Berkat Sang Alkemis yang bijak, Raja Salem yang teguh, serta Fatima — kekasih Santiago yang berasal dari oasis, tempat Santiago beristirahat saat menempuh perjalanan— yang menunggunya pulang selepas mencari harta karun itu, juga tidak lupa peran sentral para tokoh lainnya yang mengubah jati diri seorang Santiago.

Pada akhirnya, ia pun mencapai takdirnya yang ia cari selama ini. Dan seperti yang saya tuliskan di awal, bukah hanya sebongkah emas yang ia dapatkan, tetapi harta karun yang berada di dalam dirinya juga lah, yang berhasil ia temukan, yaitu hatinya.

 

Penulis: Pikri R. Alamsyah

Editor: Nurma Syelin

Bagikan:
142