Meski dalam beberapa hari terakhir ulasan film satu ini bersliweran di linimasa Facebook dan Twitter saya, namun saya memiliki pegangan bahwa tak akan membaca ulasan film sebelum menontonnya. Jika bagus biar puas sekalian, jika tidak bagus biar sempurna umpatan saya. Ha ha.

Ketika saya akan menonton film ini, salah satu kawan yang telah menonton berpesan, “jangan terlalu berekspektasi tinggi, ya.. Filmnya biasa saja,”

Namun setelah menonton, saya punya pendapat berbeda dari kawan saya. Film Istirahatlah Kata-Kata yang ini adalah sepenggal kisah dari seorang penyair yang ditakuti Suharto dan Orde Barunya. Meski tubuhnya kerempeng, selain penyair ia juga adalah salah satu seorang buruh demonstran pada masanya. Tak ayal jika nyawanya jadi incaran kekejaman rezim Orde Baru.

“Orde Baru itu brengsek, tapi takut sama kata-kata,” ujar Wiji pada salah satu adegan film ini.

Nama lahirnya Wiji Widodo, asli Solo. Setelah bergabung dengan Teater Jagat, baru kemudian ia memperoleh nama populer dari kawan-kawannya, yaitu Wiji Thukul yang berarti ‘biji yang tumbuh’.

Salah satu ungkapan Wiji yang sampai saat ini masih populer adalah kata: Lawan! Kata itu berasal dari pungkasan salah satu puisi Wiji yang amat populer berjudul “Peringatan”. Puisi itu menggambarkan kekejian diri penguasa Orde Baru dengan gamblang dan terang.

Tetapi apa yang saya paparkan di atas tentang Wiji Thukul dengan segala usahanya melawan Orde Baru, tidaklah diceritakan dalam film ini. Tidak ada di salah satu bagian film yang menunjukkan Wiji sedang memimpin demo buruh, tak ada juga di sana Wiji dengan gagahnya membacakan puisi di panggung-panggung mengkritik penguasa. Tidak, tidak ada dan tidak akan kita temukan di film ini.

Film Istirahatlah Kata-Kata garapan Yosep Anggi Noen ini bercerita tentang sepenggal kesunyian hidup Wiji ketika menjadi buronan politik Orde Baru. Dari awal hingga akhir cerita, yang ditunjukkan oleh film ini adalah Wiji sebagai manusia biasa, sebagai suami, dan sebagai bapak bagi dua anaknya. Tekanan mental yang disajikan di film ini, seperti menjadi buronan, amat apik ditayangkan. Lalu rasa takut akan kejaran tentara, intel dan antek Orde Baru lainnya, mewarnai kesunyian film ini.

Bagi saya yang gemar menonton film sunyi tanpa kegaduhan-kegaduhan adegan lainnya, memainkan dialog, ekspresi serta perasaan, Istirahatlah Kata-Kata adalah sebuah kemewahan. Berlatar tahun 1996, dua tahun sebelum Suharto jatuh, film ini sekali lagi dengan apik menampilkan tekanan jiwa Wiji ketika jadi buron dan harus melarikan diri, mencari aman ke Pontianak. Banyak sekali adegan yang menggambarkan gelap, sunyi dan kesendirian Wiji dalam pelarian.

Gunawan Maryanto, pemeran Widji Thukul. (Foto: jurnalfootage.net)

Gunawan Maryanto, pemeran Wiji Thukul. (Foto: jurnalfootage.net)

Gunawan Maryanto dengan sepenuh hati menjiwai betul perannya sebagai Wiji Thukul, seorang penyair yang menginspirasinya, yang pernah ia temui sekali saja seumur hidupnya, Gunawan dengan epik menirukan kecadelan Wiji yang tak bisa mengucap huruf  “r”. Begitu juga dengan Marissa Anita, dengan logat jawa yang lancar dan akting yang mumpuni, dia berhasil mengimbangi akting Gunawan sebagai istri Wiji, Sipon. Saya suka cara mereka berdua mengumpat dengan bahasa jawa yang paripurna.

Saya amat tersentuh ketika harus ikut masuk ke dalam perasaan Wiji sebagai buronan politik Orde Baru, seperti dalam tekanan, keterasingan, ketakutan dan kesunyian. Wiji sebagai buronan politik Orde Baru, dalam tekanan, dalam keterasingan, dalam ketakutan dan dalam kesunyian.

Wiji saat itu diharuskan mengambil jalan sunyi yang harus ia tempuh sendiri. Sebuah rezim busuk karena saking lamanya berkuasa, dengan mudah begitu saja melenyapkan nyawa seorang pejuang seperti Wiji. Yang paling membuat saya geram adalah Wiji bukan satu-satunya yang menjadi buronan, dan kemudian, hanya selang sebulan sebelum reformasi 98, dihilangkan oleh rezim penguasa. Dan hingga saat ini belum bisa ditemukan jasadnya.

Sipon, istri Wiji, berperan penting dalam film ini. Bagaimana ketika ditinggal Wiji ia harus menghidupi kedua anaknya, Fitri dan Fajar. Hampir setiap hari rumahnya didatangi intel ataupun tentara, mengintrogasi, menyita buku atau apa saja yang dianggap mereka berbahaya. Menghadapi pelecehan verbal tetangga lelaki yang dialamatkan padanya. Dengan semua perlakuan tersebut yang ia dapatkan, Sipon tetap tegar.

Terdapat satu kekurangan dalam film ini yang saya rasakan, yaitu terletak pada skenario. Seharusnya film ini dapat merancang sebuah dialog dengan dahsyat dan kuat. Namun demikian, kekurangan tersebut diimbangi dengan kutipan-kutipan puisi Wiji yang turut mewarnai dalam film ini. Salah satunya seperti kutipan berikut,

“Rumahku digeledah, buku-bukuku dirampas tapi aku berterima kasih karena kalian mengajarkan anak-anakku kewaspadaan dan makna penindasan sejak kecil.”

Salah satu hal yang membuat saya suka pada sebuah film adalah film yang berakhir saat saya masih ingin menontonnya. Dialog emosional antara Wiji dan Sipon di akhir cerita, sukses membuat saya ingin terus-menerus mengikuti kisahnya.

“Aku ngga mau kamu pergi, tapi aku juga ngga mau kamu pulang, aku cuma mau kamu ada,” ucap Sipon pada Wiji di akhir cerita dengan bahasa Jawa. (mfa)

 

Judul Film: Istirahatlah Kata-kata
Produser: Yosep Anggi Noen, Yulia Evina Bhara, Tunggal Pawestri, Okky Madasari
Sutradara & Penulis Naskah: Yosep Anggi Noen
Produksi: Muara Foundation, Kawan Kawan Film, Partisipasi Indonesia, Limaenam Films.

Bagikan:
588