Jika mendengar atau membaca kata “PKI”, Mungkin tak asing dalam pendengaran kita. Kemungkinan kata tersebut akan merujuk pada sebuah memori kelam perihal sebuah kejadian sejarah kelam terkait pada peristiwa G30S. Seketika kita juga teringat dengan film yang berdurasi 3 jam lebih, yang menceritakan pembunuhan terhadap 7 Perwira. Namun setelah peristiwa tersebut ada gerakan untuk memberantas PKI yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Dengan dalih aksi rakyat memberantas untuk membasmi PKI. Namun, apakah semua itu benar adanya? Apakah yang mereka basmi benar seorang PKI atau Gerwani? Apakah benar orang yang mereka basmi tidak memiliki “agama”? itu yang muncul pada benak saya selama ini.

55 tahun telah berlalu. Semua kejadian yang berkaitan terhadap PKI telah di hilangkan. Namun, bagaimana dengan nasib keluarga korban dari kekejaman aksi pembasmian tersebut? Apakah mereka menerima ini semua dengan ikhlas ? Jawabannya sudah pasti tidak. Bagaimana mereka para keluarga korban hasil dari keganasan pembantaian massal ini menerima kejadian ini. Karena tidak adanya kejelasan akan hal tersebut. Keluarga mereka dibunuh dengan cara sadis akibat di tuduh sebagai seorang PKI atau Gerwani. Dan apakah mereka ikhlas jika tahu bahwa orang yang membunuh keluarganya sampai saat ini masih berkuasa? Bahkan sang pembunuh hidup berbarengan bersama mereka.

Di dalam film yang berjudul “Senyap” karya sutradara Joshua Oppenheimer, bercerita tentang kilas balik peristiwa penumpasan para anggota PKI maupun yang diduga terlibat dengan partai tersebut. kisah itu bermula dari seorang narasumber seorang adik dari korban kejadiaan naas tersebut dan juga dari penuturan saksi hidup yaitu ibu korban (Ramly)  bagaimana ia melihat  proses penjemputan paksa anaknya dengan kondisi terluka parah untuk dieksekusi oleh warga yang telah menerima perintah dari oknum “tentara” untuk melakukan operasi “sapu bersih” terduga terlibat dengan PKI. Bukan hanya ramli melainkan banyak dari mereka yang hidupnya berakhir tragis di tangan dingin para algojo. Di film ini diceritakan banyak dari kaum pendukung presiden Soekarno seperti kaum buruh, petani, dan cendekiawan yang menjadi korban pembantaian karena dituduh terlibat dengan PKI yang dianggap sebagai sebuah ancaman pada masa itu..

Baca juga:  Narasi Alternatif Peristiwa G30S 1965’ melalui Film Senyap dan Jagal

Di film ini narasumber juga mendatangi para aktor utama dibalik pertiswa pembantaian sadis tersebut. yaitu mereka yang melakukan eksekusi terhadap abangnya untuk menceritakan ulang bagaimana mereka membasmi dan memperlakukan abangnya serta orang – orang yang dituduh simpatisan PKI. Dan mereka pun bercerita dengan watak tidak merasa bersalah karena mereka berfikir bahwa melakukan hal ini merupakan tindakan patriot bagi bangsa ini. Mereka menceritakan tindakan penumpasan yang dilakukan para pembunuh terhadap korbannya dengan disiksa secara sadis seperti dicekik, ditusuk, dilempar batu, bahkan di tahan tanpa diberi makan sampai mereka akhirnya meregang nyawa. Yang lebih sadis sampai diminum darah yang mereka bunuh. Dan selama kurang lebih 3 bulan lebih mereka melakukan “penumpasan” yang sebenarnya hanya propaganda hitam yang dilakukan oleh “oknum tentara yang dipimpin oleh Soeharto” dengan dalih memulihkan stabilitas dan kemanan Negara hingga menyebabkan hilangnya jutaan nyawa rakyat yang belum terbukti bersalah secara hukum.

Banyak Korban dari Kelas Bawah

Dari film ini dapat disimpulkan bahwa banyak korban selain 7 perwira TNI yang mati akibat ulah PKI yaitu mereka yang menjadi korban penumpasan. Mereka yang mati tanpa melewati proses hukum yang jelas, dengan tuduhan terlibat sebagai anggota PKI padahal jika dilihat dari faktanya banyak kaum buruh dan petani yang mayoritas tidak bersekolah dan tidak pandai membaca. Juga anak – anak turut menjadi korban tuduhan tersebut, padahal belum ada proses hukum yang dilakukan namun mereka harus mati secara mengerikan akibat disiksa oleh aparat penegak hukum dan organisasi masyarakat.

Setelah menyaksikan film senyap mungkin Sepatutnya kita manusia yang diberikan akal sehat oleh Tuhan Yang Maha Esa dapat berpikir lebih kritis dan logis dalam menilai sebuah peristiwa agar tidak menjadi korban propaganda mengerikan sehingga mampu berbuat perlakuan keji terhadap sesame manusia dengan merasa tidak berdosa sama sekali. Karena apa bedanya mereka yang membunuh 7 perwira dengan mereka yang menyiksa orang yang masih belum jelas statusnya apakah benar – benar bersalah atau hanya diduga bersalah tanpa bukti yang jelas malah dibunuh dengan cara tragis. Semoga amal ibadah para 7 perwira TNI dan para korban yang tak terungkap kejelasannya diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dan kita sebagai manusia belajar dari peristiwa ini untuk selalu mencari kejelasan terhadap suatu masalah. (mng/eep)

Baca juga:  Film Jagal (2012): Sebuah Misteri Tak Terpecahkan.

Penulis: Muhammad Noorghazali

Editor: Eep Larassandi

Bagikan:
114