Jika bercerita tentang G30S, sepertinya banyak pertanyaan yang akan muncul dalam benak kita, apakah ratusan ribu atau jutaan manusia pantas dibunuh? Apakah tidak ada cara lain untuk menyeselesaikan masalah yang ada? Jika seseorang bertanya kepada saya, apa pendapat saya setelah menonton film G30S/PKI? Jawaban saya “ Mereka patut dibunuh. Jika tidak, maka kematian tujuh perwira akan menjadi sia-sia. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan, nyawa dibalas nyawa” Tentu saja jawaban ini terpengaruh kuat oleh pesan yang disampaikan film tersebut. Mereka adalah musuh bersama.

Tetapi setelah menonton film Jagal, pemikiran saya menjadi berbeda. Terdapat pesan yang sangat kuat di dalam film ini. Kita bisa melihat ada dua gambaran yang saling bertolak belakang, namun berjalan secara keseluruhan.

Di dalam film ini, ada upaya mengusik kenyataan yang selama ini dianggap kebenaran. Tindakan membunuh atau dibunuh, keadilan atau kejahatan, semuanya diperjelas kembali untuk diperiksa lebih lanjut. Hal ini membuat saya bertanya-tanya “Siapa sebenarnya yang mendalangi G30S, apakah PKI, Soekarno, Soeharto atau yang lain?” Tentu saja pandangan dan kesimpulan saya menjadi berbeda setelah melakukan komparasi terhadap kedua film tersebut.

Saya merasa bahwa kematian ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang itu bukanlah hal yang wajar, mereka semua adalah manusia yang mempunyai hak untuk hidup. Mereka memiliki impian, memiliki harapan dan mereka juga memiliki keluarga, tetapi dengan mudahnya pemerintah pada saat itu merampas hak-hak mereka.

Sangat tidak wajar jika membebankan tanggung jawab kematian tujuh perwira kepada jutaan nyawa, yang barangkali banyak diantara mereka buta terhadap situasi yang terjadi. Tidak tahu pasti kenapa dan bagaimana mereka bisa terlibat.

Kedua film ini membuat garis yang sumir tentang keadilan, kemanusiaan, dan banyak hal lainnya. Mengutip adegan pernyataan dari Anwar Congo, yang menceritakan bahwa pada tahun 1965 adalah seorang yang mencari sesuap nasi sebagai tukang catut karcis bioskop. Anwar membenci anggota PKI pada waktu itu karena anggota PKI melakukan kampanye anti film barat. Jelas sekali bahwa kampanye ini sangat merugikan Anawar karena menyebabkan penghasilannya berkurang.

Baca juga:  Film Senyap (2014): Korban Tak Terungkap Dibalik Peristiwa ‘65

Atas dasar kebencian itulah pada saat huru-hara 1965 pasca G30S berlangsung, Anwar menjadi anggota pembunuh. Alasan yang sangat terpusat demi kepentingan personal. Alasan bagi saya yang sangat menjengkelkan karena minim empati terhadap para pesakitan yang juga sesame manusia. Perannya sebagai algojo dalam pasukan pembunuh telah mengizinkan Anwar membunuh ratusan orang dengan tangannya sendiri.

Dia dengan bangganya menceritakan bagaimana cara dia membunuh para korban yang dituduh anggota PKI agar tidak mengeluarkan banyak darah, sehingga tidak repot untuk membersihkan darah yang berserakan. Sebagai orang yang mempunyai pikiran dan pendapat, saya melihat bahwa itu sangat tidak manusiawi. Pantaskah Anwar mendapatkan izin untuk melakukan semua itu? Adilkah jika kerugiannya akibat kampanye anti film barat ia balaskan dengan melakukan ratusan pembunuhan?

Bukan hanya itu, aksi “heroik”nya membuat Anwar Congo dianggap tetua dalam Pemuda Pancasila karena perbuatan kejinya tersebut. Dalam film tersebut digambarkan dia dikenal baik oleh Ibrahim Sinik yang merupakan pemilik harian Medan Pos. Japto Soerjosoemarno sebagai ketua PP menyalaminya dengan hangat . Di sini sangat jelas sekali, gambaran ini menghadirkan sebuah kenyataan yang selama ini berlangsung. Saat merekontruksi pembunuhan, Anwar juga dibantu oleh Ibrahim Sinik dan Japto Soerjosoemarno.

Seorang tukang karcis yang ikut membunuh pada tahun 1965 menjadi seorang preman yang disegani di Medan, serta punya akses langsung terhadap kekuasaan pemerintahan.

Satu lagi adegan yang dapat kita ambil contoh adalah tokoh yang bernama Ady, dalam satu adegan, dia mengakui perbuatannya, dia mengkonfrontasi/berhadap-hadapan tentang ide pengadilan atas tindak kejahatan yang dia lakukan di masa lalu, bahkan dilihat dari reaksinya,  Ady tidak menampakkan rasa takut ketika diminta untuk menjelaskan pertanggungjawaban atas tindak kejahatan kemanusiaan di masa lalu.

Menurut Ady sangat jelas sekali, bahwa sejarah adalah milik pemenang. Lalu, saya juga menyaksikan ketika Ady, istri, dan juga anaknya berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Gambaran yang ada di pikiran saya bahwa dia adalah sesosok pembunuh berdarah dingin, seketika rontok saat melihat Ady sebagai seorang Ayah sekaligus kepala keluarga.

Baca juga:  Narasi Alternatif Peristiwa G30S 1965’ melalui Film Senyap dan Jagal

Pemuda Pancasila sebagai Organisasi Masyarakat yang dalam film digambarkan punya kontribusi yang besar terhadap peristiwa pembantaian pasca tragedi tersebut yang kini  salah satu anggotanya, Sakhyan Asmara, bahkan mampu menjadi deputi Kementrian Pemuda dan Olahraga. Dan juga dalam adegan sambutan mantan Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla dalam acara yang diselenggarakan PP yang berisi narasi mendukung bahkan memuji apa yang dilakukan oleh ormas tersebut di masa lalu. menegaskan bahwa kondisi yang begitu menegerikan dianggap sebagai sebuah kebenaran, sungguh hal yang tidak bisa diterima akal sehat maupun nurani.

Satu aspek yang menurut saya sangat tidak bermanfaat dalam debat tentang G30S di Indonesia adalah kecendrungan untuk menggolongkan posisi apa pun, apakah sebagai tokoh pro PKI atau anti PKI. Siapapun yang tidak setuju dengan penahanan dan pembunuhan massal atau menunjukkan simpati terhadap tahanan politik dianggap sebagai pendukung PKI.

Maka di sini saya ingin menjelaskan bahwa saya bukanlah orang yang pro terhadap PKI, tetapi hal ini selalu mengganggu pikiran saya. Bukannya saya tidak membenarkan kekerasan massal yang terjadi pada saat itu, hanya saja kekerasan tersebut mencerminkan bencana kemanusiaan. Apakah kita pernah berpikir tentang pertanyaan siapa yang bertanggung jawab atas G30S, untuk menemukan jawabannya maka kita harus menelurusi apa yang sebenarnya terjadi pada awal Oktober tahun 1965 itu.

Apakah benar itu merupakan pemberontakan setiap anggota PKI? Apakah Gerakan itu merupakan percobaan kudeta? Satu hal yang saya tau bahwa Rezim Soeharto beriskukuh G30S adalah pemberontakan dan percobaan kudeta. PKI adalah sebuah partai dengan anggota kurang lebih 3 juta orang, jika pemerintah bersikukuh bahwa PKI mengorganisasikan G30S, maka pemerintah harus mampu menjelaskan siapa sebenarnya di dalam PKI yang bertanggung jawab atas Gerakan tersebut. Apakah Sebagian dari mereka yang bertanggung jawab? Atau keseluruhan anggota partai yang bertanggung jawab? (ffw/eep)

Penulis: Findy Fhauziyyah Wulandari

Editor: Eep Larassandi

Bagikan:
172