Ketika membaca Haruki Murakami, kita selalu dibawa dalam sebuah tatanan cerita yang dipengaruhi oleh budaya barat dalam novel-novelnya. Modernisasi yang terjadi di Jepang, begitu kuat diceritakan oleh Murakami lewat kehidupan karakter-karakter yang dia ceritakan.

Kerap Murakami menceritakan karakternya dalam novelnya sebagai seorang anak muda Jepang yang begitu dipengaruhi oleh budaya-budaya barat. Dari bacaan literatur, musik, gaya berpakaian hingga topik pembicaraan, Murakami tidak pernah melepaskan gaya kebarat-baratan dari setiap tokoh yang ia buat. Pengaruh budaya barat begitu kuat dalam novelnya. Walau begitu, Murakami tidak melupakan untuk membenturkan budaya tradisional dengan arus modern yang begitu masif melanda Jepang di era 60-an.

Dengarlah Nyanyian Angin

Ketidaksempurnaan Haruki Murakami

Dengarlah Nyanyian Angin (Judul asli Kaze no uta o kike) adalah gerbang pembuka Haruki Murakami di dunia literatur. Sebagai novel perdananya, ia sudah mewanti-wanti pembaca untuk tidak menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap novelnya ini. Dengan gamblang ia menegaskan dalam kalimat pembuka dalam novel yang berbunyi “Tidak ada kalimat yang sempurna, sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.”

Haruki Murakami seakan memberi tahu kepada pembaca, bahwa tulisan perdananya ini adalah bentuk dari ketidaksempurnaannya sebagai manusia. Bahkan dalam halaman awal, Murakami menuliskan bahwa novelnya ini hanyalah sebuah jilid catatan dengan garis tengah di tengah-tengah halamannya. Bukan sebuah sastra ataupun seni,  mempunyai amanat yang sedikit dan tidak sepenuhnya memiliki kisah yang menarik.

Peringatannya itu memang sepenuhnya benar, dalam novel yang terinspirasi ketika Murakami menonton pertandingan bisbol ini, Murakami akan membawa kita ke dalam perjalanan anak muda Jepang dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern Jepang di era tahun 1960-1970an.

Tidak ada yang spesial, bahkan anti-klimaks. Novel ini lebih seperti autobiografi yang bercerita tentang kisah 18 hari yang dialami oleh karakter utama “Aku” dan teman-temannya di sebuah kota kecil di Jepang.

Dengarlah Nyanyian Angin adalah cerita delapan belas hari yang diriwayatkan oleh “Aku” sang karakter utama yang tidak disebutkan namanya hingga akhir cerita. “Aku” adalah mahasiswa biologi yang biasa-biasa saja. Sikap dirinya selama hidup terpengaruh oleh seorang penulis Amerika yang mati bunuh diri bernama Derek Heartfield. Selain itu, karakter Aku juga gemar membaca buku, namun hanya buku yang ditulis oleh penulis yang sudah meninggal.

Gaya hidupnya dipengaruhi oleh budaya barat. Kerap kali dalam cerita ia mendengarkan lagu-lagu dari Beach Boys, sebuah grup musik dari Amerika. Selain membaca Derek Heartfield, Aku juga membaca buku karya Flaubert, Hemmingway maupun Fitzgerald, tiga Penulis barat terkenal pada masanya.

Karakter “Aku” dan Lingkungannya

“Aku” mempunyai teman bernama Nezumi, yang jika diartikan namanya berarti Tikus. Nezumi bertemu dengan tokoh “Aku” pada musim semi tiga tahun yang lalu. Mereka berkenalan dalam keadaan mabuk berat di Jay’s Bar. Perkenalan mereka diakhiri dengan “Aku” dan Nezumi menabrakan mobil Fiat 600 hitam ke sebuah pagar taman. Beruntungnya mereka masih hidup saat tabrakan itu terjadi, dan mereka pun menjadi teman dekat yang kerap nongkrong di Jay’s Bar.

Baca juga:  Film Jagal (2012): Sebuah Misteri Tak Terpecahkan.

Berbeda dengan “Aku”, Nezumi bukanlah seorang kutu buku, bahkan seumur hidupnya belum pernah membaca buku sekali pun. Namun, seiring mengalirnya cerita, Nezumi akhirnya melahap buku karya Henry James hingga Kazantzakis.

Nezumi mempunyai impian untuk menulis novel tanpa adegan seks, juga tentang kematian. Ciri khasnya adalah dalam berdialog ia kerap mengucapkan kalimat “Kukatakan dengan tegas ya…”. Serta dirinya adalah anak dari hartawan, tetapi dia sangat membenci kekayaaan dan orang-orang yang mempunyai kekayaan.

Kekasih “Aku” adalah gadis manis dan bersahaja, mempunyai hanya sembilan jari dan diceritakan tidak ragu menggugurkan janin yang entah siapa ayahnya. “Aku” bertemu dengan sang kekasih di Jay’s Bar, kala itu kekasih “Aku” tengah mabuk berat hingga pingsan di kamar mandi yang terdapat di dalam Jay’s Bar.

“Aku” pun membawanya pulang ke apartemennya lewat alamat yang ditemukan dalam kartu nama di dompetnya. Sebelum mengenal lebih jauh, kekasih “Aku” awalnya mencurigai dan menganggap “Aku” telah menggerayangi tubuhnya saat dia pingsan.

Namun, “Aku” menjelaskan dengan detail kejadian yang terjadi sebelumnya dengan jujur.  Sempat menghilang dan tak ada jejak, “Aku” dan kekasihnya dipertemukan lagi di toko kaset tempat “Aku” bekerja. Dan hal itu adalah permulaan yang membuat mereka dekat dan nyaman sampai mereka berpisah di akhir musim panas.

Modernisasi dan Budaya Jepang yang Dibenturkan

Sebagaimana judul novelnya, Dengarlah Nyanyian Angin mengajak kita untuk menikmatinya selayaknya angin yang berhembus. Cukup dibaca dan nikmati saja setiap kisah unik yang dituliskan Haruki Murakami.

Dengan ringan, Murakami berhasil menjadikan Dengarlah Nyanyian Angin sebuah cerita tentang anak muda Jepang di tahun 1960-1970-an yang terbentur antara budaya modern dan tradisional di masa itu.

Benturan itu diperlihatkan melalui gaya hidup anak-anak muda yang diwakili tokoh-tokoh di dalam novel. Sosok kaum muda yang diwakili oleh tokoh novel menjadi kunci tentang bagaimana modernisasi barat memengaruhi dengan masif gaya hidup kaum muda Jepang pada masa itu.

Tenggelam dalam alkohol, budaya populer barat yang dibaca dan didengarkan oleh generasi muda, serta gerakan revolusioner mahasiswa yang memengaruhi lingkungan dan bagaimana pemuda Jepang menyikapi masa depan mereka.

Murakami dengan baik menggambarkan benturan modernisasi tersebut lewat kehidupan para tokoh dalam empat puluh bab kecil yang berisi 119 halaman di dalam novel.

Baca juga:  Film Senyap (2014): Korban Tak Terungkap Dibalik Peristiwa ‘65

Restorasi Meiji dan Hilangnya Kebijakan Proteksionisme Jepang

Haruki Murakami, dalam Dengarlah Nyanyian Angin menegaskan bahwa novel perdananya ini bukan hanya sekadar novel pertamanya dalam dunia literatur, melainkan juga sebagai bentuk penegasan bahwa Jepang sudah membuka diri terhadap akulturasi budaya luar, terutama budaya barat.

Jepang digambarkan sudah bukan lagi negara isolasionis yang memberlakukan kebijakan proteksionisme seperti yang terjadi dalam periode Edo di rentan tahun 1600-1868.

Dengarlah Nyanyian Angin

Sejatinya, Jepang telah mulai menerima masuknya budaya barat pada saat terjadi restorasi Meiji di tahun 1868-1912. Pada era Meiji, Jepang membuka diri terhadap dunia luar dan melepas kebijakan proteksionismenya sehingga pengaruh Barat mulai banyak berdatangan dan memengaruhi budaya di Jepang.

Pada masa ini, mulai marak budaya barat yang datang dan hidup berdampingan bahkan berbenturan dengan budaya tradisional Jepang. Sehingga memengaruhi gaya hidup masyarakat Jepang terutama yang tinggal di kota-kota besar.

Pengaruh Budaya Barat terhadap Sosio-Kultural di Jepang

Dalam Dengarlah Nyanyian Angin, Murakami memang bukanlah satu-satunya pelopor yang memasukan budaya barat dalam karya tulis di era modern.

Sebelum Murakami menulis novelnya itu, memang Jepang telah mempunyai novelis yang dipengaruhi elemen budaya barat ke dalam tulisannya, seperti Natsume Soseki hingga Kenzaburo Oe.

Namun, Murakami setidaknya turut andil dalam menceritakan bagaimana interaksi anak-anak muda Jepang begitu dipengaruhi oleh budaya barat.

Bisa dilihat dari karakter “Aku” yang kerap membawa tokoh-tokoh barat dalam dialognya seperti Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, hingga penyanyi asal Prancis, Michel Polnareff.

Bukan hanya dialog antartokoh yang membawa sosok beken dari Barat yang diperlihatkan oleh Murakami, tetapi budaya populer seperti literatur, musik dan gaya hidup western yang juga marak digandrungi oleh generasi muda Jepang tidak luput dari tulisan ringan Murakami ini.

Pada akhirnya, Dengarlah Nyanyian Angin memang bukan sebuah novel terbaik Murakami jika dibanding dengan novel buatannya yang lain. Tapi di sini, Murakami seakan memperkenalkan sebuah tatanan sosio-kultural masyarakat Jepang yang mulai terelaborasi dan terpengaruhi oleh budaya barat, sehingga mengubah sikap dan gaya hidup masyarakat Jepang, terkhususnya generasi muda mereka di era 60-an.

Kendati demikian, walaupun budaya modern barat berbenturan dengan budaya tradisional Jepang. Murakami sedikit menggambarkan perpaduan budaya modern dan tradisional lewat tokoh “Aku” yang mempunyai kebiasaan menyemir sepatu Ayahnya di rumah.

Hal tersebut seakan menjelaskan bahwa benturan modernisasi itu tidaklah mengeliminasi budaya Tradisional Jepang sepenuhnya. Melainkan kedua budaya tersebut bisa hidup berdampingan dan berangkulan, tanpa harus menghilangkan salah satu dari kedua budaya yang ada. (pik/pik)

Penulis: Pikri Alamsyah

Editor: Pikri Alamsyah

Bagikan:
271