Jakarta, Parmagz – Confessions (告白 Kokuhaku, “Pengakuan”) merupakan salah satu film yang dirilis pada tahun 2010. Film yang diadaptasi novel karya Kanae Minato dengan judul serupa pada tahun 2008 ini berhasil menyabet berbagai penghargaan, salah satunya masuk dalam 11 kategori nominasi dalam Penghargaan Akademi Jepang (Nippon Akademī-shō) ke-34 dan berhasil memboyong 4 piala dalam kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Permainan Latar Terbaik dan Penyuntingan Film Terbaik. Tetsuya Nakashima sebagai Sutradara film ini sukses membangkitkan sisi kelam kehidupan orang-orang yang memiliki rasa dendam terhadap kehidupan yang menggiring mereka ke dalam ketidakadilan.

Kisah ini bermula dari seorang guru yang tengah mengajar bernama Yuko Moriguchi (Takako Matsu), di hari para murid sibuk mengacaukan kelas sambil meminum susu kotak yang dibagikan secara cuma-cuma, Moriguchi menjelaskan bahwa dirinya akan mengundurkan diri karena satu dan lain hal. Dalam riuh anak remaja yang enggan memedulikan kehadiran Moriguchi sebagai pengajar, mulut mereka mendadak terbungkam kala Moriguchi menceritakan tentang puteri semata wayangnya bernama Manami (Mana Ashida) yang tewas dibunuh oleh murid yang berada dalam kelas tersebut.

Seolah tak habis memberi kejutan, Moriguchi menjelaskan bahwa dirinya tidak akan membalas mereka dengan melapor pada pihak berwajib, karena ia paham bahwa para pembunuh anaknya tidak akan dihukum sebab mereka terlindungi oleh Undang-Undang anak yang berbunyi “remaja tidak boleh dihukum”. Oleh sebab itu, Moriguchi menyatakan bahwa susu kotak yang diminum oleh para pelaku telah disuntikan darah yang mengandung HIV (Human Immunodeficiency Virus) agar mereka belajar untuk lebih menghargai kehidupan.

Sebagai permulaan, saya cukup dibuat terperanjat dengan pemikiran Moriguchi. Demi membalaskan dendam, dia berhasil mengendalikan diri dengan tidak menyinggung identitas nama pelaku dan membiarkan ketakutan mulai menggerogoti seisi kelas. Moriguchi hanya menyinggung bahwa ada 2 pelaku yang dia beri inisial siswa A dan B.

Dalam kasus tersebut, saya yang pada mulanya bersimpati pada tokoh-tokoh dalam film mulai berpindah haluan dengan menyayangkan tindakan tersebut. Akan tetapi, film tidak berhenti sampai di situ. Ada banyak perspektif yang bisa digali atas alasan mengapa orang melakukan hal-hal keji itu. Tidak hanya diceritakan dari sudut pandang Moriguchi, kita juga akan diajak menyelami alasan siswa A dan B melakukan kriminal, alasan yang mungkin akan membuat simpatimu hilang dan berbuah menjadi sebuah koreksi diri.

Asian Movie Pulse

Tentang Obsesi

Siswa A dan B termasuk tipe orang yang sangat haus perhatian, mereka ingin melakukan segala cara demi mendapatkan hal tersebut dengan mengorbankan nyawa orang yang tak ada sangkut pautnya terhadap masalah mereka. Siswa A, dalam obsesinya dilirik banyak orang untuk menjadi populer kehilangan rasa bersalah atas kelakuannya menghilangkan nyawa Manami. Sementara siswa B, yang ingin mendapat pengakuan justru tersiksa oleh ketakutannya akibat apa yang telah diperbuat.

Bentuk Pembalasan

Segala bentuk dendam yang berkecamuk dalam kehidupan Moriguchi membawanya pada keinginan untuk menghancurkan kehidupan siswa A dan siswa B tanpa menyentuh mereka secara langsung. Dengan menyerang mereka melalui jalur psikologis, Moriguchi paham bahwa murid-muridnya akan selalu dihantui kegelisahan. Namun demikian, menghancurkan kehidupan mereka pun tidak lantas membuat Moriguchi hidup tenang, sebab bayangannya terus tertuju pada kedua muridnya yang telah hidup dalam kekacauan.

Peran Orangtua Kepada Psikologi Anak

Semua kisah yang berlangsung pada film ini berinduk pada peran orangtua, baik siswa A dan siswa B dididik dengan perlakuan berbeda. Siswa A tumbuh dari latar belakang keluarga yang broken home, dirinya sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar dan tetap menjalankan kehidupan dengan segala ambisinya. Sementara siswa B, orangtuanya bersikeras bahwa siswa B tidak bersalah atas pembunuhan yang merenggut putri semata wayang Moriguchi. Orangtua siswa B justru menyalahkan Moriguchi yang membawa anak ke dalam lingkungan kerja.

thisisbarry.com

Sikap-sikap yang berlebihan dan tidak menunjukan nilai pertanggungjawaban inilah yang pada akhirnya membentuk mental anak-anak mereka menjadi kengerian di masa mendatang. Saya kagum sekaligus bersimpati pada film ini, sebuah pemikiran lain dari genre thriller yang kebanyakan menganut konsep nyawa dibalas nyawa, serta pembelajaran tentang tingkah laku manusia dan sebab-akibat yang akan terus digunakan sebagai alasan atas pembenaran terhadap kelakuan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Confessions mengangkat pelanggaran nilai-nilai seperti penghilangan hak hidup seseorang, pembatasan kebebasan individu dan pengaruh lisan terhadap kejiwaaan seseorang.

Sebagai sebuah karya fiksi, saya akui film ini berhasil menyadarkan bahwa pendidikan moral dan memanusiakan manusia memang semestinya diprioritaskan dalam aspek kehidupan. Rentetan kesalahan yang bermula dari keegoisan seseorang bisa terus berdampak pada orang lain dan meresahkan baik dirinya maupun masyarakat sekitarnya.

Nah, kalau kamu suka dengan genre film thriller yang membawa unsur psikologis, film ini layang ditonton saat weekend. Saya beri nilai 4,2 dari 5 untuk Confessions.

 

Penulis: Intan Pratiwi

Editor: Nurma Syelin 

Bagikan:
80