Tahun 2020, menjadi tahun yang luar biasa bagi kita semua. Baru saja menginjak bulan pertama dunia digegerkan dengan berita wabah virus Corona yang menyerang umat manusia. Berasal dari China, kemudian berkembang keseluruh penjuru dunia termasuk Indonesia salah satunya. Penyebarannya yang begitu cepat melalui manusia ke manusia dengan berbagai media sebagai perantaranya, menyebabkan virus ini dengan mudah menjangkiti manusia, yang pada akhirnya membuat kehidupan ini harus selalu waspada.

Adanya wabah virus ini sedikit banyak mengubah tatanan hidup yang telah ada sebelumnya. Manusia menjadi lebih perduli atau aware akan yang namanya kebersihan, kebiasaan mencuci tangan, pola hidup sehat, dan banyak hal lainnya. Padahal, menjaga kebersihan ataupun kebiasaan untuk mencuci tangan memang perlu dilakukan di saat atau setelah pandemi ini berakhir.

Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun misalnya, merupakan cara termudah, murah, dan efektif dalam pencegahan penyakit. Padahal sudah sejak dulu dianjurkan, namun gaungnya baru sekarang. Seolah menjelma keharusan yang perlu dilakukan berakibat pada umat manusia yang berlomba-lomba untuk membeli alat-alat kebersihan atau bahan pokok makanan yang sebetulnya tidak perlu dilakukan apalagi secara berlebihan.

Kemudian, hal lain dari imbasnya wabah ini peran pemerintah yang selalu menjadi sorotan mengenai penanganan dan juga dalam mengambil suatu keputusan yang kian banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan terkhusus masyarakat sipil yang menanti langkah pasti bukan hanya saling beradu argumentasi antara pemerintah pusat dan daerah yang tak sejalan beriringan.

Melalui media yang berkembang masyarakat dibuat bimbang, dengan berbagai berita yang disajikan. Setiap hari disuguhi cerita wara-wiri wabah yang sedang merebak saat ini, mulai dari masyarakat menolak pemakaman jenazah korban virus Corona, tenaga medis yang diusir dari tempat tinggalnya, warga asing yang masih bisa keluar masuk ke Indonesia, dan banyak berita lain yang harus dikonsumsi dalam satu tombol saja. Seolah semuanya tak siap menghadapi wabah yang tengah terjadi, semua dibuat susah, dianggap salah sebab membuat resah.

Baca juga:  Tarik Ulur Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Sesksual

Saya sebagai salah satu yang melihatnya merasa miris dan tak habis pikir dengan berbagai berita yang hadir, entah itu di televisi ataupun media sosial. Setiap hari yang dibaca, dilihat, atau bahkan didengar berisi berita yang menguras psikis, drop mentalitas berakhir dengan adanya drop imunitas pada akhirnya.

Adanya wabah ini dapat menjadi refleksi bagi kita bersama mengenai bumi yang semakin menua, namun penghuninya yang enggan untuk menjaga, menggunakan kendaraan dengan asap knalpotnya, pabrik-pabrik dengan limbahnya, gedung-gedung tinggi dengan ribuan kaca di dalamnya, juga banyak hal lain yang sebetulnya harus menyadarkan kita semua sebagai umat manusia agar menjaga alam semesta.

Sedikit banyak saya membaca, bahwa bumi sedang membaik dengan adanya wabah ini. Dirasa betul adanya, melihat sekitar lebih berwarna, menghirup udara pada akhirnya, bukan lagi polusi yang menjadi menu setiap harinya. Harapan kita sama, wabah virus ini segera berakhir, yang kemudian menjadi abadi adalah segala bentuk hal positif selama adanya wabah ini.

 

Bagikan:
334