Sejak kebijakan Work From Home dikeluarkan oleh pemerintah, semua kegiatan perkuliahan dialihkan ke metode daring. Pada minggu pertama perkuliahan, semua dosen saya memberikan tugas baik berupa review, jurnal, analisis kasus, dan lain sebagai. Semua dosen berbondong-bondong memberikan tugas. Alih-alih kebijakan Work From Home akan membuat sistem pembelajaran makin fleksibel, namun kenyataannya tidak malah makin memperparah. Beban tugas yang diberikan kepada mahasiswa makin banyak dan menumpuk saja hingga sempat saya berpikir lebih baik kuliah seperti biasanya (offline) daripada kuliah online. Saya agak kesal dan sempat mengutuk keadaan pada awalnya.

Minggu kedua perkuliahan, mulai tampak ada sedikit perubahan. Sebagian dosen mulai beralih dari sistem hanya memberikan tugas kepada mahasiswa, mulai beralih ke dalam sistem tatap muka berbasis online melalui media Zoom atau Google Hangout. Seperti suatu hal yang baru awalnya bisa berdiskusi dan memaparkan presentasi kepada lebih dari 30 orang. Yang sebenarnya merupakan hal yang familiar dan sering digunakan untuk menyapa dan menanyakan kabar sanak saudara jauh nan di sana melalui media panggilan video Whatsapp. Perbedaannya hanya pada fungsi penggunaannya sebagai media pembelajaran atau pertemuan yang awalnya jarang dimanfaatkan sebelum kebijakan Work From Home ini muncul.

Saya mulai merasa mampu mengimbangi, karena pada minggu kedua ini, beban tugas yang diberikan kepada mahasiswa mulai secara kuantitas mulai berkurang, namun secara kualitas tetap ditambah.

Di minggu ketiga perkuliahan, saya mulai merasa beban-beban di awal sistem perkuliahan Work Form Home mulai berkurang dan makin terbiasa, tidak lagi mengutuk keadaan. Kini saya yakin, bahwa di setiap kesulitan bersamanya pasti ada kemudahan. Tidak setelah kesulitan itu datang baru muncul kemudahan, melainkan kemudahan itu berbarengan dengan sebuah kesulitan. Menulis artikel atau jurnal yang awalnya hanya mampu dalam rentang 400-500 kata per hari, kini mulai bertambah ke dalam rentang 1000-1500 kata per hari bahkan lebih. Pun demikian dengan sistem birokrasi atau pun administrasi kampus yang awalnya melelahkan dan rumit, kini menjadi lebih cepat dan fleksibel berkat kebijakan Work From Home.

Work From Home setidaknya memaksa perubahan melalui keadaan. Memaksa peralihan sistem dari 3.0 ke dalam 4.0—sekalipun era 4.0 sudah dan berjalan lama sebelum adanya penyebaran Covid-19 di berbagai negara. Bahkan sudah ada beberapa negara yang membahas peralihan sistemnya ke 5.0.

Ini menjadi bukti dan tantangan tersendiri sebenarnya bagi Indonesia—atau setidaknya kepada saya, bahwa perubahan dapat dilakukan dengan cepat melalui pemaksaan atau pemberian tekanan pada sistem dan keadaan yang ada. Saya jadi ingat peribahasa yang dulu pernah saya gunakan sebagai bentuk motivasi agar dapat bertahan dan betah pada masa awal-awal berada di pesantren, yakni dipaksa-terbiasa-bisa. Peribahasa ini memang sudah cukup lama dan dapat kita diskusikan relevansinya.

Entah kenapa banyak orang merisaukan kata dipaksa dalam konteks sosial. Seolah kata dipaksa merujuk pada tindak kekerasan. Namun, bukankah segala sesuatu memang butuh dipaksakan agar bisa mencapai tujuan kecuali iman atau kepercayaan kepada Tuhan yang memang membutuhkan kerelaan?

Paksaan dan kerelaan memang seringkali berhubungan dan dicampur adukan yang bahkan tak jarang membingungkan. Kembali ke peribahasa dipaksa-biasa-bisa. Peribahasa ini mengedepankan paksaan hingga timbul kerelaan untuk bertindak yang jalannya berat dan terjal untuk dilalui pada awalnya. Sehingga mungkin orang lebih memilih untuk menghindar dan mencari jalan atau alternatif lain untuk dilalui. Alternatif-alternatif lain yang dilalui terkadang berhasil mencapai tujuan dan tak jarang juga yang berbuah kegagalan (bukan kegagalan sebenarnya, melainkan berada di satu kondisi menyerah dan berhenti mencari alternatif-alternatif lain). Pun demikian dengan kerelaan memerlukan paksaan untuk menjaga agar tetap berada di jalur yang ditentukan untuk mencapai tujuan.

Work From Home dan berubahnya sistem pembelajaran perkuliahan ke sistem daring dan administrasi kampus yang makin ramping adalah bentuk nyata dan konkrit dari peribahasa dipaksa-biasa-bisa. Yang menjadi baik jika terus menerus dilanjutkan bukan pada paksaannya melainkan berubah alurnya menjadi kerelaan untuk terus berinovasi menjadi lebih baik lagi.

Saya berharap semoga badai Covid-19 cepat berlalu, agar orang-orang bisa kembali membuat barisan atau setidaknya berkerumun untuk kembali beraktivitas seperti sedia kalanya.

#Suarakan adalah Rubrik baru Parmagz Paramadina yang bertujuan untuk mewadahi dan memberikan ruang kepada khalayak untuk menulis dan membagikan gagasan, perspektif, pemikiran, dan perasaan mengenai kondisi pribadi maupun sekitar yang dialami saat-saat belakangan ini.

 

Bagikan:
189