Barangkali kita semua bisa sepakat bahwa hidup ini sangatlah dinamis. Baik dari kehidupan itu sendiri maupun segala hal yang menyertainya. Terutama juga yang berhubungan dengan manusia dan perasaan hatinya. Perasaan kita sendiri, ataupun perasaan orang lain yang perlu kita jaga. Naik turun keadaan emosional rasanya merupakan hal yang wajar dan manusiawi. Namun sering juga dikhawatirkan bahwa ketidak stabilan keadaan emosional bisa memengaruhi motivasi kita untuk tetap hidup. Ketika hidup terasa berat dan tidak lagi berarti, maka keinginan untuk tetap hidup seringkali berkurang atau bahkan menghilang. Rasanya hanya ingin pulang ke pangkuan Tuhan dan melepaskan semua beban.

Baik kalau kita memiliki sistem pertahanan untuk mengantisipasi hal ini. Atau setidaknya mahir mengelola keadaan emosional untuk kembali bersemangat. Atau boleh juga kalau punya teman yang pandai memberikan kita motivasi untuk bertahan hidup. Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau kita hanya tahu cara memendam perasaan sendiri saja? Bagaimana kalau teman-teman di sekitar kita hanya bisa memperburuk keadaan? Terlebih dalam keadaan seperti sekarang ini yang memaksa kita untuk tetap di rumah dan menerapkan physical distancing. Bisa jadi ketika kita menghadapi masa-masa sulit mengendalikan keadaan emosional, semua akan semakin buruk setiap harinya. Tugas yang menumpuk, dilanda kesepian dan kebosanan, atau juga barangkali sampai ke tahap kekerasan domestik.

Mungkin di pikiranmu pernah terlintas pertanyaan sesederhana “Kenapa aku harus bertahan hidup?”. Jawaban paling umum yang bisa keluar dari teman-teman pemberi nasihat adalah jawaban-jawaban abstrak yang tidak bisa kita cerna dengan cepat, seperti: karena kamu layak untuk hidup, karena banyak yang mencintaimu, karena kamu begitu berharga. Atau jawaban-jawaban yang mengarah pada guilt-trip dan membuat kita semakin tidak berharga, seperti: nanti kamu akan membuat banyak orang bersedih, nanti orang tuamu merasa sia-sia membesarkanmu, nanti kamu membuatku sangat bersedih, nanti Tuhan marah padamu.

Baca juga:  Aksi #MosiTidakPercaya: Saatnya Rakyat Berdaulat

Ada yang bilang, bahwa manusia itu adalah makhluk emosional, bukan makhluk rasional. Maka bagaimana pun sesuatu itu rasional, apabila ia tidak menyukainya maka ia akan tetap tidak menyukainya. Begitu pun sebaliknya. Jawaban-jawaban tadi mengenai alasan untuk tetap bertahan hidup akan sulit diterima apabila seseorang tidak menyukai jawabannya. Salah-salah memberi jawaban, kita mungkin semakin mendekatkan seseorang pada akhir cerita hidupnya. Lantas harus bagaimana?

Sejatinya, bahagia itu mudah dan bisa dilatih. Termasuk motivasi untuk bertahan hidup. Berkali-kali saya melalui masa sulit dan muncul keinginan untuk mengakhiri hidup, saya akan membuat alasan-alasan kecil kenapa saya harus bertahan hidup. Hal-hal sepele yang bisa saya dapatkan atau lakukan dengan mudah dan sangat saya senangi. Begitu pun ketika orang lain sedang melalui masa sulitnya, saya akan melakukan hal yang sama.

“Kenapa aku harus bertahan hidup?”. Karena masih banyak buku Sherlock Holmes yang belum ku baca. Karena belum mencicipi coklat panas di kafe seberang sana. Karena masih ada serial yang belum tamat. Karena belum pernah berkunjung ke Raja Ampat. Karena belum kesampaian nonton konser idola. Dan karena-karena lain yang sederhana. Buat sebanyak mungkin, tapi tetap sederhana. Lalu rajut seluruh alasan tersebut menjadi semangatmu untuk terus bertahan hidup. Ketika alasan yang kau buat telah terpenuhi? Buat alasan baru. Carilah 1001 alasan sederhana untuk membuatmu tetap hidup.

Setidaknya itu yang saya lakukan saat ini. Ada serial on-going yang masih tersisa 3 bulan lagi sebelum tamat. Saya pastikan agar saya tetap hidup sampai serial tersebut tamat. Ketika serialnya sudah selesai? Maka akan saya cari alasan baru untuk bertahan hidup. Tugas kita hanya untuk bangun di setiap pagi secara terus menerus. Sampai kita menghabiskan waktu kita sendiri tanpa terasa. Tanpa keinginan untuk ambil jalan pintas. Semoga kebahagiaan selalu melingkupi kita semua.

Baca juga:  Sudah Tepatkah SEMA Mengeluarkan Maklumat?

 

Bagikan:
258