Dengan adanya pandemi banyak yang tergerakkan hatinya untuk membantu sesama dengan  berbagai cara seperti menggalang donasi untuk para korban terdampak, hingga para tenaga medis yang berjuang dalam garda terdepan, yang perannya sangat penting namun juga rentan terpapar oleh virus yang mereka hadapi. Namun beberapa orang tidak berdiam diri melihat kejadian ini, ada yang memberikan bantuannya melalui pemberian APD untuk tenaga medis yang belakangan memakai alat seadanya seperti jas hujan untuk menangani pasien. Dan beberapa orang mengambil peran untuk pencegahan penyebaran Covid-19 dengan menjadi relawan untuk penyemprotan desinfektan di daerah yang belum tersentuh oleh petugas terkait. Serta ada pula yang sangat membuat hati tersentuh oleh mereka yang membantu para pekerja informal untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Apakah mereka yang turun membantu adalah seorang wakil rakyat yang memang bertugas menyuarakan suara rakyat dan telah mendapat gaji yang cukup lumayan untuk tugas tersebut? Sayangnya mereka yang ikut membantu bukanlah seorang wakil rakyat yang telah menerima gaji dari pajak yang telah dibayarkan oleh mereka namun mereka yang telah melakukan itu semua adalah dari rakyat itu sendiri yang bersimpati terhadap nasib sesamanya tanpa digaji ataupun secara sukarela. Lalu di manakah peran anggota wakil rakyat yang terhormat dalam menyuarakan suara rakyat di tengah pandemi ini? Tentu mereka pun tidak diam menghadapi masalah ini mereka para dewan yang terhormat memainkan peran mereka sebagai wakil rakyat dengan meminta kepada pemerintah untuk memprioritaskan para anggotanya serta keluarga mereka untuk melakukan rapid test dengan alat yang baru dibeli oleh negara. Sungguh peran yang sangat tidak dibutuhkan  telah mereka lakukan di mana ketika banyak dari rakyat yang kurang mampu untuk menjalani test karena kendala biaya mereka wakil rakyat yang sudah mendapat fasilitas yang cukup meminta untuk didahulukan daripada rakyat yang memang sangat membutuhkan.

Namun tidak sampai di situ peran wakil rakyat yang sungguh terhormat juga tetap menjalankan tugasnya sebagai badan legislatif negara, yaitu dengan tetap membahas Rancangan Undang-undang (RUU) KUHP, RUU Omnibus LAW  yang substansinya sangat berlawanan dengan suara rakyat. Karena sudah mendapat penolakan dari rakyat banyak melalui aksi #ReformasidiKorupsi pada akhir September lalu terkait penolakan terkait RUU KUHP dan aksi penolakan oleh berbagai Serikat Buruh, mahasiswa dan para akademisi terhadap RUU Omnibus LAW atau RUU Cipta Lapangan Kerja yang sekarang telah dilancarkan untuk menghentikan pembahasannya agar menjadi sebuah Undang-undang nantinya. Namun sebagian anggota dewan yang terhormat serta perwakilan pemerintah tetap ingin melanjutkan pembahasan kedua RUU kontroversial tersebut dengan alasan agar tetap produktif di tengah pandemi ini. Sungguh sesuatu yang sangat tidak layak dipuji dengan tindakan yang nir empati tersebut.

Dan hal-hal tersebut benar terjadi di saat pandemi yang tengah kita alami ini, entah seperti apa yang akan terjadi setelah pandemi ini? Akankah ada sebuah empati? Atau mungkin sebuah peti mati bagi mereka yang menolak dan berteriak keras untuk mempertahankan apa yang mereka yakini sebagai hak mereka. Akhirnya kita tahu siapa yang telah kita pilih untuk mewakili suara kita yang sangat berharga bagi mereka ketika pemilu tiba bahwa merekalah yang telah mereduksi suara-suara kita menjadi sebuah keuntungan pribadi mereka yang ingin tetap menjadi kaya di tengah kita yang setengah mati bekerja untuk membangun negeri kita tercinta. Semoga kelak kita tidak  tertipu lagi oleh akal bulus mereka ketika pemilihan tiba.

“Ketika orang-orang serakah datang

harus dihadang”

Sisir Tanah – Lagu Hidup.

#Suarakan adalah Rubrik baru Parmagz Paramadina yang bertujuan untuk mewadahi dan memberikan ruang kepada khalayak untuk menulis dan membagikan gagasan, perspektif, pemikiran, dan perasaan mengenai kondisi pribadi maupun sekitar yang dialami saat-saat belakangan ini.

Bagikan:
256