Sejak wabah Covid-19 mulai merebak penyebarannya, berbagai institusi yang berpotensi mengumpulkan kerumunan orang banyak mulai menerbitkan kebijakan Work From Home. Sesuai dengan instruksi presiden untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah di rumah, Universitas Paramadina juga tak ketinggalan menerbitkan surat edaran untuk melaksanakan perkuliahan jarak jauh sejak 16 Maret 2020. Semua aktivitas perkuliahan dilakukan melalui media daring. Maka sejak saat itulah saya tidak lagi berada di Jakarta untuk kepentingan perkuliahan dan kegiatan lainnya. Saya kembali ke rumah di daerah untuk menghindari hiruk pikuk ibukota dan langsung mengisolasi diri secara mandiri.

Ketika artikel ini ditulis, setidaknya sudah 3 pekan saya mengisolasi diri. Selama itu saya tidak melakukan perjalanan ke manapun dan membatasi interaksi dengan dunia di luar rumah. Maka yang terjadi selama itu juga saya hanya bisa berinteraksi dengan keluarga di dalam rumah dan mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Mengerjakan tugas, mengikuti perkuliahan daring, mengambil kursus daring, belajar bahasa asing, serta mengerjakan beberapa pekerjaan domestik. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah, kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga dalam waktu yang lebih lama.

Barangkali bagi sebagian orang hal tersebut bukanlah hal yang begitu istimewa untuk digarisbawahi. Namun bagi saya pribadi, hal seperti ini sangatlah berharga. Once in a blue moon, istilahnya. Kesempatan seperti ini tidak saya dapatkan setidaknya dalam 5 tahun terakhir.

Berbagai kegiatan organisasi sejak awal SMA membuat saya menjadikan rumah hanya sebagai tempat membaringkan tubuh saat malam. Sisanya dihabiskan di sekolah dan berbagai kegiatan organisasi. Begitu pun dengan akhir pekan. Bahkan tak jarang saya harus sepekan penuh tidur di luar kota untuk mempermudah garapan tugas organisasi lalu di pekan selanjutnya berpindah kota yang juga jauh dari kota asal. Siklus tersebut terus berputar selama 3 tahun di masa SMA. Selepas dari itu, keadaan tak banyak berubah. Dengan mempertimbangkan banyak hal, saya harus bertempat tnggal di dekat area kampus untuk menunjang kegiatan perkuliahan. Maka idealnya, saya bisa kembali ke rumah pada saat akhir pekan. Namun kenyataan membuat saya tetap sulit untuk menemukan waktu khusus untuk berkumpul dengan keluarga.

Baca juga:  Aksi #MosiTidakPercaya: Saatnya Rakyat Berdaulat

Kebijakan Work From Home ini akhirnya memaksa saya untuk pulang ke rumah. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya hanya bisa berada di dalam rumah dalam waktu yang lama. Lantas kesempatan ini membuat saya menyadari banyak hal. Salah satunya adalah betapa saya telah meninggalkan keluarga dengan jarak semu yang begitu signifikan. Hal ini saya sadari ketika tak sengaja mendapati betapa ibu saya bersyukur dan terharu saat saya bisa mengajari adik untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Saya menafsirkan hal tersebut sebagai ungkapan bahwa selama ini, jarak itu memang ada. Maka saya harus menebus itu semua dengan memangkas jarak sebanyak yang saya bisa. Menghadirkan kedekatan dan inklusifitas di dalam rumah untuk mempertahankan bangunan ‘rumah’ ini. Saya mulai berbagi tugas-tugas domestik dengan adik saya. Mencuci piring, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, membersihkan kamar mandi, dan menjemur pakaian. Saya juga mulai mengajari adik saya sesuatu yang saya bisa ajari. Memperlihatkan dunia yang selama ini saya pahami kepadanya. Menunjukkan peta dunia dan menjelaskan letak-letak negara, mengajari bahasa asing, mengajari konsep sederhana dari perbedaan zona waktu, sampai edukasi ringan seperti mengenal alam sekitar.

Kebijakan Work From Home tentu akan memiliki arti tersendiri bagi setiap orang. Namun saya kira, hal ini bisa menjadi kesempatan yang baik untuk setiap orang bisa belajar banyak hal dan menyadari banyak hal. Terutama untuk meningkatkan self-awareness. Selesai dari fenomena ini, kita harus bisa menjadi individu baru yang lebih baik dan mengenal diri sendiri lebih baik lagi. Semoga kebaikan dan kesejahteraan selalu melingkupi kita semua. Aamiin.

 

Bagikan:
246