Belakangan ini, dunia sedang tidak ramah kepada saya, mungkin juga untuk semua orang di luar sana. Di tengah situasi pandemi, suka dan tidak suka saya harus bertahan seorang diri di tanah orang, di sepetak kamar yang berlokasi di Pancoran. Sudah terhitung selama 24 hari saya mengarantina diri di kosan, benar benar sendirian, karena semua tetangga (kamar sebelah) pulang ke kampung halaman.

Bisa dibayangkan seperti apa rasanya saya berjuang di tengah kesendirian serta kesunyian. Selama itu saya tidak melakukan perjalanan, dan juga membatasi interaksi dengan orang lain di luar kos, kecuali untuk membeli kebutuhan pokok dan vitamin. Kegiatan harian yang saya lakukan sama dengan mayoritas mahasiswa lain yaitu mengerjakan tugas online, melakukan kuliah online, rapat online, serta melakukan pekerjaan rumah atau pekerjaan harian. Berat, sedih, dan kecewa itu pasti. Tapi bersyukurnya, saya memiliki teman yang rela telinganya sakit mendengar keluh kesah serta cerita saya, dan tidak bosan untuk selalu menguatkan.

Saya memang memutuskan untuk tetap tinggal di kosan, d itengah teman-teman yang lain satu per satu mulai pulang ke kampung halaman. Bohong, jikalau dibilang saya benar- benar kuat, bertahan di daerah endemik seorang diri, jauh dari keluarga, ditambah ke khawatiran orang tua yang nampak jelas dari panggilan suara.

Seringkali saya merasa cemburu dengan teman-teman yang bisa berada di tengah keluarga, berkegiatan bersama, sesederhana memasak dan menonton televisi bersama. Alay memang jika saya berpikiran demikian, karena bisa saja saya mengikuti langkah mereka, meninggalkan ibukota dan kembali berkumpul dengan keluarga tercinta. Namun bagi saya, sayang keluarga saat ini, ditunjukkan dengan tidak pulang ke kampung halaman.

Baca juga:  Sudah Tepatkah SEMA Mengeluarkan Maklumat?

Situasi ini mengajarkan saya untuk selalu bersabar, toh bukankah sabar adalah salah satu pertolongan Tuhan? Raga saya boleh berjauhan, namun hati akan selalu berdekatan, dan doa-lah yang menjadi pengikatnya. Seharusnya saya lebih bersyukur, karena di luar sana ada aparat yang terus berjaga, para dokter yang terus berjaga, 14 hari bekerja, dan 14 hari masuk dalam karantina. Mereka semua juga jauh dengan keluarga, serta melakukan tugas dengan risiko bertaruh nyawa. Bagi teman-teman yang merasa keluargaku bukan ayah ibu dan saudaraku, namun keluargaku adalah teman teman serta sahabatku, berhenti mengucap kata itu. Justru itulah kesempatan kalian untuk menemukan makna keluarga yang sebenarnya. Ambil kesempatannya.

Situasi sekarang, tak hanya mengajarkan saya tentang makna bersabar, dan bersyukur. Namun juga mengajarkan untuk selalu optimis dan selalu berpikiran positif bahwa hari esok pasti akan lebih cerah dan bahagia. Karena banyaknya waku di kosan, jadi lebih banyak bernostalgia, termasuk saat sekolah dulu, saya ucapkan terima kasih kepada diri saya saat SD, yang sudah berjuang keras untuk masuk ke SMP favorit, namun sayang rencana saya tidak berjalan sesuai keinginan.

Tapi justru saat SMP itulah saya harus berterima kasih kepada diri saya, karena dia sudah mampu menahan diri untuk tidak bermain media sosial, rajin mengikuti pendalaman materi, rajin berolahraga, serta mengisi dan menikmati hari dengan membaca buku. Yang akhirnya mengantarkan saya ke SLTA favorit, juga ke kampus peradaban tanpa mengeluarkan cuan serupiah pun hingga saat ini. Mungkin waktu itu terasa berat untuk dijalani, namun sekarang sangat ringan untuk diceritakan. Semoga situasi berat hari ini, akan ringan untuk diceritakan nanti. Aamiin.

“Some memories are unforgettable, remaining ever vivid and heartwarming.”
– Joseph B Wirthlin

Bagikan:
301