Sore itu masih seperti biasa, karena kebijakan kuliah dari rumah, saya masih terbaring di kasur dengan meratapi tugas-tugas yang masih saya anggurkan dan tak saya sentuh. Pikiran saya masih stress, cemas dengan keadaan di luar sana yang membingungkan dan mengkhawatirkan. Mengarungi sosial media sebagai rutinitas sehari-sehari  malah semakin membuat saya migrain dan napas tambah sesak. Reaksi psikomatik saya begitu cepat menjalar ketika saya sedang membaca informasi yang distorsif bercampur menjadi satu dalam beranda sosial media saya.

Entah itu informasi dari pemerintah, media massa, influencer sekalipun para buzzer, mereka selalu muncul di hadapan beranda saya dengan memberikan informasi yang berbeda-beda. Saya tak bisa membatasi karena sebagai seorang yang mengaku jurnalis, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus berani berhadapan dengan ragam informasi untuk lebih memahami keadaan yang ada. Namun, bukannya mampu memahami keadaan, malah saya semakin terjerumus ke dalam lubang kecemasan karena informasi yang saya terima telah bersifat distorsif dan banyak misinformasinya.

Keadaan itu bukan terjadi baru-baru ini saja, sejak awalnya muncul bahaya laten dari Covid-19 (Coronavirus Disease-19) atau virus corona yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Tanggapan pemerintah terhadap virus yang sekarang telah menjadi pandemi ini, seakan main-main dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang serius. Padahal, virus yang sedang dihadapi saat ini adalah masalah yang sangat atau benar-benar serius dan berbahaya. Namun, saat negara lain tengah berperang atau bersiap perang terhadap virus, dan bahkan ketika negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura mengumumkan kasus pertama di negara mereka, bukannya melakukan tindakan preventif untuk bisa menahan gelombang penyebaran virus corona, pemerintah kita malah memberikan pernyataan yang tidak jelas dan tidak berdasar.

Dari Presiden, Wakil Presiden, para Menteri – khususnya Menteri Kesehatan – semuanya bermain-main seolah-olah tidak ada ancaman yang nyata. Padahal yang kita hadapi saat ini adalah musuh yang tidak kelihatan wujudnya, yang artinya tidak bisa dimusnahkan dengan hanya sebuah rudal atau senjata laras panjang, tetapi harus dilawan dengan kekuatan dari tenaga kesehatan serta imunitas tubuh yang kuat.

Pernyataan santuy dari baca doa qunut, makan nasi kucing, virus corona tidak bisa hidup di Indonesia, izin yang susah hingga virus corona hanya flu biasa, pernyataan-pernyataan dari pemerintah sedari awal seakan seperti “membunuh” perlahan rakyatnya dengan tidak adanya imbauan atau pun tindakan yang bersifat konkrit maupun mencegah. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah ketika pemerintah malah membuka keran pariwisata sebesar-besarnya dengan memberikan diskon tiket pesawat ke sepuluh destinasi wisata bagi turis asing, padahal saat itu Indonesia telah menyatakan ditemukannya dua kasus positif virus corona. Alasannya? Hanya untuk memulihkan kembali sektor pariwisata yang terhantam dampak virus korona. Sebagai rakyat, saya tentu kecewa dengan alasan yang diberikan. Sungguh menyedihkan, alasan tersebut membuat saya beranggapan seolah-olah pemerintah kita ini tidak memikirkan kesehatan masyarakatnya.

Memang ketika nasi telah menjadi bubur, kita tidak bisa mengubahnya kembali menjadi nasi atau pun beras. Dari kebijakan yang ngawur dan informasi yang terbatas, kita bisa melihat seberapa siap negara kita dalam menghadapi pandemi yang telah memporak-porandakan ekosistem dunia.

Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat baru-baru ini mengkritik pemerintah pusat atas lambannya informasi dan koordinasi antara pemerintah pusat ke daerah. Dalam telekonfrensinya bersama Wapres Ma’ruf Amin, ia mengatakan setidaknya ada empat poin kritikannya terhadap pusat yang salah satunya adalah permasalahan keterbukaan informasi dari pemerintah pusat. Hal ini sebenarnya sudah saya rasakan sedari awal. Memang pemerintah terlihat tidak transparan dan terkesan menutup-nutupi informasi terkait penyebaran virus corona yang telah menginfeksi lebih dari satu juta orang di seluruh dunia.

Padahal dalam menghadapi pandemi, persoalan ketepatan dan keterbukaan informasi adalah kunci utama untuk menahan laju penyebaran virus. Namun, di sini pemerintah pusat seakan mengabaikan dan menutupi informasi dengan dalih untuk tidak membuat masyarakat panik. Alih-alih membuat rakyat tenang dan tidak panik, malah dengan tidak transparannya informasi yang diberikan membuat rakyat makin diselimuti kekhawatiran, yang kemungkinan menyebabkan masyarakat akan mulai kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah.

Informasi yang tidak transparan, tidak akurat dan tidak tepat, serta kebijakan yang terkesan plin-plan tentu sangat membahayakan masyarakat dalam menghadapi virus corona ini. Jika kita menarik garis dan melihat kembali ke tahun 1918, di mana pada masa itu terjadi pandemi yang sama menggetarkan dunia seperti sekarang, terkhususnya Indonesia yang masih bernama Hindia Belanda. Pandemi yang dikenal sebagai Flu Spanyol waktu itu dipicu oleh virus H1N1. Diperkirakan sebanyak 21,5 juta sampai 50 juta orang di seluruh dunia meninggal karena virus tersebut. Indonesia yang masih dalam masa kolonialisasi Belanda juga turut merasakan wabah mematikan tersebut. Dituliskan oleh Siddarth Chandra dari Michigan State University dalam jurnalnya Population Studies (2013), Siddarth menuliskan bahwa Hindia Belanda sebagai salah satu tempat jatuhnya korban jiwa terbanyak dengan total 4,26 juta hingga 4,37 juta jiwa terkhusus di pulau Jawa dan Madura, angka tersebut belum terhitung di daerah lainnya yang kemungkinan masih lebih banyak lagi korban berjatuhan.

Jatuhnya korban jiwa yang sangat banyak ini dipicu karena kelalaian pemerintah Hindia Belanda pada masa itu yang begitu abai dalam merespons terjadinya wabah yang disebut pagebluk oleh masyarakat Jawa pada masa itu. Karel Zaalberg, seorang editor di surat kabar harian Bataviaasch Nieuwsblad, mengatakan pemerintahan kolonial Belanda begitu terlambat dan menutupi fakta sesungguhnya terkait pandemi Flu Spanyol seabad silam. Pemerintah Hindia Belanda saat itu juga mengatakan bahwa Flu Spanyol juga sebagai flu biasa yang sudah lazim menjangkit masyarakat dunia. Nahasnya, saat Flu Spanyol mulai menyebar ke pelosok negeri dan lagi-lagi menjatuhkan korban lebih banyak, pejabat-pejabat setempat malah menyalahkan masyarakat terkait mewabahnya pagebluk ini karena warga terbiasa hidup dengan jorok. Ironisnya lagi, setelah korban terus-menerus berjatuhan, pernyataan pemerintah Hindia Belanda ditutup dengan dalih bahwa Flu Spanyol ini tidak mempunyai obat selain amal dan perbuatan baik.

Akhirnya karena kelalaian dan ketidakpedulian pemerintah Hindia Belanda, korban meninggal menyentuh hingga angka 4 juta seperti yang Siddarth tuliskan dalam jurnalnya.  Banyaknya korban tentu karena pemerintah pada masa itu tidak transparan dan enggan mengeluarkan tindakan preventif atau kebijakan konkrit yang mampu menyelamatkan rakyat. Pemerintah kolonial malah membiarkan dan mengabaikan, sehingga pandemi tersebut menjadi bekas kelam lintasan sejarah Indonesia yang kini kembali dihantam pandemi virus corona.

Ahmad Arif, penulis buku Hidup Mati di Negeri Cincin Api menulis dalam esai singkatnya berjudul Pagebluk di kolom Catatan Iptek Kompas.id. Arif mengatakan bahwa respons pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi pandemi Flu Spanyol saat itu merupakan siklus yang kembali terulang seperti yang terjadi dengan respons pemerintah saat ini yang tengah kelabakan menghadapi pandemi virus corona. Ia mengkomparasikan respons negara lain untuk mengantisipasi virus korona dengan respons pemerintah Indonesia. Misalnya ketika negara lain mulai mengantisipasi dengan menutup jalur penerbangan, pemerintah Indonesia justru memberikan diskon pesawat untuk memperbaiki ekonomi, lalu ketika kekhawatiran mulai muncul di benak masyarakat, pemerintah justru melontarkan jawaban dengan lelucon dan narasi anti-sains yang malah membuat masyarakat tambah panik dan kebingungan.

Hal ini menjadi refleksi bahwa betapa bahayanya jika pada saat menghadapi pandemi pemerintah malah menyepelekan dan menutup-nutupi hal yang sebenarnya sedang terjadi. Pemerintah harusnya lebih sadar bahwa transparansi informasi itu sangat efektif dalam menangani wabah. Jika pemerintah terus-menerus seperti ini dan tidak membuka ruang informasi terhadap masyarakat dalam menghadapi pandemi virus corona ini, bukan tidak mungkin siklus yang terjadi pada pandemi Flu Spanyol itu akan kembali terulang dengan banyaknya korban berjatuhan.

Saat ini, hari Sabtu, 4 April 2020, menurut keterangan Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, kasus virus corona di Indonesia telah menginfeksi 2,092 orang dengan total pasien meninggal 190 orang dan yang sembuh 150 orang. Jika kita melihat pernyataan dari Pemerintah Daerah, salah satunya Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Tentu masih banyak orang yang belum terdeteksi karena minimnya laboratorium yang dipakai dan tidak terlalu efektifnya rapid test yang telah dilaksanakan. Sungguh amat disayangkan keterlambatan antisipasi yang dilakukan pemerintah. Ketika pemerintah mempunyai waktu dua bulan untuk bersiap-siap dalam menghadapi virus corona, pemerintah malah memikirkan sektor ekonomi dan investasi ketimbang menggenjot sumber daya tenaga kesehatan, ataupun melakukan tindak pencegahan yang lebih konkrit untuk menyelamatkan rakyat.

Andai pemerintah lebih tegas sedari awal, kita mungkin tengah berpelukan ria serta berjabat tangan mesra dengan keluarga dan kerabat terdekat kita. Andai pemerintah lebih tegas sedari awal, mereka yang sekarang telah pergi karena virus corona mungkin tengah becanda penuh tawa dengan orang yang mereka cinta. Andai pemerintah lebih tegas sedari awal, para dokter, perawat atau pun tenaga kesehatan yang telah berguguran saat ini mungkin tengah tersenyum bersama keluarganya, sembari bercerita tentang kisah heroik mereka yang kembali berhasil menyelamatkan nyawa manusia.

Andai pemerintah lebih tegas sedari awal, saya hanya bisa berdoa agar pandemi ini lekas pergi dan berakhir, agar kita bisa kembali berpelukan hangat seraya tertawa, sembari televisi kita menyala menyaksikan Liverpool mengangkat Piala Liga.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

#Suarakan adalah Rubrik baru Parmagz Paramadina yang bertujuan untuk mewadahi dan memberikan ruang kepada khalayak untuk menulis dan membagikan gagasan, perspektif, pemikiran, dan perasaan mengenai kondisi pribadi maupun sekitar yang dialami saat-saat belakangan ini.

Bagikan:
357