Jakarta, Parmagz – Ketika masih bocah, kawan-kawan sebayanya memanggil dia Si Maroko. Hal itu tidak lain karena ia agak berbeda dari anak-anak Jerman pada umumnya: kulitnya agak gelap, matanya sedikit cekung tapi tajam, perawakannya gempal dan posturnya pendek.

Si Maroko ini, punya satu kawan main yang sangat akrab, Jenny, anak tetangga rumahnya yang berdarah bangsawan Prusia. Saat itu kakak Jenny, Ferdinand, mengemban jabatan sebagai Menteri dalam negeri Jerman.

Jenny nampaknya jatuh hati pada Si Maroko yang kerap berpenampilan tidak rapi ini. Mungkin sebab perhatian yang ia berikan pada Jenny, dan itu memiliki kesan tersendiri. Hubungan cinta memang kemudian terjalin di antara mereka.

Hubungan mereka sangat romantis. Ketika suatu saat lelaki idaman Jenny ini harus pergi ke perantauan untuk kuliah, pria brewok ini sering menulis surat untuk ayahnya, dan tentu saja untuk Jenny, kekasihnya. Pada sebuah surat yang dikirim ke ayahnya yang berisi curhatan dia tentang Hegel –salah satu filsuf yang pernah ia kagumi sekaligus kritisi— di bagian akhir surat, tidak lupa pemuda ini menitipkan salam dan pujian untuk Jenny,

“Ayah, tolong sampaikan salamku untuk Si Manis, Jenny yang mengagumkan. Aku sudah membaca surat darinya belasan kali, dan ketika membacanya kembali, aku selalu menemukan kegembiraan baru.”

Sejak tumbuh remaja hingga dewasa, tidak sedikit pinangan yang ditujukan pada Jenny anak bangsawan ini. Tapi semakin banyak pinangan yang datang, semakin sering pula ia menolaknya. Tak peduli pinangan-pinangan yang datang padanya berasal dari “kalangan atas”, sekelas dengan keluarganya. Namun memang, hati Jenny baru dibuka ketika kekasihnya, seorang pemuda brewok yang menjadi karibnya sejak kecil datang melamar, pemuda itu bernama Karl Marx.

Marx lahir di kota Trier yang termasuk kawasan Kerajaan Prusia. Puluhan tahun kemudian kota di Jerman ini menjadi legenda, sebab seorang tokoh besar, Karl Heinrich Marx dilahirkan di sana. Marx lahir pada tanggal 5 Mei dengan angka tahun yang mudah diingat, 1818.

Frederick Copleston mencatat dalam A History of Philosophy, Volume VII (1994: 306), bahwa Marx memiliki darah Yahudi dari ayahnya. Ayah Marx adalah seorang Yahudi liberal, yang kemudian menjadi seorang Protestan pada tahun 1816. Marx sendiri dibaptis ketika berusia 6 tahun. Marx dibesarkan dalam tradisi rasionalisme Kantian dan liberalisme politik yang dianut oleh sang ayah.

 

Mendalami Filsafat

Pendidikan menengah atas ia selesaikan dari Gimnasium, di kota kelahirannya. Lulus dari sana, oleh ayahnya yang seorang pengacara, ia dipaksa masuk kuliah jurusan hukum. Marx awalnya menolak, tapi kemudian dengan sangat terpaksa harus menjalaninya. Ia bertahan di jurusan Hukum Universitas Bonn hanya satu tahun. Dari Bonn, ia melanjutkan pengembaraannya ke Universitas Berlin, di sana ia mengambil spesialisasi filsafat. Di masa ini juga ia aktif dalam gerakan sayap kiri yang keras mengkritik pemerintah.

Marx bergabung dengan Klub Hegelian Sayap Kiri bernama Doktor Klub. Marx terkenal sebagai filsuf yang membalikkan Hegel, dengan menjadikan yang material lebih utama dibanding yang ideal. Meski demikian, ada beberapa warisan filsafat Hegel yang kemudian membangun pemikiran filsafat Marx.

Baca juga:  Makoto Shinkai dan Karyanya yang Mungkin Jadi Abadi

Menurut Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern (2015: 204), setidaknya ada 3 pengaruh besar Hegel dalam filsafat Marx. Pertama adalah Marx memakai metode dialektis untuk menjelaskan sejarah. Kedua Marx mengikuti jejak Hegel bahwa lewat sejarah manusia bisa mewujudkan dirinya ke arah sebuah tujuan tertentu. Ketiga, Marx juga masih merefleksikan kenyataan negatif atau alienasi.

Selepas dari Berlin, seperti yang dikisahkan dalam Peta Pemikiran Karl Marx (2003: 40), Marx melanjutkan belajarnya di Univeritas Jena. Pada usia 23 tahun, dengan disertasinya yang berjudul Perbedaan antara Filsafat Alam Demokritos dan Epikuros yang diajukan tahun 1841, Marx berhasil memperoleh gelar doktor di bidang filsafat. Semula Marx bercita-cita sebagai dosen yang merintis karir di tangga akademis kampus. Namun, pemikiran radikalnya yang susah berkompromi dengan kondisi negara dan kampus saat itu, menjadi alasan untuk dia membatalkan keinginannya.

 

Dari Filsafat ke Jurnalistik

Titik inilah yang menjadi pijakan awal Marx menceburkan diri dalam dunia jurnalistik. Selain karena alasan keterbatasan ruang gerak jika ia tetap menjadi dosen, alasan Marx kemudian bergabung menjadi jurnalis di sebuah majalah oposisi, Rheinische Zeitung terbitan kelompok radikal waktu itu, adalah karena dia tidak puas dengan apa yang ia kerjakan Bersama Klub Hegelian Sayap Kiri yang ia ikuti. Marx tidak puas dengan diskursus yang terjadi di sana hanya sebatas murni teori, hal itu bagi Marx tidak revolusioner. Pada majalah yang baru terbit itu, Marx menerbitkan tulisan pada edisi perdana majalah tentang kaum petani Jerman.

Menjadi jurnalis semakin mengukuhkan alasannya untuk keluar dari Doktor Klub. Sebab, seperti yang dipaparkan Copleston, “… pekerjaannya (sebagai jurnalis ini) membawa dia ke dalam kontak yang lebih dekat dengan masalah-masalah politik, sosial dan ekonomi yang konkret, dan ia menjadi yakin bahwa teori harus diaplikasikan dalam kegiatan praktis, dalam tindakan…” (1994: 306).

Tak selang beberapa lama setelah menjadi wartawan, pada tahun 1842, Marx kemudian diangkat menjadi pemimpin redaksi majalah progresif ini. Ia pindah dari Berlin ke Koln. Sebab terlalu keras mengkritik pemerintahan Jerman, majalah Rheinische Zeitung dibredel setelah terbit setahun. Pemikiran radikal Marx memang banyak menyusahkan hidupnya, tapi Marx bukanlah jenis manusia yang mudah patah.

Marx lalu berpindah ke Paris. Dalam Peta Pemikiran Marx (2003: 42) disebutkan, di Paris Marx bersama Arnold Ruge kembali menerbitkan jurnal yang tidak kalah galak bernama Deutsche-Französische Jahrbücher. Marx juga banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh sosialis bawah tanah di sana. Kajian mendalam tentang sosialisme juga ia pelajari semasa di Paris ini.

Meski tidak lama tinggal di Paris, banyak hal yang Marx peroleh. Salah satunya yang paling berharga adalah awal perkenalannya dengan Frederich Engels, seseorang yang kemudian menjadi tandem pemikiran sekaligus sahabat karibnya hingga akhir hayat. Pertemuan mereka pertama kali terjadi pada tahun 1847. Engels adalah anak orang kaya dari London, ayahnya mempunyai pabrik. Namun Engels tumbuh sebagai seorang yang revolusioner. Meski latar belakang ekonomi keluarga mereka beda, pemikirannya satu frekuensi dan memiliki cita-cita yang sama dengan Marx: mengganyang habis kapitalisme dan membikin tatanan masyarakat tanpa kelas.

Baca juga:  Makoto Shinkai dan Karyanya yang Mungkin Jadi Abadi

Dari Paris Marx berpindah ke Brussel. Diceritakan oleh Michael H. Hart, di kota inilah lahir karya pertama Marx, Kemiskinan Filsafat (1847). Marx banyak mengalami masa sulit sepanjang hidupnya. Meski demikian, dia tidak pernah menggadaikan ideologi yang ia pegang hanya demi sesuap nasi. Dari Brussel, Marx akhirnya memutuskan kembali ke Koln.

Dalam kunjungan ke Koln Marx bertemu dengan seorang editor surat kabar The New York Tribune, Charles Dana. Dana meminta Marx untuk menulis tentang Jerman untuk surat kabar Amerika ini. Kisah pertemuan Marx dan Dana ini diceritakan dalam sebuah wawancara Steven Sherman dengan editor buku kumpulan tulisan Marx yang terbit di surat kabar tersebut, James Ledbetter. Buku kumpulan tulisan Marx ini oleh Ledbetter diberi judul Dispatches for the New York Tribune: Selected Journalism of Karl Marx (2007).

“Marx menerima tawaran Dana,” cerita Ledbetter, “sebab Marx butuh dana.” Dari The New York Tribune itulah Marx baru pertamakali mencecap pendapatan yang lumayan stabil. Selama ini, Engelslah yang membantu persoalan keuangan Marx hingga ia bisa terus bertahan untuk memperjuangkan pemikiran dan ideologinya. Selain persoalan keuangan tadi, Ledbetter yakin baik Marx maupun Engels memandang The New York Tribune bisa difungsikan sebagai media untuk mempublikasikan pandangan mereka supaya bisa menjangkau para pembaca yang lebih luas.

Marx menulis untuk The New York Tribune dari London. Sebab, tak lama setelah sampai di Koln, ia kembali diusir oleh pemerintah. Jadilah London sebagai pelabuhan terakhir Marx hingga meninggal dunia. Di London Marx juga menulis untuk koran The People’s Paper. Marx tidak berminat menjadi kontributor untuk surat kabar di London selain yang satu itu. Apa yang diungkap Ledbetter tadi, diperkuat oleh oleh Immanuel Wallerstein, seorang Marxis Amerika, dalam bincang-bincangnya dengan Marcello Musto, editor buku Marx for Today (2012).

Hidup Marx digariskan untuk berpindah dari satu negara ke lainnya, serta dipenuhi dengan penderitaan dan perjuangan. Tapi dari perpindahan demi perpindahan itu, ada satu hal yang tidak lepas dari Marx: jurnalisme. Marx di balik sosok pemikir kenamaan, adalah juga seorang jurnalis tangguh.

Nezar Patria, pemimpin redaksi The Jakarta Post, dalam tulisannya Filsafat dan Jurnalisme menilai, hasil kerja jurnalistik Marx, terutama yang ia garap semasa di Rheinische Zeitung –yang kebanyakan bertema kritik terhadap kapitalisme dan ditulis pada tengah abad ke-19— kelak pada awal abad berikutnya, banyak menjadi inspirasi dan pemercik api revolusi sosialis di negara-negara dunia. (mfa/mfa)

Bagikan:
408