Universitas Paramadina, sebuah kampus kecil yang menghadirkan suasana rumah untuk para Civitas Akademika yang tinggal di dalamnya. Layaknya sebuah rumah, Paramadina menjadi tempat kita berkumpul dengan keluarga yang kita kasihi. Sebagai salah seorang anggota keluarga baru, saya menyukai suasana kekeluargaan yang terjalin di Paramadina. Sejak mendaftar sampai dengan mengikuti perkuliahan, saya dipertemukan dengan orang-orang yang tulus dalam belajar, mengajar, dan melayani. Ketika menghadiri Graha Mahardika Paramadina (GMP) kelas paralel, saya terkesan dengan komitmen Paramadina terhadap waktu. GMP dilaksanakan tepat waktu dan dihadiri oleh sebagian besar calon mahasiswa yang kebanyakan berstatus sebagai pekerja. Meluangkan waktu untuk menghadiri GMP, bukanlah hal yang mudah untuk mahasiswa yang berstatus sebagai pekerja. Kami perlu mengalokasikan waktu dengan sebaik-baiknya agar tetap bisa bekerja dan menghadiri GMP di Paramadina. Kami sangat mengapresiasi kinerja panitia GMP yang menghargai waktu para mahasiswanya. 

Salah satu alasan saya memilih kuliah di Paramadina karena visi dan misi yang digaungkan sejalan dengan nilai-nilai hidup yang saya anut. Seiring berjalannya perkuliahan saya mulai mengamati penerapan visi dan misi dalam kegiatan belajar, mengajar, dan interaksi antar sesama civitas akademika. Namun ada satu kebijakan yang menurut pendapat saya perlu revisi.  Hal ini terkait kebijakan Zona Rokok di lingkungan kampus. Menurut pendapat saya, kebijakan tersebut tidak mendukung terwujudnya misi Paramadina untuk membina generasi manusia baru yang bertakwa dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta berintegritas. Sebagai Institusi Pendidikan, Paramadina termasuk salah satu kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang diatur dalam Pergub DKI Jakarta No 88 Tahun 2010. Konsekuensi dari Pergub tersebut adalah tidak diizinkannya kegiatan merokok di lingkungan kampus. Melalui penerapan zona rokok berarti kampus masih mengizinkan kegiatan merokok. Kebijakan ini tidak menyelesaikan masalah dan bertentangan dengan misi kampus dan Pergub DKI Jakarta No 88 Tahun 2010.

Sebagai anggota keluarga Paramadina, saya juga ingin mengingatkan kembali bahwa berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pajanan asap rokok dari second-hand smoke (asap rokok yang sengaja ataupun tidak sengaja terhirup oleh orang lain) mengandung 4000 bahan kimia. Tak kalah berbahayanya, third-hand smoke (sisa racun rokok yang menempel di perabotan, kursi, rambut, dan baju) juga mengandung 250 bahan kimia. Hal ini meningkatkan risiko warga Paramadina untuk terserang berbagai penyakit seperti jantung, asma, pneumonia, kanker, bahkan corona. Upaya pihak kampus dengan menerapkan Zona Rokok di kantin atau ruangan khusus perokok sudah tidak relevan untuk diterapkan. Penelitian dari The American Society of Heating, refrigerating and Air Conditioning Engineers (ASHRAE) menyatakan bahwa ventilasi dan teknologi filtrasi udara tidak dapat menghilangkan risiko kesehatan karena paparan asap rokok. Ventilasi bukan merupakan alat yang tepat untuk mengontrol paparan terhadap asap tembakau sehingga zona ini tidak memberikan keamanan bagi warga Paramadina tanpa terkecuali. Terlebih lagi kantin merupakan fasilitas yg disediakan untuk semua warga Paramadina. Kantin semestinya menjadi tempat yang perlu dijaga kebersihannya karena menjual berbagai makanan dan minuman yang kita konsumsi bersama. Tentunya manusia berakal tidak bersedia makanannya dibumbui asap rokok yang mengandung berbagai zat kimia berbahaya. 

Berdasarkan informasi yang saya peroleh, di tahun 2008 upaya memperjuangkan “Kampus Bebas Rokok” ternyata sudah pernah diusulkan oleh Tim Kampanye “Kampus Bebas Asap Rokok” Universitas Paramadina. Tujuan Jangka panjang dari kampanye tersebut untuk mewujudkan cita-cita Universitas Paramadina sebagai Universitas Bebas Asap Rokok. Namun, sampai hari ini ternyata kampanye tersebut seolah jalan di tempat dan penyelesaiannya tidak menjadi prioritas utama dari pihak kampus. 12 tahun berlalu, kampanye “Kampus Bebas Asap Rokok” hanya menghasilkan zona abu-abu. 

Saat ini kebutuhan terhadap lingkungan yang bersih dan udara yang segar sudah tidak bisa ditawar lagi. Saya berharap, ketika kegiatan perkuliahan sudah berjalan normal kembali  Paramadina hadir dengan solusi di tahun 2020 in. Menghapuskan zona rokok dan menerapkan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di semua area kampus. Solusi ini tidak hanya menyelamatkan perokok pasif, tapi juga bisa menjadi salah satu bentuk dukungan. Dukungan bagi warga Paramadina yang berstatus perokok aktif untuk sembuh dari adiksinya. Mulai dari mengurangi kebiasaan merokok secara perlahan, minimal di lingkungan kampus. 

Tulisan ini saya tujukan kepada Rektor dan semua pihak yang mampu mengubah kebijakan di kampus peradaban. Semoga Rektor dan jajarannya mampu mengambil langkah tegas untuk mewujudkan Universitas Paramadina Bebas Rokok. Semoga Rektor dan jajarannya tidak menutup mata  dan mengabaikan fakta-fakta tentang dampak negatif rokok yang sudah khatam kita baca bertahun-tahun lamanya.

Setiap manusia dianugerahi kemampuan memilih dan saya tidak bisa mengubah pilihan teman-teman perokok untuk menghisap nikotin. Saat ini yang mampu saya lakukan sebagai mahasiswa dan anggota keluarga Paramadina adalah menulis. Menulis untuk mengingatkan. Bukankah peringatan semestinya berguna bagi manusia yang  mampu menyelaras kan akal dan nuraninya? 

 

Bagikan:
Baca juga:  Reinkarnasi Orba dalam UU Cipta Kerja
403