Sudah lebih dari satu dekade Serikat Mahasiswa (SEMA) menjalani tugas sebagai perwakilan tertinggi Organisasi Kemahasiswaan Universitas Paramadina (OKUP). Tonggak estafet kepengurusan pun telah silih berganti mengarungi perjalanan SEMA selama lebih dari sepuluh tahun. Memasuki tahun yang ke-11 dalam perjalanan SEMA, tentu bisa dikatakan umur SEMA masih terbilang muda sebagai sebuah organisasi intra kampus yang mengemban tanggungjawab besar terhadap mahasiswa Universitas Paramadina. Sebelas tahun bukanlah waktu yang cukup bagi SEMA, untuk setidaknya menciptakan sebuah fungsi dan peranan organisasi yang ideal untuk menjalankan sarana keorganisasian. Peningkatan sistem dan fungsi tentunya masih harus terus dilakukan secara berkala di setiap periode kepengurusan SEMA saat ini dan ke depannya.

SEMA sendiri ialah suatu sistem organisasi alternatif kemahasiswaan di Universitas Paramadina. Alternatif di sini adalah SEMA sebagai suatu sistem organisasi pengganti dari sistem Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang dahulu pernah diterapkan sebagai sistem organisasi tertinggi di Universitas Paramadina. Dalam lintasan historis terbentuknya SEMA, memang ada transisi sistem organisasi yang awalnya menggunakan sistem BEM DPM, menuju ke sistem alternatif yang disebut Serikat Mahasiswa.

SEMA dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal (Sekjen), kepengurusan Sekjen akan dibantu oleh Dewan SEMA dan pimpinan OKUP yang di dalamnya meliputi Himpunan Mahasiswa (HIMA), serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Itulah mengapa, berlaku kata “Serikat” yang artinya SEMA adalah naungan bagi Sekretaris Jenderal, Dewan SEMA, serta OKUP.

Lebih lanjut, penjelasan alternatif dari sistem Serikat Mahasiswa sendiri ialah terkait sistem ini yang memberikan berbagai penawaran mekanisme baru yang tidak ditemukan dalam sistem BEM atau pun Senat Mahasiswa. Seperti halnya pengawasan langsung atau check and balances yang dilakukan oleh OKUP, melalui anggota Dewan Serikat Mahasiswa yang didelegasikan oleh setiap OKUP itu sendiri. Sehingga dalam hal ini secara tidak langsung sistem tersebut mengikat masing-masing OKUP untuk turut ikut menyokong jalannya keorganisasian dari Serikat Mahasiswa.

Namun, bukan berarti dari adanya penawaran tersebut membuat sistem Serikat Mahasiswa adalah sebuah sistem yang sempurna dan tidak mempunyai kekurangan apa pun. Sejatinya sistem yang dianut SEMA sendiri bisa dikatakan masih bersifat belum matang, hal ini bisa dibilang wajar karena masa transisi untuk mengubah suatu sistem tidak sama halnya dengan sekadar membalik telapak tangan. Tentu butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa menerapkan struktur yang kuat, serta-merta dasar sistem yang jelas di dalam Serikat Mahasiswa. Dan tentunya, semenjak terbentuknya SEMA, di setiap periode kepengurusan, anggota SEMA selalu berusaha supaya terus meningkatkan fungsi dan peranan SEMA sebagai organisasi perwakilan tertinggi untuk bisa mewadahi setiap anggotanya di kampus peradaban. Tapi seperti yang saya dikatakan di atas, butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa merealisasikan perihal tersebut.

Parmagz/Istimewa

Peran Besar Sekretaris Jenderal di Setiap Periode

Sebagai pimpinan dari Serikat Mahasiswa, Sekretaris Jenderal yang menjabat punya andil besar dalam periode kepengurusan SEMA yang dipimpinnya. Kebijakan, program maupun langkah yang diambilnya nanti ketika menjabat, pastinya akan berpengaruh besar dalam menghidupkan SEMA ke depannya, yang tentunya bukan hanya memengaruhi masa kepemimpinannya saja, tetapi efeknya juga pasti akan terasa ke dalam SEMA periode selanjutnya. Oleh karena itu, agenda pergantian kepengurusan seperti Pemilihan Sekjen menjadi pertimbangan yang ketat dalam menentukan sosok pemimpin seperti apakah yang dirasa mampu “menghidupkan” organisasi di Kampus Peradaban ke depannya.

Dalam kepengurusannya, SEMA mempunyai periode yang sudah tercatat dalam jangka waktu tertentu. Dengan jangka waktu yang tidak terlalu panjang dalam satu periode, yaitu hanya dalam jangka waktu 9 bulan. Sekretaris Jenderal dan anggota SEMA seluruhnya harus mampu memberikan program kerja yang tepat dan efektif. Selain program yang tepat, sebagai seorang organisatoris, sosok Sekjen yang menjabat pun harus betul-betul memahami konsep “Serikat” dalam Serikat Mahasiswa.  Serikat di sini dimaksudkan sebagai sense of belongin dan tanggungjawab SEMA terhadap seluruh mahasiswa Universitas Paramadina, bukan hanya rasa bertanggungjawab itu terhadap OKUP saja.

Sekjen dan anggotanya tentu jangan sampai melupakan dan harus lebih memaksimalkan fungsi kemahasiswaan seperti advokasi, koordinasi dan kaderisasi dalam SEMA. Dengan memaksimalkan hal tersebut, maka peran SEMA untuk menjadi wadah bagi mahasiswa Universitas Paramadina otomatis akan mampu terpenuhi. Karena yang saya khawatirkan di sini, adalah ketika program kerja Sekjen dan anggotanya hanya berfokus pada sesuatu yang event oriented, sedangkan perihal kemahasiswaan yang mempunyai urgensi yang sama pula, malah seakan meredup karena terfokus pada proker yang terpusat pada Dewan SEMA atau pun OKUP. Tentunya hal itu akan menyebabkan rasa kepemilikan mahasiswa Paramadina terhadap Serikat Mahasiswa pun nantinya akan tergerus, serta berpotensi menjadi apatis terhadap keorganisasian di dalam kampus.

Dan tentu, nantinya akan berpengaruh terhadap penilaian mahasiswa terkait eksistensi SEMA sebagai organisasi tertinggi di kampus Paramadina, yang seharusnya juga bertanggungjawab terhadap mahasiswa Paramadina pada umumnya. Karena perlu digarisbawahi di sini, organisasi tertinggi yang kita naungi bersama ini bernama Serikat “Mahasiswa”, bukan Serikat “OKUP”. Sehingga tentunya peran besar SEMA akan terealisasikan jika benar-benar memaksimalkan fungsi dan perannya sebagai wadah mahasiswa di Kampus Peradaban. Dan barulah jika hal tersebut telah berhasil dilakukan, maka kita bisa melihat bahwa pergerakan Serikat Mahasiswa benar-benar dapat dikatakan bersifat inklusif, bukan eksklusif.. 

Merawat SEMA adalah Tugas Kita Bersama

Kontestasi Pemilihan Sekjen tentu berperan penting terhadap kinerja Serikat Mahasiswa ke depannya. Karena peralihan tongkat kepemimpinan akan menentukan kebijakan dan program apa yang akan dilaksanakannya satu periode ke depan. Tentunya kita bisa memahami, bahwa kontestasi Pemilihan Sekjen bukan sekadar ajang menggapai kepentingan pihak yang mencalonkan, atau pun pihak yang menyokongnya untuk maju dalam kontestasi tersebut. Kontestasi tersebut bukan hanya milik kepentingan satu pihak saja, melainkan apa yang akan kita laksanakan nanti adalah demi mewujudkan kepentingan bersama, dengan cita-cita untuk bisa memperbaiki dan memaksimalkan peran dan fungsi Serikat Mahasiswa sebagai organisasi intra kampus yang mewadahi seluruh mahasiswa Universitas Paramadina.

Siapa pun Sekjen yang terpilih nanti, tentu diharapkan bukan hanya sosok yang sekadar piawai dalam memberikan orasi, tetapi juga sosok Sekjen yang mampu untuk melakukan eksekusi kebijakan yang diamanatkan dalam Kongres, yang nantinya diterapkan dalam bentuk program kerja yang berkelanjutan dalam organisasi yang kita naungi bersama ini. 

Untuk bisa memaksimalkan sistem Serikat Mahasiswa seperti yang saya jelaskan di atas. Tentunya membutuhkan pembenahan-pembenahan dalam setiap periode kepengurusan dalam Serikat Mahasiswa. Namun, perlu diingat dan dipahami, bahwa Serikat Mahasiswa bukan hanya milik Sekretaris Jenderal semata, bukan pula milik Dewan Serikat Mahasiswa atau pun OKUP saja. Tetapi Serikat Mahasiswa adalah milik kita bersama, dan sudah seharusnya kita turut serta bertanggungjawab secara kolektif untuk mengawal dan berperan dalam meningkatkan serta memaksimalkan sistem Serikat Mahasiswa, yang tentunya masih banyak hal yang harus kita benahi agar bisa lebih baik lagi ke depannya.

Opini ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Parmagz.

 

 

 

Bagikan:
372