mahmilubkan

foto : http://socio-politica.com/

 

Oleh : koesnandang

Angkatan 66 yang selalu diidentikan dengan kelompok yang anti Soekarno, merupakan sebuah proses suatu pergerakan yang dilakukan lewat aktivisme politik Mahasiswa maupun oleh kelompok  Intelektual kebudayaan yang pada perkembangan selanjutnya membentuk suatu manifes kebudayaan. Sejak dikeluarkannya dekrit Presiden 5 Juli 1959 dikeluarkan oleh Soekarno, Indonesia yang seharusnya sebagai negara demokratis yang mendasarkan prosesnya pembagian kekuasaannya terdiri atas tiga lembaga, legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Tetapi dalam demokrasi terpimpin hasil dari dekrit ini, pembagian kekuasaan hanya ada antara Presiden Soekarno dan militer.

Dari situasi seperti itu lalu terbentuklah partai-partai besar seperti PNI, NU, dan PKI sebagai respon atas kebijakan Seokarno tersebut. Di tambah lagi situasi politik internasional (pertentangan Pakta Warsawa dan NATO) semakin memanas dan mempengaruhi situasi politik nasional sehingga Soekarno semakin menggandeng PKI yang menjadi kekuatan politik yang sangat efektif untuk mengimbangi kalangan pendukung Demokrasi yang bagi Soekarno sendiri selalu menimbukan kisruh keparlemenan yang tdak kunjung usai hingga menimbulkan pergantian kabinet sebanyak empat kali dalam tempo tiga tahun setengah semenjak 1955-1959.

Namun justru dalam masa kepemimpinan Era Demokrasi terpimpin ini juga tidak lepas dari berbagai masalah. Kondisi internal Indonesia yang semakin parah akibat adanya program pemerintah yang menyita perhatian seluruh masyarakat dan biaya yang sangat besar di antaranya adalah pembebasan Irian Barat 1962 dari kolonial Belanda, konfrontasi dengan Malaysia, dan perekonomian yang merosot dengan kebijakan yang semakin memberatkan rakyat sehingga  menyebabkan inflasi dan ketegangan politik yang semakin jauh. Hingga pada puncaknya meletus Gerakan 30 September 1965 oleh PKI. Membuat mahasiswa yang merasa tidak puas dengan kebijakan Dekrit 5 Juli 1959 kembali bergerak memanfaatkan situasi untuk mengkritik Soekarno. Gerakan protes ini kemudian terkristalisasi dengan terbentuknya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada tanggal 25 Oktober 1965 yang pada selanjutnya tersebar ke mana-mana untuk melakukan koreksi terhadap rezim yang ada.

Mahasiswa menyampaikan tuntutan-tuntutan secara spontan. Lalu dirumuskan dalam sebuah konsep sederhana yaitu Tritura yang isinya menuntut pembubaran PKI, bubarkan kabinet  Dwikora, dan turunkan harga barang. Dideklarasikan pada 10 Juni 1966 tepat  hari kebangkitan mahasiswa Indonesia.

Pada konteks politik-kepartaian. Pembubaran dua partai PSI dan Masyumi sebagai kelanjutan dari Dekrit 59 oleh soekarno (1960), membuat banyak tokoh dari kedua partai tadi melakukan konfrontasi langsung dengan penguasa saat itu (Soekarno). Pembubaran kedua partai ini juga dianggap sebagai babak awal rezim Keotoriterian ala Soekarno. Momen inilah yang dimanfaatkan oleh kelompok Militer sebagai peluang kerjasama membangun suatu Era Baru dalam membangun Bangsa kedepanya. Yang padahal pada era parlementer justru antara kalangan pendukung Demokrasi keparlemenan juga tidak mengalami kemesraan politiknya dengan Militer (AD).

Kegagalan Soekarno yang dalam setiap penumpasan kepada simpatisan-simpatisan dari partai Masyumi dan PSI di berbagai daerah mendapatkan tekanan dari PKI yang dekat dengan pemerintahan Demokrasi Terpimpin berpuncak pada pemberontakan 30 september 1965. Yang kemudian di respon balik oleh Gerakan gabungan dari kalangan Militer dan pendukung Demokrasi Parlementer. Yang kemudian diikuti oleh konsolidasi Gerakan aksi mahasiswanya melalui KAMMI. Mereka berhasil dan kemudian mengambil alih kekuasaan melalui berbagai konteks politik yang cukup rumit. Singkatnya melalui Supersemar Orde Baru dan angkatan 66 muncul sebagai sebuah angkatan gerakan kemahasiswaan.

Dalam Perencanaan Pembangunan dalam berbagai aspek birokrasi, pemerintahan Orde Baru ini banyak menggunakan tokoh-tokoh dari apa yang disebut “Angkatan 66”. Mereka inilah yang nantinya membuat perencanan didalam kebijakan pembangunan. Hal ini berlanjut hingga munculnya reformasi yang terjadi pada 1998.

Sebenarnya kalau kita melihat dari cita-cita angkatan 66 yang terlibat secra langsung di awal-awal orde baru ialah menyamaratakan kemajuan ekonomi seluruh lapisan masyarakat. Gagasan ini di wakili oleh soedjatmoko dan Soemitro Djojohadikoesumo. Tapi pada perjalan berikutnya justru bukan penyamarataan ekonomi. Tetapi kesenjangan ekonomi di lapisan masyarakat kita. Dan hal ini pula di tambah dari generasi angkatan 66 yang masih ada mayoritas juga lebih memntingkan hasrat politik pribadi dan golongan yang jauh dari perjuangan mensejahterakan rakyat.

Melihat kondisi yang seperti inilah. Kini saatnya kita mempertanyakan seberapa besarkah peranan angkatan 66 ini dalam keikutsertaannya membangun pembangunan bangsa Indonesia. Hal ini mengacu kepada semakin lebarnya disparitas antara kalangan elit di lingkaran penguasa dengan rakyat indonesia. Maka sekali lagi inilah yang harus kita pertanyakan. Kemanakah angkatan 66. Masihkah ingat dengan cita-citanya ataukah mau membuka keran kepentingan luar di indonesia di tahun ke 16 Reformasi Indonesia?

Bagikan:
375