Pandemi Covid-19 merupakan wabah yang hari ini menjadi masalah dunia, di seluruh belahan benua mendapati Covid-19 ini. Data terakhir yang dikutip dari worldometer.info  sejak adanya kasus Covid-19 pada 22 Januari sampai 31 Maret 2020, total terdapat 785.777 kasus,  dengan 37.815 orang meninggal, dan 165.607 orang yang terinfeksi sembuh, serta masih ada 582,355 kasus yang masih berkembang. Hal ini menciptakan kepanikan global mengingat virus ini mempunyai tingkat penyebaran yang cepat dari manusia ke manusia lainnya.

Indonesia menempati angka kematian tertinggi, dari 1,414 orang yang positif Covid-19 dengan angka kematian 122 orang meninggal, sehingga fatality rate sekitar 8,62%. Kegagalan pemerintah mereduksi pandemi ini disinyalir karena kurang terbukanya pemerintah terhadap pesebaran informasi terkait wabah pandemi Covid-19 yang sudah mengguncang dunia sejak 22 Januari 2020, sedangkan pemerintah pusat baru saja mengumumkan kepada masyarakat kasus pertama atau nomor 01 pada tanggal 03 Maret 2020. Memungkinkan sekali ketika Pemerintah mencoba lebih terbuka terhadap kasus yang sedang berkembang pada waktu itu. Tetapi sayangnya, tidak ada langkah konkrit dari pemerintah terkait tindakan preventif untuk bisa mencegah ataupun meminimalisir Covid-19 yang telah massif tingkat penyebarannya di Indonesia saat ini.

Pemerintah seharusnya memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat agar masyarakat mampu mengantisipasi wabah tersebut. Selain itu peran pers sebagai social control memiliki peran yang tak kalah pentingnya dalam memberitakan isu yang sedang berkembang saat ini. Lalu bagaimana peran pers dalam pandemi yang menjangkit hampir seluruh negara di dunia? Seperti apa individu pers bekerja saat pandemi yang terus berlangsung? Serta bagaimana pengaruh rutinitas berita yang terbit kepada masyarakat?

Pers mempunyai beberapa fungsi dalam negara, dalam hal ini di Indonesia. Menurut UU No 40 tahun 1999 fungsi pers yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Lebih jauh lagi pers memiliki peran sebagai corong informasi yang tepat; akurat; dan benar. Pers juga adalah bagian dari pilar demokrasi,  dan “badan” pengawas bagi negara, yang mempunyai identitas sebagai pejuang keadilan dan kebenaran.

Baca juga:  Reinkarnasi Orba dalam UU Cipta Kerja

Dalam beberapa catatan berita yang diulas dari beberapa media yang mengedepankan jurnalisme mulut, seperti; jpnn.com, dengan judul berita “Nikita Mirzani Beber Alasan Sumbangan Rp. 100 Juta Untuk Penanganan Virus Corona” yang hanya mengabarkan sensasional semata. seterusnya ada juga berita dari Tribunnews.com dengan “Analis: Anies tidak boleh ikut campur dalam urusan transportasi di Jakarta” yang hanya menjadikan pemberitaan tentang bagaimana pertentangan kuasa politik antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang hanya bertujuan untuk menggoreng isu tersebut untuk kepentingan bisnis  semata.

Merujuk pada peran fungsi seharusnya pers sebagai corong informasi yang tepat dan akurat tidak semestinya hanya mengejar click bait atau pun memberikan ruang bagi informasi yang sensasional saja. Pers harusnya menawarkan informasi yang akurat, serta edukatif dalam setiap pemberitaan, semisal CNN Indonesia memberitakan “Alasan di Balik Imunitas Tubuh Kuat Bisa Cegah Covid-19” berita ini menjelaskan tentang bagaimana Covid-19 bisa sembuh dengan sendirinya ketika kita menjaga imunitas yang tentunya sangat mengedukasi masyarakat saat menghadapi pandemi. Dalam hal ini memang harusnya pers lebih memberikan berita yang informatif agar masyarakat menjadi lebih aware terhadap peran mereka dalam menghadapi wabah yang telah masif tersebar di seantero dunia.

Bentuk rutinitas berita tentang Covid-19 semestinya bukan hanya sekadar bisnis informasi. Pers punya peran sebagai watch dog bagi negara, semisal CNN Indonesia memberitakan “Lembaga Australia Soroti Ketidaksiapan Jokowi Hadapi Corona” dalam beritanya CNN Indonesia menuliskan kegagapan pemerintah lewat sumber-sumber yang mempunyai kredibilitas di bidangnya.

Pada masa pandemi seperti ini peran media menjadi penting sebagai pembawa informasi. Menurut Journal of Theoritical Biology pada tahun 2016 lalu mempunyai temuan menarik terkait epidemi flu babi 2009 lalu “A Comprehensive understanding of the effect of media during an epidemic or pandemic threat can aid in promoting public health communication strategies and diesease mitigation measures” (Qinling Yan, 2016). “We obtained a statistically significant correlation between the number of daily news item and the number of news a hospital notifications by person correlation analysis” (disadur dari remotivi.org) Adanya korelasi antara peliputan media dengan penurunan penularan, semakin tinggi peliputannya semakin dikit pula pasien baru yang masuk rumah sakit. Dalam penelitian ini menunjukan media mempunyai peran dalam merubah perilaku masyarakat.

Baca juga:  Reinkarnasi Orba dalam UU Cipta Kerja

Terakhir, dalam pemberitaan segala unsur menjadi sebuah integrasi yang dikelola bersama. Harapannya lembaga/perusahaan pers dan pekerja media dengan segala pemberitaan yang dikeluarkan dapat menjadi sebuah oase pada saat wabah seperti ini.

Opini ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Parmagz.

Bagikan:
594