Jakarta, Parmagz – Indonesia dan sepak bolanya yang masih karut marut sedang terus mencoba untuk membenahi segala aspeknya; dari federasi, tim nasional, liga yang sedang bergulir dan juga manejemen para suporter. Tentu perbaikan-perbaikan itu menjadi langkah yang terus dinantikan oleh para pecinta sepak bola tanah air, agar bisa melihat sepak bola negeri ini menjadi unggul, setidaknya dalam lingkup Asia Tenggara.

Namun, ada saja yang ingin menghancurkan harapan itu. Tatkala PSSI yang semakin bobrok sebab dimadu oleh ketua umumnya yang tantara itu nyagub, ditambah dengan regulasi Liga yang amburadul, sekarang malah dirusak oleh para suporter di dalam maupun di luar lapangan yang masih belum bisa dewasa dalam menjawa marwah sepak bola Indonesia.

Kasus tewasnya suporter seakan menjadi hal yang lumrah dalam sepak bola kita, tensi tinggi yang terjadi antarkelompok pendukung klub, masih menjadi sesuatu masalah yang belum ketemu jalan penyelesaiannya. Belum selesai kasus almarhum Banu Rusman, salah satu suporter Persita Tangerang yang meninggal karena menjadi korban dalam keributan antarsuporter di Liga 2 saat menjamu PSMS Medan, sudah muncul lagi sebuah insiden yang melibatkan The Jak Mania, pendukung Persija Jakarta, dengan Viking, pendukung Persib Bandung.

Namanya Haringga Sirila, umurnya baru 23 tahun, seorang suporter Persija Jakarta yang bermaksud datang ke Kota Kembang untuk mendukung klub kesayangannya bertanding melawan rival abadi mereka, Persib Bandung. Nahasnya, pemuda itu terkenali identitasnya sebagai The Jak Mania oleh para suporter Persib Bandung, dan menjadi bahan luapan rivalitas semu antar kelompok yang terus berseteru itu, para bobotoh Haringga hingga tewas seketika di halaman Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung.

Kejadian ini menjadi sebuah tolak ukur bagaimana perkembangan sepak bola dalam negeri kita. Tentu suporter adalah bagian dari sepak bola, kehilangan supporter yang dikeroyok hingga mati, sama halnya dengan kehilangan sepak bola. Persis seperti yang dikatan oleh Bambang Pamungkas, bahwa “Tidak ada kemenangan dari sepak bola yang sebanding dengan nyawa.” Para suporter harus lebih dewasa. Rivalitas dalam sepak bola seharusnya hanya terjadi selama 90 menit di lapangan, selebihnya itu kita adalah saudara sebangsa dan setanah air yang menjunjung tinggi persatuan dan persaudaraan.

Sungguh sangat disayangkan, ketika melihat video penggeroyokan itu beberapa kelompok suporter memukuli sembari berteriak kalimat tauhid dan menyerukan nama Tuhan mereka. Ini sudah salah kaprah, tidak ada agama yang mengajarkan untuk membunuh, apalagi sesama saudara sebangsa dan setanah air. Ditambah banyaknya anak-anak yang masih di bawah umur ikut serta melihat dan beberapa membawa kayu untuk ikut menghajar Haringga malang yang sudah tak berdaya itu.

Kejadian ini menambah beban pembangungan sepak bola kita. Yang justru terjadi ketika kita masih dalam euforia semarak sportifitas dari acara Asian Games 2018, yang berhasil menyatukan banyak kalangan. Tetapi, sangat disayangkan, hari ini, pada akhirnya kita kembali berseteru hanya karena sebuah pertandingan sepak bola.

Olahraga yang seharusnya menjadi ajang untuk kita berlomba untuk menggapai suatu kemaslahatan, bukan malah dijadikan ajang untuk saling membuat tangisan.

Tentu federasi dan kepolisian harus segera mengusut tuntas kasus ini dan segera memberikan sangsi tegas kepada pihak yang bersalah. Suporter mempunyai kebebasan dan hak perlindungan untuk menonton pertandingan sepak bola, di mana pun ia berada, tanpa harus kehilangan nyawa. Untuk itu, federasi dan klub-klub harus bisa memenej para suporter untuk tidak menjadi radikal dan fanatik dalam konteks apapun. Jika masih ada kasus seperti ini dalam beberapa waktu ke depan, saya kira akan lebih baik jika sepak bola di Indonesia ditiadakan saja, sehingga kematian karena sepak bola setidaknya akan tiada lagi.

Para suporter harus bisa menjadi kelompok yang dewasa dan bisa menjaga solidaritas serta sportifitas. Dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Kita sudah sangat terpukul dengan banyaknya kasus pengeroyokan suporter yang mengakibatkan kematian oleh beberapa oknum, sudah saatnya kita berbenah, dan itu harusnya dimulai dari diri kita sendiri, sebagai suporter dan sebagai penikmat sepak bola.

Solidaritas untuk Haringga Sirla.

Bagikan:
126