Sebenarnya saya sudah malas untuk menonton Debat Capres 2019. Alasan saya sederhana saja, karena Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberikan kisi-kisi pertanyaan dari para panelis kepada para pasangan calon. Saya menganggap KPU terlalu khawatir para pasangan calon (paslon) terlalu banyak melakukan political gaffes atau blunder politik yang disebabkan oleh pernyataan-pernyataan yang dilontarkan saat debat. Blunder memang sangat mungkin terjadi jika kita lihat kualitas para paslon yang ada saat ini. Dan tentu, jika berbagai blunder terjadi lewat pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh kedua paslon, akan menjadi sasaran empuk untuk dipelintir oleh para buzzer politik. Ketika pelintiran itu terjadi, tentu hal itu juga sangat menyebalkan, karena beberapa anggota keluarga kita bisa jadi akan turut menyebarkan hoaks-hoaks pelintiran tersebut lewat grup whatsapp keluarga.

Menurut pandangan saya –dan kebanyakan pandangan orang lain yang saya baca di lini masa— memberikan kisi-kisi dalam perdebatan malah akan menghilangkan esensi dari sebuah ajang perdebatan. Saya tahu maksud dari KPU mungkin baik, seperti yang dikatakan oleh Komisioner KPU, Pramono Ubaid Tanthowi yang dilansir dari Kompas, dia berharap dengan diberikannya kisi-kisi soal tersebut, dapat membuat para paslon lebih jelas dan utuh saat menguraikan jawaban mereka. Dan ia menambahkan jika diberikannya kisi-kisi soal seminggu sebelum debat dimulai, maka diharapkan para kandidat menyiapkan jawaban terbaik agar terciptanya ide-ide cemerlang. Setelah membaca pernyataan tersebut, saya kira cukup menarik juga. Akhirnya saya memaksakan diri untuk menonton perdebatan yang tak lebih baik dari lomba cerdas cermat yang baru saja berakhir tadi malam (17/01) itu.

Pada akhirnya memang saya kecewa dengan adu argumentasi yang ditampilkan oleh kedua belah kandidat. Dari situ juga kita bisa mengukur kualitas para calon yang ada. Ya memang seperti yang saya utarakan di awal. Karena aturan baru yang membuat para paslon diberikan kisi-kisi soal oleh KPU, membuat debat yang seharusnya jadi tempat untuk saling beradu argumentasi dengan gagasan yang subtantif, malah lebih banyak menarasikan kata dan kalimat yang terlihat seperti hasil hafalan beserta contekannya yang tersedia di podium masing-masing. Mereka terlalu terpaku dengan teks yang sudah mereka buat, sehingga menjadikan kontes debat ini menjadi sebuah lomba pidato dengan tema Hukum, HAM dan Terorisme, tapi dibungkus dengan metode kontes debat yang juga tidak kalah mengecewakannya.

Argumentasi, gagasan, pernyataan dan lain hal yang diutarakan oleh para kandidat dari segmen kedua hingga kelima, terkesan sangat generik dan retorik, kedua kandidat terpaku kepada teks contekan yang mereka buat, sehingga tidak ada lagi pemikiran dan gagasan yang dihasilkan secara spontan yang terlontar dari mulut kedua paslon. Tak ada juga ungkapan yang benar-benar bisa membuat saya kagum dengan ide cemerlang, yang bisa menyelesaikan akar permasalahan yang diperdebatkan tadi malam.

 

Pertanyaan Terlalu Generik

Sekarang, saya ingin membahas pertanyaan yang diangkat dan diberikan oleh para panelis. Pertanyaan yang diberikan oleh panelis kepada masing-masing kandidat tidak spesifik dan tidak mendasar. Tidak ada pertanyaan yang topiknya membawa contoh-contoh kasus, sehingga beberapa jawaban dari para kandidat pun terksesan sangat generic dan meliuk-liuk serta tidak sama sekali mampu menjawab persoalan secara mendasar.

Sebagai contoh, saya mengambil pertanyaan tentang Hak Asasi Manusia (HAM), kedua pertanyaan tersebut menurut saya sangatlah umum, tidak ada contoh kasus yang bisa dijadikan acuan sebagai salah satu cara menangani masalah HAM yang terjadi. Padahal kita tahu sendiri, masih banyak kasus-kasus pelanggaran HAM dalam negeri yang masih belum terusut tuntas.

Dan atas dasar itu, seharusnya panelis dapat memberikan pertanyaan yang lebih spesifik, dan tentunya harus membawa contoh kasus, agar para kandidat dapat memberikan jawaban yang bersifat fundamental dan substansial, supaya masalah utamanya dapat terselesaikan. Karena memang kita bisa menilai dan lihat sendiri, setelah diberikan pertanyaan yang terbilang sangat umum, terjawablah pertanyaan panelis dengan gaya yang sangat retorik dari masing-masing kandidat. Beda gaya bicara, intonasi, dan rangkaian kata, tetapi sama isinya, sama tidak subtantifnya.

Dalam acara yang berkonsep public debating berskala nasional, bisa diakui sangat sedikit sekali perdebatan yang tersaji dalam kontestasi tersebut. Para paslon bukannya menanggapi jawaban paslon lainnya dengan menggiring sanggahan yang benar-benar akan memicu perdebatan, malah seakan melanjutkan pernyataan dari lawan mainnya, dan akhirnya, yang seharusnya ajang ini menjadi sebuah kontestasi untuk saling adu gagasan dan pemikiran, malah menjadi ajang yang tak lebih dari sekadar lomba pidato tingkat nasional. Saya usulkan ada baiknya jika nanti paslon yang berhasil menguasai suara terbanyak pada bulan April mendatang, diberi hadiah sepeda atau kuda saja sebagai hadiah dari lomba pidato ini.

Contoh lainnya adalah saat moderator melontarkan pertanyaan tentang terorisme. Kita bisa melihat, kedua paslon dalam memaparkan jawaban dan tanggapan terkesan saling menyetujui pendapat satu sama lain. Kyai Ma’ruf mengatakan akan mengatasi terorisme dengan cara memperkuat deradikalisasi, dan sama halnya dengan Prabowo yang mengiyakan deradikalisasi untuk mengatasi terorisme. Lalu ketika Prabowo mengatakan akan memberantas terorisme dengan meningkatkan sektor ekonomi untuk mengatasinya, Kyai Ma’ruf pun menanggapinya dengan isi yang sama yaitu juga akan meningkatkan faktor ekonomi untuk masyarakat yang terdoktrin paham radikal karena faktor tersebut, seperti diberikan lapangan pekerjaan dan santunan.

Terlihat sekali tidak ada perdebatan, kedua paslon terkesan sangat hati-hati dan saling menyetujui pendapat masing-masing kandidat. Faktor pertanyaan yang tidak spesifik dan para kandidat yang terlalu fokus dengan teks yang mereka pegang itulah yang membuat kesan debat kali ini rasanya seperti berada dalam seminar nasional yang membosankan.

Alhasil, debat kemarin adalah kontes yang tidak meghasilkan pernyataan yang substansial. Kedua kandidat belum menampilkan gagasan dan ide yang bernilai dan solutif. Tentu peran KPU juga perlu dikritisi karena sebagai pelaksana debat, malah membuat aturan dan konsep yang membuat jalannya debat terasa datar dan hambar.

Dan tidak lupa dari kedua kandidat juga diharuskan untuk menyusun argumentasi masing-masing yang lebih kokoh dan bisa tampil lebih lugas. Karena tolok ukur untuk melihat kapabilitas seorang calon pemimpin adalah dengan melihat orisinalitas gagasan yang dilontarkannya secara spontan tanpa bocoran pertanyaan. Jika kedua kandidat tidak bisa menampilkan gagasan dan pemikiran yang subtansial, solutif dan mendasar, lantas rakyat harus memilih siapa? Pasangan Nurhadi-Aldo rasanya jadi semakin layak diperhitungkan.

Para kandidat harus menampilkan gagasan-gagasan yang berdasarkan data dan fakta yang akurat serta solutif, agar keselarasan tercapai dan rakyat juga menjadi semakin yakin akan pilihannya, atau mempertimbangkan untuk berpindah pada pilihan lainnya. (fik/mfa)

Bagikan:
148