Jakarta, Parmagz – Kamis (10/10) siang, telah terjadi tindakan penyerangan terhadap Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten. Karopenmas Divhumas Mabes Polri Dedi Prasetyo, lewat keterangan tertulis menyatakan bahwa kejadian penusukan yang terekam publik ini terjadi “sekitar pukul 11:55”.

Mantan panglima ABRI yang menghadiri peresmian salah satu gedung di Universitas Mathla’ul Anwar (Unma) ini hendak balik ke Jakarta, setelah sebelumnya ingin menyapa masyarakat, seperti keterangan tertulis, Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir yang memerintahkan bawahannya untuk mempersiapkan pengamanan. Penusukan tersebut terjadi di saat Wiranto dan rombongan keamanannya tiba di lokasi, saat pintu mobil dibuka dan Wiranto keluar dari mobil, kemudian terlihat seorang laki-laki berusaha untuk menikam bagian perut Wiranto.

Hingga kini, polisi nyatakan dua orang tersangka penusukan yakni Fitri Andriana, seorang warga Kabupaten Brebes yang berdomisili di Kabupaten Pandeglang dan Syahril, seorang warga Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara.

Penusukan terhadap Wiranto tentunya bukan pertama kali terjadi pada Pejabat Negara di Indonesia. Nyatanya sejarah mencatat upaya penyerangan terhadap para pemilik kursi-kursi kekuasaan, termasuk Presiden telah terjadi. Dari banyaknya ancaman yang menggantung nyawa para Pejabat ini, beruntung mereka dapat terselamatkan.

Berikut kisah ancaman yang telah Parmagz rangkum berupa pembunuhan terhadap Pejabat Negara di Indonesia:

1. Ir. Soekarno

Sebagai salah satu Bapak bangsa Indonesia atau The Founding Fathers, siapa sangka Soekarno yang menjadi banyak inspirasi atas jasanya terhadap kemerdekaan Indonesia, juga mempunyai komplotan yang berusaha untuk membunuh Presiden yang kerap disapa Bung Karno ini.

Seperti yang dilansir Kompas.id, kasus yang terkenal adalah tragedi Cikini 30 November 1957. Tragedi yang terjadi saat Bung Karno menghadiri acara malam di perguruan di Perguruan Cikini yang merupakan sekolah anak Bung Karno dengan Fatmawati, yakni Guntur Soekarnoputra dan Megawati Soekarnoputri. Secara mengejutkan, kehadiran Bung Karno disambut dengan lemparan granat.

Boombastis.com

Beruntung Soekarno dan anak-anaknya selamat dari tragedi tersebut. Namun nahas, 10 orang tewas, termasuk anak-anak dan ibu hamil, dan 100 orang lainnya yang semuanya siswa Perguruan Cikini luka-luka dalam tragedi ini.

Dalam buku 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950-1964 Jilid 2 (1980), ada empat orang yang ditangkap dan diduga sebagai teror itu, yakni Jusuf Ismail, Sa’idan bin Muhammad, Tasrif bin Husein, dan Moh. Tahsin bin Abubakar. Keempat orang tersangka yang merupakan aktivis pemuda Islam yang tinggal di asrama mahasiswa Sumbawa ini menurut Profesor Riset Bidang Riset Sosial Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam, keempat pemuda tersebut dijatuhi hukuman mati. 

2. Matori Abdul Djalil

Baca juga:  Greta Thunberg, Aktivis Lingkungan 16 Tahun Kecam Para Pemimpin Dunia

Mantan Menteri Pertahanan Indonesia (2001-2004) yang menjabat pada rezim Megawati Soekarno ini pernah mengalami kejadian yang mengancam nyawanya. Saat itu di kala dirinya tengah memeriksa bangunan tambahan di sisi rumahnya yang sedang direnovasi. Dari salah satu bagian bangunan tambahan itu muncul seseorang yang berpura-pura menawarkan perabot rumah tangga, tetapi orang tersebut justru mencoba untuk membacok bagian kepala Matori dengan senjata tajam. Matori lantas menangkisnya dengan tangan kanannya sambil berteriak meminta pertolongan. Laki-laki tersebut segera keluar menyusul rekannya yang sudah menunggu di luar rumah Matori dengan sepeda motor.

mediaindonesia.com

Kejadin yang terjadi pada tanggal 9 Maret 2000, ketika dirinya sedang menjabat sebagai Wakil Ketua MPR (2000-2001) ini menguak seorang tersangka yakni Tanzul Arifin alias Sabar yang terbukti bersalah oleh Majelis Hakin Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan vonis 9 tahun penjara dalam percobaan dan perencanaan pembunuhan terhadap Wakil Ketua MPR tersebut.

Dilandir tagar.id, pembacokan tersebut dilakukan lantaran Matori yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini diakui Sabar karena didorong oleh mewujudkan keinginan guru ngajinya, Zulkifar yang menilai Matori telah menyimpang dari ajaran Islam.

3. Syafiuddin Kartasasmita

Hakim Agung/Ketua Muda Bidang Pidana Mahkamah Agung Republik Indonesia ini ditembak mati pada 26 Juli 2001 oleh pria tak dikenal. Saat itu Syafiuddin yang menyatakan hukuman 18 tahun penjara dan denda sebesar Rp 30,6 miliar kepada anak kelima anak Presiden RI Soeharto yakni Tommy Soeharto dalam kasus tukar guling tanah milik Bulog dengan PT Goro Batara Sakti.

Seperti yang dilansir Tirto.id, Syafiuddin yang tengah menuju ke kantornya seperti biasa tidak menyadari bahwa maut sedang mengintai dirinya. Dua tersangka yang tak dikenal itu berboncengan mengendarai motor RZ-King. Kejadian ini berlokasi di Jalan Sunter Raya, dekat Kemayoran, di mana ban kanan belakang mobil yang dikendarai sang Hakim Agung ini oleng karena terkena tembakan. Salah satu pelaku turun dari motor dan menghampiri Syafiuddin, dan terdengar tembakan empat kali. Setelahnya, pelaku bergegas melarikan diri.

kompasiana.com

Setelah diusung aparat kepolisian, dua tersangka bernama Mulawarman dan Noval Hadad ini menembak Syaifuddin atas suruhan Putra Mahkota Cendana dengan imbalan sebesar Rp 100 juta.

Tommy yang akhirnya dinyatakan bersalah oleh Majelis hakim PN Jakarta Pusat yang saat itu dipimpin oleh  Amiruddin Zakaria atas pembunuhan berencana. Walaupun dirinya divonis 15 tahun penjara oleh PN Jakarta Pusat, Tommy yang kini menjadi Ketua Umum Partai Berkarya ini terus mendapatkan pemangkasan hukuman, dan dinyatakan bebas tanggal 1 November 2006.

Baca juga:  #ReformasiDikorupsi, Aksi Mahasiswa di Senayan Terbesar Setelah ‘98

4. Susilo Bambang Yudhoyono

Presiden RI Ke-6 yang menjabat 2 periode ini juga turut mendapat ancaman baik dengan pembunuhan yang berupa pengeboman bahkan juga secara mistis.

SBY dalam bukunya Selalu Ada Pilihan, mengutarakan bahwa ancaman pengeboman pernah dialaminya saat kunjungannya di Ciwidey, Bandung, Jawa Barat. Saat itu Kepolisian mengetahui adanya aktivitas teroris yang sedang bergerak ke daerah Bandung, Pedalarang, hingga Ciwidey. Beruntung, jajaran Kepolisian berhasil menggagalkan peristiwa tersebut melalui operasi cepat dan efektif.

cnnindonesia.com

“Namun, Tuhan Mahabesar. Jajaran Polri bisa mengetahui rencana itu dan melalui operasi yang cepat dan efektif, rencana itu bisa digagalkan. Itu kejadian bulan Agsutus tahun 2009,” tulis SBY di bukunya.

Ancaman pembunuhan juga pernah dialaminya lewat serangan mistis yang ssat itu sedang mendekati proses Pemilihan Presiden 2009. SBY yang sedang beraktivitas di ruang perpustakaan di kediamannya dan ibu Ani, istrinya tengah membaca majalah di ruang keluarga. Tiba-tiba terdengar suara teriakan ibu Ani memanggil suaminya. SBY langsung segera ke ruang keluarga, dan saat itulah ada asap hitam tebal berputar-putar di tengah ruangan yang hendak menerobos kamar tidurnya.

“Asap hitam itu bergerak ke timur, seperti ingin menerobos kamar saya. Begitu saya melihat peristiwa yang menakutkan itu, saya ajak mereka untuk memohon pertolongan Allah,” katanya.

Asap itu kemudian keluar ruangan dan ditiup oleh angin. SBY mengutarakan bahwa pengalaman mistisnya bersama ibu Ani ini seperti film-film horor yang sering kita lihat.

5. Megawati Soekarnoputri

Presiden RI ke-5 yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP ini, pernah menjadi target pembunuhan yang terjadi pada tahun 2002 yang saat itu Megawati mendapat sebuah laporan ancaman pemboman dari militan Al-Qaeda di Indonesia, Omar al-Faruq. Usaha komplotan pengeboman tersebut gagal lantaran bom justru terlanjur meledak ketika dibawa pelaku ke Mal Atrium, Jakarta Pusat.

tribunnewswiki.com

Laporan upaya pemboman ini sendiri didapat oleh Badan Intilijen Pusat Amerika Serikat atau CIA. Al Faruq sendiri berhasil ditangkap di Bogor, Jawa Barat, pada 5 Juni 2002 yang diserahkan ke negeri Paman Sam itu tiga hari kemudian.

 

Penulis: Bary Rayhan

Editor: Nurma Syelin 

Bagikan:
81