pasu

 

Jakarta, Kampusparmad.com – Puncak acara “Sastra dan Seni untuk Kebebasan” Yayasan Muara, memperingati 15 tahun Reformasi tadi malam (15/5) berlangsung sukses. Kapasitas Teater Kecil,Taman Ismail Marzuki yang tidak lebih dari 300 kursi tersebut tidak mampu menampung serbuan penonton. Penonton yang datang dari kelas penulisan “Terbitkan Kegelisahanmu”, diskusi “Sastra dan Seni untuk Kebebasan”, undangan, media dan publik pada akhirnya tidak lagi dapat dikontrol karena terlalu bersemangat untuk masuk ke dalam ruang teater. Sebagian besar dari mereka terpaksa berdiri di balik barisan kursi paling belakang pada tiap-tiap lantai ruang pertunjukan. Dan sebagian lagi terpaksa duduk di tangga, di sela-sela barisan kursi, menunggu pertunjukan teater dimulai.

Pertunjukan Teater Pasung Jiwa diangkat dari novel terbaru Pasung Jiwa, Okky Madasari, peraih Khatulistiwa Literaty Award 2012 untuk novelnya yang berjudul Maryam. Sebelum pertunjukan teater, penonton menyaksikan penyerahan replika novel Pasung Jiwa oleh pihak penerbit Gramedia Pustaka Utama kepada Okky Madasari sebagai simbol peluncuran novel Pasung Jiwa. Dan pada kesempatan yang sama, Okky menyerahkan draft novelnya yang pertama Entrok yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris kepada pihak Gramedia Pustaka Utama.

Pertunjukan teater dimulai. Sasana atau Sasa, tokoh utama dalam teater menggambarkan betapa sulitnya mendapatkan kebebasan menjadi orang yang berbeda, pada masa orde baru. Sasa yang berbeda tidak hanya dikucilkan dari keluarga dan lingkungannya tetapi juga diperlakukan dengan tidak adil sebagai seorang yang juga manusia.

Elis, seorang pekerja seks komersial yang secara sadar memilih pekerjaan tersebut juga diperlakukan dengan kasar hanya karena dia tetap ingin menjaga kesehatannya meskipun menjual tubuh.

Kalina, buruh pabrik yang cantik itu juga diperlakukan sama, setelah diperkosa mandornya dia malah dipecat karena hamil bukan menerima pertanggungjawaban. Jakawani juga sama, buruh yang dirampas hak-haknya hanya karena kesalahan kecil yang tak sebanding dengan semua pengorbanannya untuk pabrik.

Penonton menikmati pertunjukan dengan caranya masing-masing. Ada yang tertawa, turut menyukai goyangan Sasa saat bernyanyi, menikmati adegan lelaki hidung belang genit yang menggoda Elis tetapi yang tak ingin memberi kewajibannya. Tertawa mendengar kekesalan Kalina dan Jakawani atas ketidakadilan yang mereka dapatkan.

Tetapi tidak sedikit yang diam, merenungkan adegan demi adegan. Kegelisahan Sasa menjadi seorang yang berbeda yang tidak diakui oleh ayahnya sebagai anak. Tetapi juga ingin menjadi seorang yang sama dengan yang lain yang tidak ingin mengecewakan keluarganya.

Merenungkan bahwa meskipun seorang pelacur, Elis tetap boleh memiiki kebebasan untuk menentukan siapa yang boleh berhubungan badan dengannya dan siapa yang tidak. Merenungkan bahwa meskipun sudah berlalu 15 tahun, pengekangan terhadap kebebasan individual masih terasa hingga kini. Buruh-buruh pabrik masih merasakan ketidakadilan yang sama. Orang-orang yang berbeda seperti Sasa masih tetap dikucilkan bahkan ditangkap oleh aparat berkedok agama.

Teater Pasung Jiwa mengajak kita mempertanyakan kebebasan apa yang sebenarnya sudah kita miliki. Kebebasan seperti apa yang sebenarnya sudah dijamin oleh negeri ini. Mengajak kita untuk melihat bahwa perbedaan yang ada itu harusnya tetap menjadi pilihan masing-masing orang sebagai kebebasan pribadi mereka sehingga muncul juga tanggung jawabnya karenanya.

Orang–orang seperti Sasa tidak melukai dirinya, dan tidak juga melukai diri kita. Mereka berbeda karena pilihan sendiri. Mendukung perbedaan bukan untuk merusak nama baik keluarga, masyarakat apalagi agama. Seorang seperti Elis pun memiliki hak untuk memiliki kebebasan atas kenyamanan pekerjaannya. Tidak ada yang diganggu, tidak akan ada yang dirugikan. Kalina dan Jakawani hanya ingin sebuah pekerjaan yang dapat membantu mereka untuk melanjutkan hidup. Mereka ada di sekitar kita yang hingga kini masih berteriak meminta keadilan untuk kebebasan dirinya.

Ketika menonton reka adegan dalam teater tersebut, kita boleh tertawa, atau diam, tetapi tidak ketika kita melihat keadaan yang sama dalam kehidupan nyata. Melalui pertunjukan teater Pasung Jiwa semoga kita semakin sadar bahwa ketidakadilan masih dirasakan oleh sebagian besar masyarakat dan kebebasan itu belum dimiliki oleh semua orang. Tepukan gemuruh membahana memenuhi ruang teater. Selamat atas peluncuran novel Pasung Jiwa Okky Madasari. Mari turut menyuarakan kebebasan.

Editor: Winner Fransisca Manik

Bagikan:
283