Jakarta, Parmagz – Tepat di hari peringatan Kelahiran Pancasila 1 Juni 2019 kemarin, istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yakni Ani Yudhoyono tutup usia pada umur 66 tahun. Sosok yang dikenang menjadi ibu negara ini telah berjuang kurang lebih 4 bulan melawan kanker darah yang menyerangnya sejak Februari silam.

Telah melakukan perawatan intensif di National University Hospital (NUH) dan sempat diperbolehkan keluar ruangan oleh dokter (16/5), akhirnya kondisi kesehatan ibu Ani menurun sejak Rabu (29/5). Seperti yang diujar oleh Agus Yudhoyono “Pada hari Rabu (29/05/2019), Ibu Ani Yudhoyono harus dirawat secara intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU), di NUH Singapura. Tindakan itu diambil sebagai respons cepat terhadap kondisi penurunan kesehatan Ibu Ani yang masih belum stabil”

Berikut kami rangkum perjalanan hidup Ibu Ani Yudhoyono sebagai sosok ibu negara dan wanita tangguh bagi keluarganya:

  1. Anak Jenderal Sarwo Edhie Wibowo

Kristiani Herrawati atau akrab dikenal sebagai Ani Yudhoyono, wanita kelahiran 6 Juli 1952, Yogyakarta ini ialah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Perempuan dengan gelar sarjana ilmu politik (1998) di Universitas Terbuka ini adalah anak Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo. Sarwo yang menjadi ‘Legenda’ dunia kemiliteran Indonesia saat dirinya menjabat sebagai Panglima Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD 1965) yang berperan menumpas pemberontakan Gerakan 30 September PKI.  

2. Kisah Cintanya Dengan SBY

Untuk pertama kalinya, Ani melihat sosok taruna muda jangkung – SBY di kompleks Akademi Militer Magelang, Jawa Tengah pada tahun 1973 saat ayahnya menjabat sebagai Gubernur Akabri di Lembah Tidar, Magelang. Berawal dari melihat sosok SBY dari kejauhan saat peresmian Balai Taruna, kemudian SBY menyambang lagi kediaman Ani yang membuat dirinya bisa melihat sosok SBY dari dekat.

“Aku terpana. Lagi-lagi sosok jangkung itu yang muncul. Karena jarak kami dekat, kali ini kedua mataku bisa lebih fokus lagi menganalisis dia. Wajahnya tampan. Atribut seragamnya, dengan tali komandan tersemat di dada, melihatnya terlihat gagah dan berwibawa,” ungkap Ani.

Pada tahun 1974 Ani dan SBY harus LDR-an lantaran SBY menjalani kursus dasar kecabangan infanteri di Bandung dan di tahun itu juga Ani harus ikut ayahnya ke Seoul karena Sarwo diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan saat itu. Ternyata sang Ayah menyuruh Ani untuk bertunangan dan diam-diam orangtua SBY sudah menyambangi kediaman Sarwo Edhi untuk lamaran tanpa diketahui Ani. Sosok ayahnya yang Jenderal itu ternyata menerima lamaran perwira tersebut.

Baca juga:  JSF 2019 Berikan 14 Rekomendasi Kebijakan

Ani dan SBY akhirnya menikah pada 30 Juli 1976 di Bali Room, Hotel Indonesia. Pernikahannya pun menjadi momen yang unik sebab dua saudarinya Titiek dan Tuti juga ikut berbarengan. Pernikahan tiga pengantin di hari yang sama ini memang dicetuskan oleh sang ayah, dengan tujuan agar dirinya tidak harus bolak-balik Korsel-Indonesia untuk menikahkan putri-putrinya. Dari pernikahan ini keduanya dikaruniakan dua anak laki-laki yakni Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono.

3. Sosok Ibu Negara yang Aktif

Statusnya yang menjadi Isteri seorang tentara terus berganti. Mulai dari ‘istri menteri’ di tahun SBY diangkat menjadi Menteri Pertambangan dan Energi (1999) pada era Presiden Abdurrahman Wahid, sampai menjadi ‘ibu negara’ selama 10 tahun atau 2 periode SBY menjabat sebagai Presiden sejak 20 Oktober 2004 hingga 20 Oktober 2014.

Dia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam organisasi. Saat dirinya menjabat sebagai Ibu Negara dia dikenal juga sebagai ketua Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB). Dari sinilah digulirkannya kegiatan literasi melalui program perpustakaan keliling yang disebut Mobil Pintar pada tahun 2005 dan Rumah Pintar. Pada 2007, tercatat ada tujuh unit Mobil Pintar. Koleksi bukunya mencapai 14 ribu judul. Pada tahun yang sama, SIKIB memiliki tiga buah Rumah Pintar. Ada juga 27 unit Motor Pintar. Jumlah mobil, motor, dan rumah tersebut terus bertambah setiap tahun. Rumah Pintar, misalnya, mencapai 250 di seluruh pelosok Indonesia.

Dirinya juga menjadi sosok Ibu Negara yang berprestasi. Sejumlah penghargaan Ani berhasil gebet saat dirinya menjabat sebagai Ibu Negara. Penghargaan tersebut seperti, penghargaan ‘Ibu Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan  dan Anak’ oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan di tahun 2007, penghargaan Certificate of Global Leadership dari The United Nations Environement Program (UNEP) berkat kontribusinya dalam program Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (2007), penghargaan sebagai tokoh pemberdayaan perempuan dalam pendidikan oleh L’Oreal-UNESCO for Women in Science, The World Science Day for Peace and Development di Universitas Indonesia, 12 November 2013, dan masih banyak lagi penghargaan yang Ani dapat sepanjang pagelaran hidupnya.

4. Kanker yang dideritanya

Ani yang terkenal aktif dan selalu mendampingi SBY mengalami penurunan kondisi kesehatan di awal tahun 2019 setelah pulang dari dari Aceh dan Sumatera Utara untuk mendampingi SBY. Seperti yang diungkapkan oleh putra sulungnya – AHY

“Nah, pulang dari Aceh kondisinya drop, kami kira ya memang karena kelelahan ataupun ya karena perjalanan jauh, mungkin perlu istirahat, recovery-lah begitu,” ungkap AHY kepada wartawan.

Baca juga:  JSF 2019 Berikan 14 Rekomendasi Kebijakan

Kemudian, Ani melakukan tes darah di RSPAD Gatot Soebroto dan hasilnya menunjukan penurunan trombosit, leukosit, dna hemoglobin. Atas rekomendasi tim dokter di RSPAD Gatot Soebroto, Ani Yudhoyono menjalani pemeriksaan lanjut di National University Hospital Singapura pada 2 Februari 2019. Di rumah sakit inilah, Ani di diagnosis kanker darah leukemia.

Pada bulan Maret, dirinya mendapatkan donor sumsung tulang belakang oleh sang adik, Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Pramono Edhie Wibowo yang setelah diperiksa memiliki kecocokan satu sama lain. Donor sumsum tulang belakang memang menjadi salah satu pilihan pengobatan kanker darah, sebab fungsi sumsung tulang belakang yakni sebagai ‘tempat’ pembuatan sel darah pada penderita kanker sudah tidak dapat berfungsi normal. Maka itu diperlukan donor sumsung tulang belakang dengan harapan dapat mengembalikan fungsi ‘tempat’ pembuatan sel darah tersebut. 

Kamis (16/5/2019), lewat akun Instagram pribadinya, Ani mengungkapkan rasa bersyukurnya bisa keluar menghirup udara segara setelah 3 bulan lamanya tidak diperkenankan dokter keluar ruangannya. Sayangnya kondisi Ani memburuk pada Rabu (29/5) yang menuntutnya harus dirawat di ICU. Selama empat hari mengalami kritis, pada pukul 11:50 waktu Singapura Ani tutup usia.

5. Dimakamkan secara Militer didekat ibu Ainun

Ani dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta pada esok harinya atau pada Minggu, 2 Juni 2019. Ia dimakamkan secara kenegaraan dengan prosesi militer di TMP Kalibata, Jakarta Selatan dengan inspektur upacara oleh Presiden Joko Widodo. Makamnya terletak di Blok M nomor 129, saling berhadapan dengan makam mantan ibu negara Hasri Ainun Besari – istri dari Presiden ke-3 RI B. J . Habibie yang meninggal pada 22 Mei 2010 yang lalu.

Dalam pidato singkatnya, Presiden Jokowi meminta rakyat Indonesia untuk mendoakan mendiang Ani Yudhoyono. Ia juga memberikan penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana sebagai tanda jasa bagi Ani Yudhoyono.

“Saya mengajak rakyat Indonesia untuk mengucapkan terima kasih dan penghormatan yang tinggi terhadap dharma bakti yang tinggi. Saya mengajak rakyat untuk mendoakan almarhumah agar ditempatkan di tempat yang tinggi dan husnul khotimah,” ucap Presiden Jokowi.

“Dengan memohon rida Allah, mari kita lepas kepergian ibu Hajah Kristiani Herrawati Yudhoyono dengan tenang, dengan doa. Semoga Allah menerima amal ibadah dan mengampuni segala khilaf dan salah beliau,” tutupnya.

Poster : Lilyanti Suryaningsih

 

 

 

Poster : Lilyanti Suryaningsih

 

 

 

 

Bagikan:
15