Jakarta, Parmagz, Rabu, (11/9), Indonesia kembali berduka atas wafatnya Presiden ke- 3 Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie pada pukul 18.03 WIB. Riwayat penyakit gagal jantung dan kondisi organ-organ dalam tubuhnya yang sudah mengalami degenerasi membawa sang penemu Teori Crack pada pesawat terbang ini akhirnya berpulang kepangkuan sang Maha Kuasa pada usia 83 tahun.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Alasan kenapa meninggal adalah karena sudah menua dan memakan usia. Kemarin saya katakan bahwa gagal jantung yang mengakibatkan penurunan itu, kalau memang organ-organ itu degenerasi melemah, menjadi tidak kuat lagi, maka tadi jam 18 lebih tiga, jantungnya dengan sendiri menyerah,” kata Thareq Habibie kepada reporter Tirto di RSPAD.

Melalui akun Instagram, Presiden RI Joko Widodo mengucapkan belasungkawa atas wafatnya salah satu putra terbaik bangsa.

“Saya tiba di RSPAD Gatot Soebroto selepas magrib tadi, sesaat setelah Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie menghembuskan napas terakhir di ruang perawatan. Saya benar-benar berduka dan merasa kehilangan. Bangsa ini baru saja kehilangan salah seorang putra terbaiknya, ilmuwan kelas dunia, bapak teknologi yang hidupnya didedikasikan untuk kemajuan Indonesia. Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Semoga segala amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT, diampuni dosa-dosanya, dan segenap keluarga yang ditinggalkan kiranya diberiNya kekuatan dan kesabaran. Dan kita semua, semoga dapat melanjutkan cita-cita Profesor BJ Habibie semasa hidupnya, untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Amin”.

Pada Kamis (12/9) siang, Habibie dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, disebelah pusara makam sang kekasih, Hasri Ainun Besari yang meninggal pada 22 Mei 2010 yang lalu.

Presiden Joko Widodo yang menjadi inspektur upacara pemakaman Habibie, mengawali sambutan dengan pembacaan apel persada.

“Saya Presiden RI atas nama negara, bangsa, dan Tentara Nasional Indonesia dengan ini mempersembahkan ke persada ibu pertiwi jiwa raga dan jasa-jasa almarhum: nama Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie. Jabatan, Presiden Ketiga RI, putra dari Alwi Abdul Jalil Habibie yang telah meninggal dunia demi kepentingan dan keluruhan negara dan bangsa pada Rabu, 11 September 18.05 di RSPAD Gatot Soebroto karena sakit,” kata Jokowi.

Baca juga:  Ganda Campuran Indonesia Gagal Pertahankan Gelar Juara Dunia di Rusia

Habibie: Pendidikan dan Kisah Cintanya

Bacharuddin Jusuf Habibie  lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936 dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie yang berasal dari Gorontalo dan R.A Tuti Marini Puspawardojo yang berasal dari Yogyakarta.

Habibie kecil sudah bermimpi untuk menjadi Insinyur ketika dewasa kelak. Seperti yang diungkapkan Titi Habibie (saudara perempuan B.J Habibie), jika ditanya “kalau besar mau jadi apa?” ia selalu menjawab, “Insinyur”.

Perjalanan Habibie sebelum menjadi ‘si genius ahli teknologi pesawat’, dia menempuh pendidikan sarjana di jurusan teknik mesin ITB pada tahun 1954. Kemudian melanjutkan studi spesialisasi konstruksi pesawat terbang di Universitas Teknologi Rhein Westfale, Jerman Barat. Setelah Habibie mendapatkan gelar diplom-ingenieur pada 1960, ia melanjutkan studi kedoktoran pada Universitas yang sama dan meraih gelar doktor-ingenieur (doktor teknik) dengan predikat summa cum claude pada 1965. Ia menyelesaikan jenjang S-1 hingga S-3 hanya dalam kurung waktu 10 tahun.

Pada tahun 1973, saat Habibie tengah bekerja di perusahaan penerbangan yakni Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB), Ibnu Sutowo membawa pesan khusus ke Hamburg dari Presiden Soeharto yang memintanya pulang dan meneruskan karier di Indonesia.

Setahun setelahnya Habibie pulang ke tanah air dan menduduki kursi Menteri Riset dan Teknologi. Habibie juga dipercaya untuk mengembangkan industri pesawat terbang lokal dan dari sini lah, lahir IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) atau yang dikenal sekarang sebagai PT Dirgantara Indonesia yakni sebuah industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan Asia Tenggara. Habibie berhasil mengembangkan sejumlah teknologi dan bekerja sama dengan negara lain dalam membuat sejumlah pesawat terbang, seperti CN235 (diproduksi massal tahun 1983), N250, dan N2130.

Sayangnya, produksi proyek N2130 harus dihentikan ketika krisis keuangan mulai menerpa pemerintahan orde baru walaupun N250 berhasil mengudara pada peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-50 tahun. Krisis keuangan semakin bobrok, akhirnya dana IPTN mulai diamputasi APBN karena IMF (International Monetary Fund) menilai industri pesawat terbang hanya sebuah proyek yang menghambur-hamburkan uang.

Baca juga:  #ReformasiDikorupsi, Aksi Mahasiswa di Senayan Terbesar Setelah ‘98

Rudy-sapaan akrab Habibie- menikah dengan teman SMA-nya, Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962. Pertemuannya dengan Ainun ialah diawal tahun 1962 di kota kembang, Bandung saat Rudy pulang ke Indonesia untuk cuti. Keduanya dikaruniai dua anak, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Kisah cinta keduanya di jemput duka tatkala Ainun harus dipanggil sang Maha Kuasa pada 22 Mei 2010 setelah sebelumnya Ainun mengidap kanker ovarium pada Maret 2010. Kisah cintanya selama kurang lebih 48 tahun bersama Ainun telah diangkat ke layar lebar berjudul “Habibie & Ainun” yang disutradarai oleh Faozan Rizal.

Habibie dan Julukan Mr. Crack

Selama berkarier di bidang teknologi beliau banyak berjasa dalam pembangunan industri penerbangan. Jasa beliau yang paling fenomenal di dunia aviasi ialah teori propagasi keretakan sayap pesawat terbang (crack propagation theory). Penemuannya ini sangat pas dikala momentum industri penerbangan sedang gencar menciptakan pesawat berkapasitas lebih besar dan cepat.

Sebelum adanya Teori Crack ini banyak terjadi kegagalan struktur pada pesawat dalam hal kelelahan material (material fatigue). Lihat saja pada tahun 1952 dikala pesawat de Havilland DH.110 terbang di Farnborough Airshow, pesawat Douglas DC-6 berlabel National Airlines 470 yang terbang tahun 1953, dan pesawat de Havilland Comet yang digunakan maskapai BOAC bernomor 781, semuanya mengalami kecelakaan yang disebabkan kegagalan struktural. Nah, teori temuan Habibie ini yang digunakan untuk menghitung dan memprediksi titik retak hingga skala atom dalam material konstruksi pesawat terbang dengan lebih tepat dan teliti.  

Si Mr. Crack-Habibie mendapat penghargaan atas jasanya oleh pemeritahan Jerman “Das Grosse Verdenstkreuz Mit Stern und Schulterband” dan “Das Grosse Verdienstkreuz” pada Rabu, 21 Januari 2015 di kediamannya.

“Penghargaan ini kami berikan atas jasa-jasa beliau kepada pemerintah Jerman. Dua bintang penghargaan tersebut penghargaan tertinggi untuk orang yang berjasa pada kemajuan Jerman”, kata Duta Besar Jerman untuk Indonesia.

Selamat jalan putra terbaik bangsa. Semoga tempat terbaik untukmu di pangkuan sang Maha Pencipta. 

Penulis: Bary Rayhan

Editor: Nurma Syelin

Bagikan:
102