Konflik antara warga Pancoran Buntu II dengan ormas PP terjadi pada rabu 17/3/21 pukul 22.00, sebelumnya kedua belah pihak tengah berdialog dan dari pihak warga meminta akses masuk ke hunian mereka tidak diblokade oleh Ormas PP yang tidak diketahui apa kepentingan mereka melakukan hal tersebut.

Kesepakatan sebelumnya warga berhasil meminta aparat untuk meninggalkan PAUD yang digunakan untuk markas mereka selama sengketa berlangsung, hal itu berdampak pada kegiatan pembelajaran terhenti dan warga meminta untuk mengosongkan PAUD dengan tujuan kegiatan belajar anak-anak di sana dapat di langsungkan.

Akhirnya setelah berdialog dengan warga dan aparat yang mendiami PAUD, mereka sepakat untuk mengosongkan bangunan tersebut. Selain itu warga juga meminta mengeluarkan beko dari lahan warga.

Namun masalah belum selesai, gerombolan Ormas PP memblokade akses utama ke lokasi hunian warga dan membuat provokasi ke arah warga. Hal itu kembali membuat warga melakukan dialog dengan kelompok ormas dan meminta mereka mundur serta membuka akses jalan utama mereka. Selama proses negosiasi tersebut pihak warga mendengar kalimat intimidatif yang berasal dari massa Pemuda Pancasila yaitu “Potong tumpengnya”  sambil membuat formasi seolah ingin menyerang warga yang bertahan.

Dari keterangan korban salah satu anggota ormas PP membawa senjata tajam untuk menakuti warga yang ada di lokasi penggusuran.

Video : https://www.instagram.com/tv/CMhmYmXJf5o/?igshid=c1rphlp8gqis

 

(video kronologis negosiasi antara warga dan Ormas PP yang berakhir pelemparan batu, pecahan kaca, dan lain-lain oleh gerombolan massa Pemuda Pancasila)

 

Dialog yang tengah dilakukan warga dengan damai diwarnai provokasi dari pihak Ormas dan berakhir dengan penyerangan oleh kelompok Ormas menggunakan batu , pecahan kaca dan lainnya. Vebri salah satu korban yang terkena batu di kepalanya saat sedang merekam proses dialog antara warga dengan pihak Ormas. Selain itu masih banyak korban dari pihak warga akibat ulah penyerangan yang dilakukan kelompok Ormas PP. Dari kejadian tersebut menuai korban berjumlah 28 orang. Dari keterangan yang kami dapat korban luka mengalami memar, sesak nafas, maupun luka bocor akibat lemparan batu.

Menurut keterangan warga korban luka membutuhkan ambulance untuk dapat penanganan medis segera, tetapi beberapa pihak rumah sakit menolak mengirimkan ambulance kepada warga. Mereka menolak karena akses masuk ditutup dan dijaga oleh polisi.

 

Reporter : Dimas Yusuf R.

Editor : Eep Larassandi

Bagikan:
143