Jakarta, Parmagz – Siang itu lumayan terik. Di Kawasan Pusat Bisnis Sudirman (SCBD), orang-orang banyak berlalu lalang seperti biasa. Terlihat tidak ada yang istimewa. Lain halnya jika siang itu, kita masuk ke salah satu pusat perbelanjaan mentereng kelas menengah atas di sana, Pacific Place. Di lantai 2, di sebuah co-working space yang namanya mirip salah satu layanan ojek daring, GoWork, ada acara yang sangat menarik, dengan pembicara orang Malang yang menjadi profesor di Australia.

Siang terik itu bertepatan dengan Jumat (20/07/2018). Acara yang dijadwalkan mulai pukul 13.00 WIB ini agak sedikit molor dimulai. Meski para peserta yang berdatangan sudah siap sedia di tempat acara tepat waktu, bahkan banyak yang datang lebih cepat. Di ruang semacam aula kecil yang normalnya kurang lebih hanya menampung 50-an orang, terpaksa harus dipadati oleh lebih dari 90-an peserta. Banyak di antaranya rela berdiri, saya termasuk dalam golongan ini.

Acara ngobrol bareng ini dipandu oleh bekas aktivis ‘98 yang kini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Nezar Patria. Berkat Nezar, obrolan bersama profesor yang sangat menarik dan populer di dunia maya ini nantinya akan berjalan lebih asik. Profesor itu bernama Ariel Heryanto, penulis buku laris Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia (2015).

Nezar dengan apik memandu acara Ngobrol Bareng Ariel Heryanto ini. Tema obrolan yang diangkat siang itu adalah Media dalam Dinamika Politik Identitas. Posisi Nezar yang telah lama bergelut dalam dunia media dan jurnalisme, semakin memengisi bobot diskusi. Salah satu pertanyaan ciamik Nezar adalah perihal salah satu gagasan Ariel dalam bukunya yang laris itu. Ada satu sumber utama dari kebencian dan perbedaan yang mencuat dalam politik dan media saat ini, yaitu obsesi tentang yang murni, atau yang asli. Nezar meminta Ariel untuk mengelaborasi gagasannya lebih lanjut.

Sebab peserta yang datang membludak, Ariel memutuskan untuk berdiri ketika sedang berbicara, ia ingin agar yang berdiri di barisan belakang, seperti saya, masih bisa melihatnya. Selanjutnya dengan runut Ariel menjelaskan latar belakang gagasannya tersebut. Ariel mengawalinya dengan menyatakan, baik ujaran kebencian maupun hoaks, bukanlah barang baru. Selama masih ada ketimpangan dan ketidakadilan, akan selalu ada alasan orang untuk membenci. “Sejarah manusia adalah sejarah ketidakadilan, sejarah ketimpangan,” terang Ariel.

Namun Ariel juga menggarisbawahi, meski sejarah selalu dibersamai oleh ketimpangan, tapi yang menurut Ariel aneh adalah, tidak di semua masa, kebencian selalu dahsyat berkobar, seperti yang terjadi sekarang di ruang publik dan media-media Indonesia. Hingga apa yang terjadi saat ini di Indonesia adalah, untuk menjadi seorang tokoh, maka seolah disyaratkan harus pandai membenci kalangan atau golongan-golongan tertentu yang berseberangan dengannya. “Kebencian seolah menjadi kriteria orang menjadi tokoh,” papar mantan dosen Universitas Kristen Setya Wacana (UKSW) Salatiga ini.

Hal menarik lain dari paparan Ariel dalam acara yang diselenggarakan oleh Jaringan Indonesia untuk Jurnalisme Investigasi (Jaring) dengan dukungan penuh oleh Kedutaan Besar Australia ini adalah, bahwa sepanjang sejarah Indonesia, bangsa ini telah sejak mula belajar dan diajari untuk membenci. Jika dirunut, kebencian itu dimulai oleh bangsa ini ketika sebelum merdeka. Kita diajari untuk memebenci orang-orang kulit putih, semua yang berbau asing kita benci, dan dampaknya masih sampai sekarang. Namun Ariel menyatakan kebencian itu disebabkan sendiri oleh kebodohan Belanda yang waktu itu melakukan Agresi Militer.

Baca juga:  Greta Thunberg, Aktivis Lingkungan 16 Tahun Kecam Para Pemimpin Dunia

“Kebencian itu sedikit banyak patut disalahkan kepada Belanda yang melakukan Agresi Militer, banyak orang menderita sebab Agresi Militer itu di Indonesia. Sebuah kebodohan yang dibikin Belanda, yang kemudian berdampak pada kebencian balik terhadap Belanda dan orang-orang yang dekat dengan Belanda,” jelasnya.

Itu fase pertama. Fase kebencian selanjutnya adalah setelah pada masa Indonesia merdeka. Ariel menerangkan, Soekarno mengajarkan bangsa ini untuk membenci neokolonialisme, imperialisme dan siapa saja yang tidak revolusioner. Pada era ‘65, bangsa ini diajari untuk memebenci yang tidak Pancasila, salah satunya adalah komunis, “Bahwa itu benar atau salah, ayo kita debat,” tantang Ariel.

Hingga pada masa setelah ‘98, bangsa ini diajari untuk membenci siapa saja yang bukan Islam. Dan bedanya, dulu hanya orang-orang yang punya kuasa yang bisa menyerukan kebencian, saat ini media sosial menjadikan kebencian semakin mudah mejalar di mana saja, dapat disebar oleh siapa saja.

Lebih jauh, profesor studi Indonesia di Universitas Monash ini, mengemukakan bahwa sumber utama kebencian, sebetulnya ada di luar ketimpangan yang ia sebutkan sebelumnya, dan itulah yang terjadi di Indonesia. Jika sumber kebencian itu adalah ketimpangan, lanjut Ariel, maka yang mestinya berhak untuk marah adalah orang-orang yang dikorbankan. Sedangkan yang saat ini terjadi, orang yang paling sibuk mebenci adalah orang-orang yang berkelimpahan.

“Sudah berkelimpahan, berkuasa tapi masih seakan-akan hidupnya menderita, cengeng, baperan lagi, ini gimana sih? Yang menderita aja diem,” terang Ariel sambil tersenyum kecut.

Obsesi tentang Kemurnian

Barulah setelah memaparkan itu semua, Ariel menuju pada pokok jawaban dari pertanyaan Nezar. Ia memaparkan dengan jernih bahwa, ada semacam angan-angan terhadap apa yang disebut asli atau murni. Hal itu bisa ditilik dalam sejarah Indonesia sejak sebelum merdeka.

Yang diimpikan adalah Indonesia yang asli. Dan yang banyak dilupakan oleh sejarah, proses kemerdekaan Indonesia sejatinya banyak sekali berhutang pada orang yang berkulit putih atau orang Indo, setengah putih. Fakta sejarah itu tidak bisa dipungkiri.

Yang kemudian Ariel sayangkan, memang sejak awal, seperti yang dipaparkan di atas, bangsa ini sudah diajari untuk membenci orang kulit putih. Orang-orang yang dikenal sebagai bapak pendiri bangsa, seperti HOS Tjokroaminoto dan Soekarno misalnya, bukanlah generasi awal dari sejarah perjuangan kemerdekaan, mereka baru bergabung setelah diajak oleh para generasi awal yang berkulit putih atau setengah putih itu.

Jadi, yang menjadi sumber utama kebencian selain ketimpangan, adalah angan atau obsesi pada kemurnian. Kita akan membenci yang kurang asli, kurang murni. Ditambah, selama ada ketimpangan pula, selalu ada alasan orang untuk membenci.

Salah satu dampak dari obsesi akan kemurnian yang sekarang mencuat pada era ini, alasan untuk membenci bukan saja seperti apa yang terjadi selepas ‘98, yaitu siapa yang Islam dan siapa yang bukan. Akan tetapi lebih dalam lagi konflik yang terjadi, siapa yang Islam dan siapa yang kurang Islam, siapa yang Islamnya murni dan siapa yang tidak. Kasus ini menguat, terutama pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu.

Baca juga:  #ReformasiDikorupsi, Aksi Mahasiswa di Senayan Terbesar Setelah ‘98

Namun Ariel mengingatkan. Obsesi akan kemurnian ini, tidak hanya terjadi pada ranah agama atau ras saja, tapi bisa juga pada ideologi. Bahkan kata Ariel, bisa juga pada persoalan seksual, seperti orang-orang yang anti-LGBT. Dalam kasus anti-LGBT, orang-orang hanya mengidamkan perempuan atau laki-laki yang murni.

Nezar kemudian menggali, sebenarnya dari mana sumber obsesi ini. Tesis sementara Ariel mengasumsikan bahwa, sumber obsesi akan yang murni ini berasal dari modernitas dengan sainsnya. Ariel mencontohkan buku Pramoedya Ananta Toer. Teknologi memungkinkan tulisan tangan Pram yang tadinya hanya ada dalam sebuah manuskrip, kemudian bisa dicetak dan dilipatjumlahkan menjadi banyak buku. Dari situ kemudian bisa dibedakan mana yang asli tulisan Pram, dan mana yang hanya cetakan mesin, tiruan.

Hirarki antara yang asli dan yang bukan itu dibentuk oleh teknologi. Modernitas mempunyai kontradiksi dalam dirinya sendiri, pada sisi lain memebebaskan manusia dari keterbatasan, sedang bilah lainnya memberi racun berupa obsesi atau angan-angan tentang yang lebih asli.

Kegagalan Kapitalisme

Sesi tanya jawab ramai diserbu peserta. Dari sesi ini juga banyak terungkap asal daerah peserta diskusi ini ternyata berasal dari berbagai instansi di luar Jakarta. Mulai dari mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung, hingga ada yang jauh-jauh datang dari Universitas Brawijaya, Malang.

Pertanyaan peserta dalam satu termin, dijawab sekali pukulan oleh Ariel. Yang menarik salah satu pertanyaannya perihal hakikat politik identitas yang dijawab dengan bernas oleh pria berkacama ini. Menurut Ariel, identitas pada dasarnya tidaklah buruk. Namun, yang menjadikan politik yang berbasis identitas menjadi tidak baik adalah, tidak adanya saluran aspirasi bagi kaum tertindas dan terpinggirkan. Partai atau Lembaga politik yang ada tidak bisa menampung itu. Jika tidak bisa mewakili aspirasi mereka, mereka yang putus asa akan melakukan dengan cara yang ada. Caranya bisa beragam, terakhir ada yang menggunakan cara bom bunuh diri misalnya. Menurut Ariel, mampetnya saluran aspirasi ini adalah bentuk nyata dari kegagalan kapitalisme.

“Seakakan-akan identitas itu negatif. Setiap kita punya identitas. Identitas nggak jelek. Debat politik itu identitas muncul, sebab lembaga politik yang ada, tidak lagi tidak dipercaya, dan tidak mampu menyuarakan penderitaan masyarakat. Ini adalah bentuk kegagalan kapitalisme. Batukbatuknya kapitalisme. Meler umbel-nya kapitalisme… Negara gagal itu ya sebab saluran masalahnya macet…”

Hal menarik lainnya yang sayang untuk dilewatkan dari paparan Ariel adalah, mengenai apa yang menjadi sebab dalam kasus politik identitas di Indonesia, sentimen agamalah yang paling laku, sedang di negara lainnya tidak begitu. Secara meyakinkan Ariel mengemukakan analisanya.

Di jaman orde baru ada proses moderninasasi yang dilakukan Soeharto dengan gaya yang fasis. Islam disisikan dan ditindas. Komunis dibunuh. Orde baru adalah pemerintahan yang sekuler, bersekutu dengan Amerika dan banyak korupsi terjadi. Ketika orde baru runtuh, di tengah kekuasaan ada sebuah lobang besar yang harus diisi. “Yang siap mengisi saat itu hanya Islam, kalau komunis tidak dibunuh di ‘65, Islam ada saingannya. Nah ini saingannya nggak ada. Satu satunya yang siap untuk mengisi hanya Islam,” tutup Ariel. (mfa)

Bagikan:
151