Jakarta, Parmagz – Sekitar pertengahan Maret lalu (17/3), banyak warganet yang ramai membicarakan kemunculan komunitas Indonesia Tanpa Feminis yang memiliki jargon “Indonesia doesn’t need feminism. Beberapa portal media seperti The Jakarta Post dan Deutsche Welle (DW) Indonesia memberitakan kemunculan komunitas yang memiliki hanya sekitar 3.700-an pengikut di Instagram ini. Warganet dengan latar beragam pun turut berbondong-bondong memenuhi ruang komentar di setiap foto yang mereka unggah.

Komunitas ini nyatanya lumayan berhasil menimbulkan kontroversi. Akan tetapi, dari usaha penolakan yang mereka lakukan, sejauh ini belum ada argumen kuat mengapa mereka menolak feminisme. Argumen yang mereka paparkan hanya berlandaskan pada penilaian subjektif mereka terhadap perilaku sebagian kalangan feminis, bukan argumen berupa kritik yang berdasar pada pokok ajaran maupun sejarah feminisme itu sendiri. Yang menarik adalah, mereka yang menolak feminisme ini, terlihat berasal dari golongan kaum Islamis. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, sebenarnya bagaimana Islam memandang feminisme?

Minggu (14/4) lalu, ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) menggelar kajian rutin bulanan, dan saya dengan bergairah mengikuti kajian ICRP kali ini, karena temanya sangat menarik. ICRP berlokasi di Cempaka Putih Barat 21 No. 34, Jakarta Pusat. Saya sempat tersasar walaupun sudah dibantu dengan Google Maps, perjalanan yang harusnya hanya ditempuh 45 menit pun harus menjadi 90 menit. Namun akhirnya saya sampai juga di rumah sederhana dengan warna cat pudar yang saya tuju itu.

Kajian yang saya hadiri ini berbeda dari kajian yang pernah saya ikuti di tempat lain sebelumnya, para perempuan di sini tidak semua berjilbab. Antara laki-laki dan perempuan tidak dibedakan tempat duduknya. Siti Rubaidah selaku pembawa acara menjelaskan bahwa Klub Kajian Islam Salam ini telah diadakan selama 8 kali, setiap minggu kedua pada tiap bulannya. Tema kali ini adalah “Feminisme dalam Islam”. Tema ini dipilih untuk menjawab maraknya kemunculan mereka yang menentang feminisme. Seperti dipaparkan Rubaidah, kajian ini memiliki 4 tujuan, pertama untuk  dakwah Islam yg sejuk dan damai. Kedua, untuk pendidikan agama yang humanis dan pluralis. Ketiga, advokasi untuk melawan semua bentuk kekerasan, khususnya KDRT. Dan terakhir, upaya untuk mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan universal dengan mengaitkannya pada nilai-nilai Pancasila, konstitusi dan prinsip-prinsip HAM.

Kajian ini dimulai dengan pembacaan ayat Alquran surat al-Hujurat ayat 13 oleh salah satu mahasiswa PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Alquran). Terjemahan ayat yang dibaca ini kurang lebih berbunyi, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Baca juga:  JSF 2019 Berikan 14 Rekomendasi Kebijakan

Narasumber kajian ini, Prof. Dr. Hj. Siti Musdah Mulia menyatakan di awal bahwa, saat ia sedang menjelaskan materi, hadirin dipersilahkan untuk bebas bertanya, boleh menginterupsi dirinya selagi bicara, ketika ada hal yang perlu ditanyakan, “Ini bukan forum yang sakral. Jangan menunggu saat saya selesai. Silahkan bertanya,” ujar perempuan yang pernah mendapatkan penghargaan International Women of Courage Award di tahun 2007 ini.

Perempuan kelahiran 3 Maret 1958 ini mengawali penjelasannya mengenai makna kesetaraan yang terkandung dalam kalimat tauhid la ilaha illallah. Bagi Musdah, esensi feminisme dalam Islam, ada dalam konsep tauhid ini. Lebih lanjut Musdah menjelaskan bahwa ketika kita percaya bahwa mutlak tidak ada Tuhan selain Allah, maka jelas bahwa tidak ada siapapun yang bisa setara dengan Allah, karena ialah Sang Khalik, “Untuk itu kita sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya di alam semesta ini memiliki tugas yang sama (antara perempuan dan laki-laki), seperti yang tercantum di surat al-Baqarah ayat 30, sebagai khalifah, tugas manusia adalah sama, yakni menjadi agen moral untuk melakukan amar makruf nahi mungkar, yakni upaya-upaya transformasi dan humanisasi,” terang Musdah.

Berbicara tentang kesetaraan, Musdah menarik ke belakang pada sejarah perjuangan Rasulullah SAW yang diutus menjadi rahmat bagi seluruh alam, seperti diterangkan dalam surat al-Anbiya ayat 107. Dakwah terbesar Rasulullah ialah membebaskan manusia dari ketertindasan, perbudakan, kebodohan, kemusyrikan, dan kerusakan moral yang melanda bangsa Arab saat itu. Kedudukan perempuan di masa itu pun masih sangat tertindas serta terkungkung oleh berbagai mitos. Bayi perempuan dianggap menjadi aib yang membuat mereka tega untuk membunuh bahkan mengubur hidup-hidup, seperti tertuang dalam surat an-Nahl ayat 58-59. Kesan misoginis atau kebencian terhadap perempuan ini yang juga diperjuangkan oleh Rasulullah untuk diberantas, khususnya dalam problematika mahar, poligami dan hak waris. Sebab perempuan di zaman Jahiliyah hanya objek yang tidak mempunyai hak bersuara, berkarya dan dan memiliki harta.

Baca juga:  JSF 2019 Berikan 14 Rekomendasi Kebijakan

“Penjiwaan terhadap makna tauhid tidak saja membawa kemaslahatan dan keselamatan individual, melainkan juga melahirkan tatanan masyarakat yang bermoral, santun, manusiawi, bebas dari semua perilaku ketidakadilan, diskriminasi, eksploitasi, kekerasan dan semua bentuk penindasan. Itulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW,” ujar Musdah yang menjeda penjelasannya selagi azan asar berkumandang ini.

Mengenai maraknya gerakan antifeminisme sendiri, Musdah menanggapi bahwa mereka memahami feminisme hanya dari mitos-mitos yang keliru dan miskonsepsi. Seperti feminisme membenci laki-laki, feminisme ingin perempuan berada di atas laki-laki, feminisme melawan kodrat sebagai perempuan, bahkan ada yang sampai mengira bahwa feminisme tidak menyetujui pernikahan.

“Feminisme tidak membenci laki-laki, yang kita benci hanya laki-laki yang brengsek dan tidak bermoral. Mengenai kesetaraan, feminisme tidak ingin di atas laki-laki sebab kalau iya, kita akan cenderung mendominasi dan mengeksploitasi. Feminisme juga tidak melawan kodrat, kita menghendaki laki-laki tetap laki-laki serta perempuan tetap perempuan. Feminisme tidak setuju dengan perkawinan, loh buktinya saya feminis dan saya bahagia dengan pernikahan saya,” terang perempuan asal Bone ini.

Mereka yang menganggap bahwa implementasi feminisme di Indonesia bertentangan dengan ajaran Islam adalah keliru, sebab menurut Musdah ada beragam interpretasi feminisme, “Konsep feminisme atau gagasan tentang feminisme bukanlah suatu konsep yang tunggal. Sangat beragam, karena itu dalam kajian feminisme ada feminisme liberal, feminisme sosial, Marxis, eco-feminis dan lainnya. Maka itu jangan menggeneralisasi makna feminisme.”

Ketakutan mereka yang anti terhadap feminisme karena menganggap feminisme ialah gagasan dari Barat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, merupakan pernyataan yang mereduksi pemahaman ajaran feminisme yang sebetulnya memiliki konsep yang bersifat universal, yakni emansipasi untuk melepaskan manusia dari kungkungan dan berbagai bentuk ketidakadilan, ketertindasan, dan eksploitasi akan hak-hak manusia. Maka dari itu, menurut Musdah, tidak ada ajaran feminisme yang bertentangan dengan Islam sebab perjuangan melawan ketertindasan adalah bagian perjuangan Rasulullah dalam menegakkan nilai-nilai agama Islam ketika gelapnya pandangan manusia akan moralitas zaman itu, “Inti dari feminisme adalah memperjuangkan keadilan dan kesetaraan untuk keseluruhan manusia. Memang pembicaraannya seputar perempuan, karena kelompok terbesar yang mengalami ketidaksetaraan adalah perempuan. Karena itu kita membicarakan yang sebetulnya esensial tentang feminisme itu yakni terlepas dari keterbelengguan ketidakadilan,” tutup Musdah. (nur/mfa)

 

Reporter: Nurma Syelin Komala

Editor: M Farobi Afandi

Bagikan:
253