Sabtu sore tanggal 27 Februari 2021, saya berangkat menuju Asrama Kamasan Papua bertemu dengan kawan-kawan di sana untuk menghadiri acara panggung budaya perlawanan. Setibanya di sana, saya melihat Kak Aris Wanimbo sedang sibuk menempelkan poster dan saya pun memutuskan untuk membantunya menempelkan poster di tembok-tembok yang tidak jauh dari lokasi pagelaran panggung budaya perlawanan yang mengangkat tema “Otsus adalah Kejahatan”.

 

Setelah kami selesai menempel poster yang berisi protes dengan karya visual khas bercorak bintang kejora serta seruan bagi bangsa Papua untuk menentukan nasibnya sendiri, secara mengejutkan kegiatan teman-teman yang lain yang sedang mempersiapkan alat-alat musik dan pengeras suara terhenti dikarenakan listrik di Asrama Kamasan I padam secara tiba-tiba disusul dengan kedatangan ormas ‘Paksi Katon’ yang bergerombol di seberang Asrama Kamasan.

 

Kedatangan mereka mengundang curiga bagi penghuni asrama maupun pengunjung sebab bertepatan dengan padamnya listrik di asrama. Kejadian itu merupakan hal yang aneh karena bangunan lain di sekitar asrama tampak tidak mengalami gangguan listrik. Akhirnya penghuni asrama menyambangi kelompok ormas yang sedang bergerombol itu dan beberapa dari mereka langsung pergi menyisakan beberapa temannya yang sedang berdialog dengan penghuni asrama.

 

Setelah kejadian tersebut, salah satu penghuni asrama memberikan informasi pada kawan-kawan yang akan melaksanakan acara panggung budaya bahwa gerombolan ormas Paksi Katon telah melakukan sabotase listrik di asrama hingga tengah malam, kabar getir yang sempat membuat kawan-kawan lesu. Namun, panitia pelaksana acara tak habis akal dan memilih melanjutkan dengan menggunakan generator pembangkit yang berhasil disewa dan tiba pada pukul tujuh malam.

 

Acara yang direncanakan dimulai pada pukul lima sore akhirnya mundur dan dimulai pada pukul tujuh malam. Pembawa acara meminta maaf atas keterlambatan acara dari jadwal yang seharusnya, beliau juga menyampaikan bahwa aksi sabotase seperti ini merupakan upaya pembungkaman ruang-ruang demokrasi khususnya pada bangsa Papua.  Akhirnya acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Papua yang berjudul ‘Hai Tanahku Papua’ disusul doa bersama bagi para korban kekerasan oleh aparat di Papua.

 

Selanjutnya  acara diisi oleh orasi pendek dari Benk Riyadi, seorang seniman asal Jogja, beliau menyatakan solidaritasnya kepada teman-teman Papua yang sedang berupaya memperjuangkan haknya untuk dapat menentukan nasib bangsa Papua sendiri, sebab menurutnya pendekatan militeristik maupun otsus yang ditawarkan oleh negara telah gagal dan banyak menimbulkan korban baik warga Papua maupun anggota TNI itu sendiri.

 

Pertunjukan dilanjutkan dengan pembacaan dua buah puisi dari Saut Situmorang, sebelum memulainya ia menyampaikan solidaritasnya terhadap teman-teman Papua. Ia juga menyampaikan bahwa kondisi Papua saat ini memiliki persamaan dengan Indonesia saat zaman kolonialisme Belanda, sehingga ia berkeyakinan suatu saat bangsa Papua juga akan merdeka seperti Indonesia lepas dari penjajahan Belanda. ‘Negeri Terluka’ adalah puisi pertama yang dibacakan oleh Saut dengan bantuan cahaya lampu ponsel, sebab generator sewaan tak cukup menerangi sisi panggung acara. Setelahnya, Saut juga membacakan puisinya yang berjudul ‘Matamu’, keduanya menggambarkan ironi kondisi manusia Indonesia yang dibawakannya dengan lantang malam itu.

 

Acara juga dimeriahkan oleh perwakilan teman-teman dari daerah adat Papua yang sedang menetap di Jogja. Dalam kesempatannya, mereka membawakan masing-masing satu lagu khas daerahnya dan satu lagi lagu berbahasa ‘kolonial’, sebutan mereka untuk Bahasa Indonesia. Salah satu lagu yang berbahasa khas adat suku Me yang menceritakan bahwa mereka berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah, sehingga mereka berkewajiban untuk menjaga tanah tempat tinggal mereka. Namun lagu itu juga mengisahkan bagaimana mereka harus mempertahankan ruang hidupnya yang dirampas oleh pihak yang mengatasnamakan negara maupun pengusaha yang dilindungi olehnya, sebut salah satu perwakilan dari daerah adat Me atas lagu yang telah mereka bawakan.

 

Sebelumnya, mereka membawakan sebuah musikalisasi puisi yang salah satu baitnya berbunyi “sudah habis air mataku, haruskah aku menangis darah” dengan itu para penonton dibuat terdiam dan diajak untuk mendengar langsung derita rakyat Papua selama ini melalui sajian musik khas yang dibawakan oleh teman-teman dari daerah adat suku Me. Selain itu, ada juga teman-teman dari daerah adat Intan Jaya membawakan dua buah puisi yang menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat di sana yang saat ini sedang dalam konfik berkepanjangan  yang salah satu bait puisinya berbunyi:

 darah mengalir membasahi hingga menjajahi seluruh bumi pertiwi Intan Jaya

Darah mengalir darah

Darah mengejar darah

Darah memburu darah

Darah memakan darah

Darah mematikan kehidupan alamku di Intan Jaya.

Disusul dengan penyampaian kronologis peristiwa konflik Intan Jaya sejak tahun 2015 sampai saat ini, beliau menyampaikan mulai tanggal 17 Desember 2019 hingga saat ini korban dari warga sipil mencapai sekitar 22 orang, satu diantaranya adalah pendeta dan dua orang pewarta. Hingga saat ini belum ada penyelesaian dari pemerintah daerah, provinsi maupun pusat terkait masalah tersebut, mendengarnya membuat saya menjadi mengerti akan pesan yang terkandung dalam puisi sebelumnya. Namun kepiluan belum selesai sampai di situ, mendengar keterangan bahwa ada di antara para korban yang mayatnya dibakar dan abunya dibuang ke sungai untuk menutupi jejak kejahatan aparat TNI di Distrik Sugapa membuat saya haru menahan air mata saat mendengarnya.

 

Dan konflik yang menimbulkan banyak korban dari warga sipil ini masih berlangsung. Tak ada upaya untuk meredam situasi berdarah di Intan Jaya dari pemerintah provinsi maupun pusat. Beliau menuturkan bahwa pemerintah lebih memilih untuk mengirim pasukan ke sana 4-6 kali dalam sebulan dan mengakibatkan terjadinya kontak senjata setiap hari di sana yang menjadi penyebab warga mengungsi karena takut akan menjadi korban kebrutalan aparat. Beliau menyampaikan hingga pada bulan Februari ini sekitar 700 orang mengungsi dari kampung halamannya di Intan Jaya timur menuju tiga kabupaten terdekat.

https://youtu.be/jpU6g_BqZJo (Konferensi Pers Perwakilan dari Intan Jaya-Asrama Kamasan Papua, 27 Februari 2021)

 

Selesai membawakan berita dari lntan Jaya, mikrofon diberikan pada perwakilan lain dari Intan Jaya untuk membawakan puisi berjudul, “Suara Jeritan Aku”

 

https://youtu.be/c6Nv6smYdhE (Pembacaan Puisi “Suara Jeritan Aku”-Asrama Kamasan Papua, 27 Februari 2021)

 

Sebuah puisi yang terdengar amat memilukan dan menyayat hati. Dalam puisi tersebut diceritakan bahwa berbagai tragedi yang terus terjadi di Papua khususnya Intan Jaya, membuat mereka merasa bahwa semua itu tidak akan pernah berakhir.  Sudah terlalu banyak darah yang tumpah, sudah terlalu banyak air mata yang mengalir, sudah terlalu sering mereka dibungkam, sudah terlalu dalam luka yang diberikan. Penderitaan yang mereka alami sehari-hari menyisakan memori mengerikan yang tak dapat disembuhkan.

 

Perwakilan FRI-WP (Front Rakyat Indonesia untuk West Papua) juga menyatakan dukungannya untuk Papua. Ia menyampaikan bahwa sudah semestinya Indonesia sebagai negara yang demokratis segera memberikan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi Papua. Ia juga menghimbau untuk ikut menyuarakan dan menyebarluaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Papua melalui media sosial atau pun media yang lain, mengungkap kebenaran atas tragedi dalam konflik menahun yang sering ditutup-tutupi dan tidak banyak diketahui oleh publik. Sebab, seringkali berita tentang Papua yang disampaikan sudah ditaburi dengan bermacam-macam bumbu yang berasal dari pelbagai kepentingan.

 

Salah satu mahasiswa perwakilan dari Intan Jaya menyampaikan bahwa mayoritas rakyat Papua menolak adanya otonomi khusus. Mereka merasa otonomi khusus bukanlah murni untuk kepentingan rakyat Papua, tetapi hanya untuk kepentingan beberapa pihak. Selain itu, otonomi khusus dianggap tidak memberikan dampak positif dan justru membawa penderitaan bagi rakyat Papua.

 

Menyaksikan secara langsung berbagai peristiwa yang dialami orang Papua dan mendengar berbagai cerita dari sudut pandang orang Papua adalah cara terbaik untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di Papua. Begitulah yang saya rasakan ketika menyaksikan sendiri tindakan represi berupa sabotase dalam acara ini. Ketika sebuah acara yang diselenggarakan jauh dari tanah Papua saja sudah direpresi dan disabotase seperti ini, bisa dibayangkan bagaimana perlakuan yang diterima oleh rakyat Papua di atas tanahnya nun jauh di timur sana. Terusir dari tanahnya sendiri, penambahan jumlah pasukan militer secara terus menerus yang tidak sebanding dengan penegakan HAM di Papua, gagalnya pemenuhan hak rakyat Papua dan sebagainya.

 

Adanya konflik berkepanjangan dan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap rakyat Papua sudah seharusnya membuat sadar bahwa hak untuk menentukan nasib sendiri bagi rakyat Papua harus segera dipenuhi. Merupakan solusi yang demokratis yang mestinya ditempuh, bukan dengan menambah anggota pasukan bersenjata yang telah terbukti banyak menimbulkan korban jiwa dari warga sipil Papua yang dengan gampangnya akan dikatakan sebagai kelompok kriminal bersenjata oleh pihak tentara. Semoga suara-suara penuh tangis juga darah mampu menghampiri hati mereka yang memandang saudara kita di Papua dengan penuh stigma terkait perjuangan hak mereka untuk merdeka.

 

Asrama Kamasan I Papua, Yogyakarta.

 

Penulis: Eep Larassandi

Editor: Novityasari Kusumastuti

*artikel telah terbit dalam platform medium Oursilence Project http://bit.ly/3cJRzED

Bagikan:
166