Jakarta, Parmagz – Kamis sore ( 08/11), Perwakilan mahasiswa Universitas Paramadina angkatan 2018 menyerahkan dana bantuan sekitar Rp 13.780.500, serta beberapa barang siap pakai yang telah didapatkan dari aksi kemanusiaan yang digelar pada 17 hingga 19 Oktober kepada Dompet Dhuafa. Dana bantuan ini diperuntukkan bagi korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. Penyaluran dana dilakukan di kantor Dompet Dhuafa, gedung Philantropy Building, Jakarta Selatan. Dana dan barang bantuan ini diterima langsung oleh Rini Febriani, selaku bagian Research and Mobilization Dompet Dhuafa.

Sambutan hangat yang diberikan Dompet Dhuafa kepada para mahasiswa Universitas Paramadina angkatan 2018. Ucapan terimakasih diberikan kepada mahasiswa Universitas Paramadina angkatan 2018 atas kesediaannya untuk berkolaborasi membantu korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Nurul Hidayat selaku ketua angkatan 2018 menjelaskan kenapa aksi yang dilakukannya ini seakan-akan terlambat, karena berdasarkan survey yang dilakukan oleh panitia aksi, para korban hingga saat ini juga masih membutuhkan bantuan walau berita mengenai hal itu sudah redup.

“Tentu donasi kami ini tidak seberapa dibanding musibah yang dialami saudara-saudara kita di sana, tetapi kami berharap semoga apa yang sudah kami laksanakan seperti aksi penggalangan dana dapat membantu meringankan beban saudara-saudara kita di Palu Donggala,” ujar Dayat.

Terkait dengan kolaborasi penyaluran dana Palu, Donggala dan Sigi ini, Dompet Dhuafa mengatakan bahwa kegiatan penyaluran dana ini akan dikemas dalam bentuk campaign “14 hari bersaa Sulteng”.

“Nah dalam campaign ‘14 hari bersama Sulteng’ ini, kita goalnya itu adalah fundraising bareng, kita penghimpunan bareng, kita pengen membantu mereka bareng,” tutur Rini selaku perwakilan Dompet Dhuafa kepada mahasiswa Paramadina angkatan 2018. “Karena kalo Dompet Dhuafa sendiri itu sangat kesulitan, makanya kita pengen bareng-bareng mengajak komunitas, baik itu brand, baik pengajian, sekolah, kampus, masjid. Yuk kita bareng-bareng” Lanjut Rini

Baca juga:  Greta Thunberg, Aktivis Lingkungan 16 Tahun Kecam Para Pemimpin Dunia

Acara campaign “14 hari bersama Sulteng” ini akan dilakukan dengan dua cara, yaitu secara online dan offline. Secara online, dilakukan melalui media sosial seperti Instagram, Twitter dan lain sebagainya. Sedangkan secara offline dilakukan melalui training, pengajian, dan seminar-seminar.

Dalam penyaluran dananya, Dompet Dhuafa memiliki caranya sendiri. Rini menyampaikan bahwa, “(Penyaluran dana) untuk bencana kami bagi dalam tiga fase. Fase emergency itu kita memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan, mulai dari pakaian, kebutuhan logistik dan sebagainya. Karena sekarang sudah masa transisi, mau masuk ke masa recovery.” Rini melanjutkan, “Dompet Dhuafa juga membangun Rentara (Rumah Sementara), nanti jika donasi (dari mahasiswa Paramadina) mencukupi akan dibuatkan Rentara, Masjid darurat, MCK. Jika tidak maka akan digabungkan dengan yang donasi lainnya untuk dibuatkan Rentara.”

Seperti yang dituturkan oleh Rini bahwa kondisi bencana di Palu, Donggala dan Sigi sudah masuk masa transisi bahkan sudah masuk masa recovery, maka pengalokasian dananya lebih kepada pembangunan-pembangunan.

“Semoga kita tidak putus di sini, hanya dalam aksi peduli Palu dan Donggala, dalam aksi bencana-bancana. Tapi nanti semoga kita bisa saling bekerja sama, misalkan dalam event Semibar ini, yuk kita kolabirasi lagi” harap Rini. (mna/mfa)

Bagikan:
114