Jakarta, Parmagz – Selasa (29/10) Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists-CPJ) merilis laporan indeks global kasus impunitas berjudul “Getting Away with Murder”. Laporan yang diterbitkan di halaman website resmi CPJ tersebut menguak ada 13 negara dengan kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan hingga saat ini.

“Impunitas yang merajalela mengirim pesan kepada para calon pembunuh jurnalis bahwa mereka dapat lolos dari kejahatan mereka itu,” kata Elana Beiser, Direktur Editorial CPJ seperti yang dilansir VOA News.

Beiser juga mengatakan bahwa impunitas membuat jurnalis memanipulasi perolehan data mereka karena adanya intimidasi. “Impunitas juga memberikan pesan intimidasi kepada jurnalis yang dapat mengarahkan mereka untuk menyensor laporan mereka sendiri demi keselamatan mereka yang membuat masyarakat jatuh dalam informasi yang salah,” lanjutnya.

13 negara yang dipilih CPJ dalam indeks tersebut merupakan hasil dari metedeologi riset dengan persentase populasi masing-masing ketigabelas negara tersebut berdasarkan data Bank Dunia 2019 terhadap pembunuhan terhadap jurnalis yang belum terpecahkan antara periode 1 September 2009 sampai 31 Agustus 2019. Selama satu dekade ini ada 318 jurnalis yang dibunuh saat peliputan jurnalistik mereka di berbagai penjuru dunia, 222 kematian jurnalis diantaranya tidak ada pelaku yang berhasil dibawa ke pengadilan.

Berikut 13 negara terburuk dalam daftar pelaku pelanggaran impunitas terhadap jurnalis di dunia :

  1. Somalia, 25 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  2. Suriah, 22 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  3. Irak, 22 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  4. Sudan Selatan, 5 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  5. Filipina, 41 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  6. Afghanistan, 11 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  7. Meksiko, 30 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  8. Pakistan, 16 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  9. Brasil, 15 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  10. Bangladesh, 7 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  11. Rusia, 6 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  12. Nigeria, 5 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan
  13. India, 17 kasus pembunuhan jurnalis yang belum terpecahkan.

Index Rank “Global Impunity Index 2019” cpj.org

13 negara diatas merupakan lokasi dari tiga per empat kasus pembunuhan jurnalis yang masih belum terpecahkan di dunia. Somalia yang menjadi negara dengan daftar teratas selama lima tahun berturut-turut yang saat ini tengah melawan kelompok teroris Harakat al-Shabaab al-Mujahidin memiliki 25 kasus pembunuhan terhadap jurnalis yang tidak terpecahkan sejak indeks yang dimulai tahun 2008 ini.

Baca juga:  Ganda Campuran Indonesia Gagal Pertahankan Gelar Juara Dunia di Rusia

Kemudian, Meksiko menjadi negara paling berbahaya untuk jurnalis sejauh ini. Lima pembunuhan terhadap jurnalis yang pernah terjadi di sana belum juga ditemukan pelaku pembunuhan. Impunitas di Meksiko justru semakin meningkat setiap tahunnya menurut CPJ dan tahun ini menjadi negara dengan peringkat ketujuh di indeks.

Dan Filipina menjadi negara dalam kawasan Asia Tenggara yang menjadi negara terburuk kasus impunitas terhadap pelaku tewasnya jurnalis, bahkan masuk dalam indeks CPJ setiap tahunnya sejak indeks ini diluncurkan pertama kalinya. Hal ini disebabkan karena konflik internal di Pulau Mindanao yang menewaskan 58 orang, 32 diantaranya ialah jurnalis dan pekerja media pada 23 November 2009 yang lalu.

Beiser menerangkan bahwa kasus impunitas banyak terjadi karena aparat yang korupsi, institusi yang lemah, dan kurangnya investigasi yang sungguh-sungguh. “Dalam banyak kasus, kurang sekali investigasi yang sungguh-sungguh. Korupsi, institusi yang lemah, dan kurangnya kemajuan politik merupakan semua faktor di balik impunitas,” ucap Beiser.

Di lain pihak, Direktur Advokasi CPJ, Courtney Radsch juga mengatakan bahwa secara integral kasus impunitas di 13 negara tersebut karena minimnya tindakan dari ‘pihak berwenang’ terhadap penyerangan terhadap jurnalis.

“Impunitas yang telah kami saksikan di ketigabelas negara dari tahun ke tahun ini, dan pengetahuan bahwa pihak berwenang mengambil sedikit tindakan terhadap mereka yang menyerang jurnalis, melumpuhkan kemampuan jurnalis dari penjuru dunia untuk dapat melakukan tugas mereka,” ungkap Direktur Advokasi CPJ Courtney Radsch.

Dia menerangkan lebih lanjut bahwa pemerintah demokratis yang mendukung kebebasan jurnalis seharusnya menindaklanjuti kasus impunitas. “Pemerintahan yang demokratis tidak seharusnya diam dalam menindaklanjuti kasus impunitas jika mereka ingin terlihat sebagai pemerintahan yang mendukung kebebasan jurnalis,” jelas Radsch.

Baca juga:  Ganda Campuran Indonesia Gagal Pertahankan Gelar Juara Dunia di Rusia

Menurut ELSAM HAM, impunitas sendiri merupakan upaya pemberian kebebasan atau pengecualian dari tuntutan hukum kepada tersangka yang telah melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Riset di UNESCO, setidaknya ada 1360 jurnalis yang dibunuh sejak tahun 1993. Maka itu dalam resolusi mengutuk semua serangan penyebab tewasnya jurnalis, Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa memperingati Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas bagi Kejahatan terhadap Jurnalis setiap 2 November sejak tahun 2013.

 

Penulis: Nurma Syelin

Bagikan:
22