sejuk

 

Jakarta, Kampusparmad.com – “Tantangan utama yang dihadapi jurnalis adalah minimnya pemahaman mereka mengenai agama dan pentingnya agama dalam kehidupan masyarakat yang mereka liput. Karena keterbatasan pengetahuan ini, media banyak sekali menyebarkan informasi yang salah, mendistorsi berita yang dapat menjadi sumber kesalahpahaman di masyarakat,” ujar Endy Bayuni, Senior Editor The Jakarta Post dan Ketua International Association of Religion Journalist (IARJ), dalam kuliah umum dan peluncuran buku “ Jurnalisme Keberagaman: Sebuah Panduan Peliputan” yang menyelenggarakan Serikat Jurnalis Keberagaman (Sejuk) di YLBHI Jakarta, Rabu (08/05).

Dia menambahkan, banyak kritik yang dilontarkan, media tidak hanya gagal dalam menegakkan prinsip good journalism, tetapi juga media punya andil dan bertanggungjawab dalam memanaskan dan membuat ketegangan konflik inter dan antar agama. Jurnalis dan media sering, disengaja atau tidak mengembangkan stereotipe terhadap kelompok tertentu, malah membangun kebencian di masyarakat. Seperti islamophobia yang berkembang di masyarakat Barat tidak bisa lepas dari peran media.

Oleh karena itu, untuk menghilangkan atau meminimalisir kesalahan tersebut, maka seorang jurnalis harus melepaskan kepercayaan atau agama mereka ketika melakukan peliputan, agar tidak mempengaruhi berita yang dipersiapkannya. Di samping itu, ia juga harus berjarak dengan realitas dan menghindari vonis sesat atau benar terhadap kelompok tertentu.

Di akhir kuliah umumnya, Endy memberikan beberapa tawaran solusi untuk memperbaiki peliputan media mengenai agama di Indonesia. Pertama, media harus lebih serius dalam memberlakukan agama dalam peliputan. Kedua, media harus menciptakan redaksi pluralis. Ketiga, media atau perhimpunan profesi jurnalis seperti Sejuk menyelenggarakan pelatihan peliputan masalah agama.

Kuliah umum yang diselenggarakan Sejuk bekerja sama dengan Hivos dan New Zealand IAD Programme dihadiri oleh para jurnalis, mahasiswa dan aktivis sosial lainnya.

Joko Arizal

Bagikan:
351