Jakarta, Parmagz – Kekerasan di dunia anak sekolah kembali terjadi. Kali ini korbannya adalah seorang siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat. Audrey, siswi berumur 14 tahun ini menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh 12 siswi SMA. Kasus yang membuat geram banyak pihak ini mendapat perhatian luas masyarakat. Tagar #JusticeForAudrey sempat menjadi salah satu topik terpopuler di Twitter, dan petisi daring di situs Change.org yang digagas oleh Fachira Anindy, telah ditandatangani sebanyak 3.7 juta lebih warganet.

Apa saja sebenarnya yang terjadi dalam kasus ini? Berikut rangkuman fakta-fakta kasus pengroyokannya.

 

  1. Kronologi Pengroyokan Audrey

Dilansir sejumlah media, kekerasan ini berawal dari kakak sepupu Audrey yang memiliki mantan pacar yang kini berhubungan dengan salah satu pelaku pengroyokan. Permasalahan muncul ketika kemudian terjadi adu mulut di sosial media yang membuat pelaku sakit hati sebab korban mengungkit-ungkit utang almarhumah ibunda pelaku kepada keluarga korban. Pelaku yang tidak terima, akhirnya meluapkan emosinya ke dunia nyata.

“Pemicunya karena teman pria. Jadi si cowok ini ada berhubungan dengan P, sepupu korban bermasalah D salah satu pelaku. Mantan pacar si P sekarang berhubungan dengan D. Tapi si pria itu masih berteman juga dengan di P. Lalu saling berkomentarlah,” kata Ketua KPPAD Kalbar Eka Nurhaya, saat dihubungi merdeka.com, Rabu (10/4).

“Nah korban ini sering ikut berkomentar juga, hal itulah yang membuat pelaku emosi sehingga timbulkan niatan berbuat tindakan itu,” sambungnya.

Pada Jumat, 29 Maret 2019 sekitar pukul 14:30 WIB, saat korban yang sedang berada di rumah, ia dijemput untuk pergi ke rumah sepupunya oleh salah satu pelaku dengan alasan ingin berbicara dengan Audrey. Setelah sampai di rumah sepupunya, Audrey sebagai korban dibonceng oleh kakak sepupunya yang diarahkan oleh salah satu pelaku menuju sebuah bangunan di Jalan Sulawesi.

Setelah sampai, korban dan kakak sepupunya disambut oleh siswi SMA lainnya yang sudah menunggu kedatangan mereka. Ketika itu, salah satu mereka ada yang langsung menyiramkan air ke korban, menjambak rambut dan menendang korban. “Setelah korban terjatuh, saudari EC menginjak perut korban, dan membenturkan kepala korban ke jalan,” kata Kasat Reskrim Polresta Pontianak Kompol Husni Ramli dikonfirmasi Merdeka.com, Selasa, 9 April 2019.

Kemudian, korban dan kakak sepupunya sempat lari dari segerombolan pelaku tetapi pelaku yang mengejar mereka kembali melanjutkan aksi kekerasan. Kakak sepupu korban yang tangannya dipegangi oleh salah satu pelaku tidak bisa menghentikan kekerasan yang ditujukan ke Audrey. Hingga ada warga yang melintas, barulah segerombolan berhenti dan kabur.

“Korban dan sepupunya sempat lari … tapi korban terus dianiaya, hingga ada warga melintas, pelaku kabur,” ungkap Husni.

 

  1. Kekerasan Baru Dilaporkan Seminggu Setelahnya

Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar, Eka Nurhayati Ishak mengatakan, pihaknya pada Jumat (5/4) sekitar pukul 13.00 WIB, menerima aduan dari korban yang didampingi langsung oleh ibunya.

Dalam aduan itu korban melaporkan dirinya telah mengalami kekerasan fisik dan psikis, seperti ditendang, dipukul, diseret sampai kepalanya dibenturkan ke aspal.

“(Dari pengakuan korban) Pelakunya ada 12 orang, dua orang jadi provokator kisah awalnya, 3 orang pelaku utama yang memukul menganiaya, sisanya tim hore, ada juga jagain lokasi, ada yang nonton. Korban tidak memberitahu kejadian tersebut pada orangtua, justru kakak sepupunya lah yang menceritakan lebih dulu. Setelah kejadian ini korban tidak berani cerita ke orangtua. Tapi dia ngerasa badannya sakit. Kebetulan kakeknya tukang urut, jadi dia minta urut, tolong urutkan karena kecapekan. Tapi tahu-tahu sepupunya cerita sama kakaknya, kakaknya cerita ke ibunya, dan kasus ini terbuka,” jelas Eka.

Setelah kasus ini ditangani oleh Polsek Pontianak Selatan pada tanggal 5 April 2019, barulah 3 hari setelahnya dilimpahkan ke Polres Pontianak sesuai dalam Laporan Polisi (LP) bernomor LP/662/IV/RES.1.18/2019/KALBAR/RESTA PTK.

 

  1. Tidak Ada Penusukan Alat Vital

Beberapa headline berita saat kejadian ini pertama kali viral (8/4) sempat diduga bahwa 12 siswi ini juga melakukan pelecehan seksual kepada korban, dengan melakukan penusukan terhadap alat vital korban, dengan tujuan agar korban tidak lagi perawan.

Tapi, setelah dilaksanakannya jumpa awak pers di Pontianak (10/4), Kombes M. Anwar Nasir memaparkan hasil visum yang baru keluar hari itu, bahwa berita perihal penusukan alat vital pada korban ialah tidak benar.

“Alat kelamin, selaput dara atau hymen intact, tidak tampak luka robek atau memar,” ucap Anwar. “Saya ulangi, alat kelamin selaput dara tidak tampak luka robek atau memar,” tegas Anwar sekali lagi.

Walaupun berdasarkan pengakuan korban menurut pengacaranya, Umi Kalsum, pelaku sempat menekan alat kelamin korban. “Audrey sendiri yang menyatakan dan saat itu ia menggunakan celana panjang dan lepis. Kemaluan dicucuk oleh pelaku meskipun itu dari luar celana. Tapi bayangkan kalau pakai rok, itu niat apa itu? Syukur Alhamdulillah pakai celana panjang dan jeans kalau pakai rok habis itu,” jelas Umi Kalsum.

 

  1. Polisi Tetapkan 3 Tersangka Utama

Setelah memeriksa sejumlah saksi peristiwa, akhirnya polisi menetapkan 3 tersangka utama kasus kekerasan yang menimpa Audrey, setelah diadakan upaya penyelidikan dan sinkronasi keterangan antara korban dan saksi.

“Dari Polresta Pontianak sudah menetapkan tiga orang tersangka,” kata Kabid Humas Polda Kalimantan Barat, Kombes Donny Charles Go, saat dihubungi, Rabu (10/4/2019).

“Yang diperiksa ini tidak hanya korban, ibu korban, tapi juga semua anak-anak SMA yang ada di lokasi, diperiksa seluruhnya. Dari beberapa pengakuan saksi yang ada di sana sudah mengerucut pada tiga tersangka,” lanjutnya.

3 orang pelaku yang sudah ditetapkan ini dijerat dengan Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak terancam hukuman jeruji besi selama tiga tahun enam bulan. Namun, sesuai dengan UU Nomor 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dilakukan diversi atau pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

 

  1. Pengakuan Para Pelaku Berbeda dari Kabar yang Beredar

Setalah kasus ini viral di media sosial, pada Rabu (10/4) Polresta Pontianak menggelar konferensi pers yang dihadiri 7 dari 12 pelaku. Siswi remaja yang masih dibawah perlindungan hukum anak ini, mengklarifikasi kejadian versi mereka.

Terkait dengan pengeroyokan, salah satu pelaku mengungkap bahwa kejadian tersebut dilakukan satu lawan satu dan pelaku tidak menjemput atau menjemput korban.

“Korban sendiri yang minta dijemput, lagipula saat itu bukan dua belas orang yang menganiaya sekaligus, tapi kami satu lawan satu, dan perlu diketahui tidak semua yang ada disitu memukul, beberapa dari mereka hanya melihat saja,” ujar salah satu pelaku.

Netizen yang sempat geram karena menyangka penyebab  kasus ini hanyalah permasalahan cinta semata, ternyata pelaku pun mengungkap fakta yang berbeda.

“Dia suka bilang bahwa mama saya suka pinjam uang,” kata salah satu tersangka.

Dia mengaku tidak bisa mengontrol emosi ketika Audrey membuat pernyataan tersebut. “Kalau Audrey tidak membuat omongan seperti ini, saya juga tidak akan melakukan hal ini. Saya kesal sampai saya tidak bisa mengontrol emosi,” lanjut dia.

Kemudian pernyataan pelaku juga terkait dengan hasil visum yang mengungkapkan bahwa tidak ada yang rusak pada alat vital korban, “Memang benar kami melakukan perkelahian, tapi tidak ada pengeroyokan, apalagi sampai 12 orang mengeroyok satu. Juga tidak mencolok ke organ vital,” kata salah satu pelaku lainnya.

 

  1. Jokowi Memberi Dukungan Lewat Akun Instagram

Presiden Joko Widodo atau kerap disapaa Jokowi, mengunggah dukungannya atas kasus kekerasan yang menimpa Audrey ini. Dalam keterangan foto yang diunggah pada Rabu (10/4). Jokowi meminta agar pihak berwajib dapat bertindak tegas. Jokowi juga menegaskan bahwa, budaya bangsa kita tidak sama sekali tidak membolehkan terjadinya perundungan. Berikut ungkapan dukungan yang Jokowi tuliskan,

“Saya telah mendengar tentang peristiwa yang menimpa seorang anak kita, siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat, yang dikabarkan menjadi korban perundungan beberapa anak lain. Kita semua sedih dan marah dengan kejadian ini. Saya telah meminta Kepala Kepolisian RI untuk bertindak tegas menangani kasus ini. Penanganannya harus bijaksana dan berjalan di koridor undang-undang yang sesuai, mengingat para pelaku dan korban masih di bawah umur.

Yang pasti adalah, kita sedang menghadapi masalah perubahan pola interaksi sosial antarmasyarakat melalui media sosial. Kita sedang dalam masa transisi pola interaksi sosial itu, hendaknya lebih berhati-hati. Saya benar-benar berharap agar orang tua, guru, dan masyarakat turut bersama-sama merespons setiap perubahan-perubahan yang ada, mengawasi betul anak-anak kita, serta meluruskan hal-hal yang tidak benar.

Usulan revisi terhadap regulasi yang berkaitan dengan anak-anak itu satu hal, tapi yang paling penting lagi adalah budaya kita, etika kita, norma-norma kita, nilai agama kita, semua tidak memperbolehkan adanya perundungan, apalagi penganiayaan fisik.” (nur/mfa)

 

Penulis: Nurma Syelin Komala

Editor: M Farobi Afandi

Bagikan:
68