Jakarta, Parmagz—Aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg yang baru berusia 16 tahun ini menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada Senin, (23/9) setelah sebelumnya Greta melintasi Samudra Altantik dari kota Plymouth, Inggris dengan kapal pesiar yang menghasilkan nol emisi selama 15 hari untuk menghadiri konferensi yang dihadiri oleh para pemimpin dunia ini.

Dengan memakai baju berwarna merah muda dan gaya rambut kepang khasnya, Greta menyuarakan pidatonya dengan penuh emosional karena menganggap para politikus dan pembisnis telah gagal bertindak atas perubahan iklim yang sedang terjadi.

“Kalian sudah mencuri impian dan masa kecil saya dengan omong kosong kalian. Tapi saya masih beruntung. Orang-orang di luar sana menderita. Orang-orang sekarat. Seluruh ekosistem merosot. Kita sedang berada di awal kepunahan massal dan kalian semua (politikus dan pemilik bisnis, red) hanya bisa berbicara soal uang dan dongeng tentang pertumbuhan ekonomi abadi.  Teganya kalian!”, tegas Greta.

Perempuan yang pada 20 Agustus 2018 memulai aksi Skolstrejk för Klimatet (Mogok sekolah demi iklim) di luar gedung parlemen Swedia, Stockholm ini melanjutkan pidatonya dengan mata berkaca-kaca menyampaikan kekecewaannya di depan para delegasi dunia panggung PBB.

“Kalian membuat kami kecewa tapi anak-anak muda kini mulai paham pengkhianatan kalian. Seluruh perhatian generasi masa depan saat ini ada di pundak kalian dan jika kalian masih membuat kami kecewa, saya katakan: Kami tidak akan memaafkan kalian”.

Greta yang satu panggung dengan António Guterres selaku Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Anurag Roy seorang pengusaha muda dari India yang memenangkan kompetisi Saturday’s Youth Climate Summit dan enviromentalis serta koordinator sebuah Non- Government Organization (NGO) Brasil bernama Engajamundo yakni Paloma Costa ini menutup orasinya dengan mengecam tidak akan pernah memaafkan tindakan abai para pemimpin dunia.

Yahoo News

“Semua mata dari para generasi mendatang tertuju pada kalian (politikus dan pembisnis, red). Dan jika kalian memilih untuk membiarkan kami (para generasi mendatang, red). Aku katakan bahwa kami tidak akan pernah memaafkan kalian. Kami tidak akan membiarkan kalian berpaling. Di sini dan pada saat ini kamilah yang menentukan. Suka atau tidak, dunia kini tergugah dan perubahan akan datang”, tutup perempuan dari pasangan Melena Ernman dan Svante Thunberg ini.

Baca juga:  Wiranto dan Daftar Percobaan Pembunuhan Pejabat Negara Indonesia

Greta telah menjadi inspirasi bagi banyak anak muda untuk memperjuangkan isu perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia tanpa tindakan empati terhadap kondisi lingkungan saat ini. Bermula dari menonton sebuah film dokumenter terkait perubahan iklim di sekolah saat dirinya masih berusia 8 tahun, perempuan yang lahir pada 3 Januari 2003 ini tidak begitu saja melupakan gambaran-gambaran menyedihkan terkait lingkungan dan hewan yang menjadi gerbang efek krisis perubahan iklim ini.

“Saya ingat ketika di sekolah, guru kami menunjukkan film tentang plastik di laut, beruang kutub yang kelaparan dan lain-lain. Saya menangis sepanjang film. Teman-teman juga resah saat menonton film, tapi kemudian berhenti, dan memikirkan hal lain. Tapi saya tidak begitu. Gambar-gambar itu menempel di kepala saya”, ucapnya sebagaimana yang dilansir di portal media Inggris The Guardian.

Perempuan yang memiliki 7.3 juta pengikut di Instagram ini sempat divonis mengidap depresi dan berefek pada penurunan drastis berat badannya ini melakukan mogok makan dan mogok bicara kepada orangtuanya serta mendorong mereka untuk mengubah gaya pola makan menjadi vegan, tidak menggunakan pesawat terbang untuk bepergian serta membeli mobil elektrik yang hanya boleh digunakan jika ada situasi mendesak.

Sebelum menghadiri pertemuan yang betujuan untuk mendorong implementasi Perjanjian Paris 2015 saat Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa empat tahun yang lalu dalam mengatasi krisis perubahan iklim ini, terjadi aksi Climate Strike pada Jumat (20/9) yang serentak dilakukan oleh 163 negara di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang digaungkan di berbagai kota yakni Aceh, Bali, Bandung, Bengkulu, Cirebon, Cilegon, Garut, Jakarta, Kupang, Malang,  Palu, Palangka Raya, Pekanbaru, Palembang, Samosir, Semarang, Sidoarjo, Surabaya, dan Yogyakarta.

Baca juga:  Kronologi Pengesahan Kilat RUU KPK

Di Jakarta sendiri, aksi yang terinspirasi dari gagasan Greta akan Fridays For Future ini melakukan long march yang dimulai dari Taman Cut Meutia, Gondangdia hingga ke Istana Negara, Monas, Jakarta Pusat. Dengan membawa beragam macam poster terkait krisis perubahan iklim, aksi yang didominasi oleh anak muda ini, seperti yang dilansir oleh Beritagar.id memiliki tujuan yakni dorongan agar pemerintah mau mendengarkan suara para saintis terkait krisis iklim dan mengupayakan dorongan penurunan gas emisi rumah kaca semaksimal mungkin secara tegas dan konsisten.

 

Penulis : Helmy Adam

Editor : Nurma Syelin

Bagikan:
86