Diskusi umum “Membaca Tradisi Ilmu Kalam” oleh Fuad Mahbub Siraj. (Foto: Sania Silmi Kaffah)

Diskusi umum “Membaca Tradisi Ilmu Kalam” oleh Fuad Mahbub Siraj. (Foto: Sania Silmi Kaffah)

Jakarta, Parmagz – Tepatnya pada malam Sabtu (24/03) pukul 19.30, berlangsung forum diskusi di Anggon yang pada kali ini mengambil tema “Paramadina Melihat Indonesia” dengan judul Membaca Tradisi Ilmu Kalam di Indonesia yang disampaikan langsung oleh Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina yaitu Fuad Mahbub Siraj, Ph.D.

“Tujuan sederhana acara ini ialah untuk menghidupkan kembali ruang diskursus Keparamadinaan, yaitu (ke-Islaman, ke-Indonesiaan dan ke-Modernan). Dan juga sebagai ruang untuk berdiskusi yang menekankan pada sikap keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, sehingga apapun ilmu yang dikaji dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah, dan sengaja dihadirkan ke ruang publik,” papar Mariyo Suniroh.

Salah seorang pengurus Ikatan Alumni Bagian Program (Insani Madina) ini akrab disapa “Mayo”. Mayo juga merupakan pendiri salah satu UKM di Paramadina yang membimbing para mahasiswa Universitas Paramadina untuk menggali lebih dalam lagi bakatnya di bidang teater, yang ia beri nama KafHa.

Diskusi ini sengaja diadakan sebagai ajang untuk menjalin silaturahmi bagi para mahasiswa dan alumni Universitas Paramadina. Ngobrol di Anggon ini dilakukan setiap bulan sekali, dan yang ini adalah untuk ke-9 kalinya.

Dalam pembahasannya, Fuad menjelaskan bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang membahas masalah ketuhanan dan hubungannya dengan alam dan manusia. Banyak sekali tafsiran dari kata kalam ini ada yang menyebutkan kalam adalah perkataan, ucapan, pemikiran, tauhid, firman Allah dan lain sebagainya. Sejarah ilmu kalam ini lahir akibat peristiwa politik. Hal ini terjadi ketika Rasulullah wafat dan para sahabat serta kaum muslimin bingung untuk menentukan siapa yang akan meneruskan perjuangan Rasulullah sebagai pemimpin umat Islam.

Pada kekhalifahan pertama, kedua, dan ketiga terasa baik-baik saja. Namun, hal itu berubah ketika pemilihan khalifah selanjutnya. Di sinilah terjadi perbedaan faham atau pendapat yang menyebabkan asal-muasal terpecahnya kaum Muslimin. Sehingga munculah ilmu kalam yang digunakan untuk mentafsirkan ayat-ayat pada Al-Qur’an yang bersifat Mutasyabihatn (ayat yang tidak jelas dan masih dapat di tafsirkan) agar kita kembali pada pemahaman yang sama.

Baca juga:  Masih Relevankah Serikat Mahasiswa Sebagai Representasi Tertinggi ?

Ilmu dalam Islam tetap disentuh oleh tangan tangan manusia dan ia tidak stagnasi. Ilmu kalam ini perlu direkontruksi kembali, agar disiplin ilmu tidak kaku. Usaha-usaha ke arah ini perlu dilakukan secara radikal dan keberanian untuk mengembangkan kembali tentang apa yang terjadi dan apa yang dipraktikkan oleh ulama tempo dulu.

Ilmu kalam ini juga sebagai ilmu keislaman yang diharapkan dapat membumi dan sesuai dengan kondisi kekinian. Hal ini, sesuai dengan prinsip Islam sebagai ajaran rahmatan lil al-amin juga bermanfaat bagi umat.

Setelah materi selesai di sampaikan, tiba saatnya sesi tanya jawab. Para peserta diskusi sangat aktif sehingga menyebabkan moderator kewalahan untuk mengondisikan acara. Banyak orang bertanya, menanggapi, memberikan saran, kritik, maupun lelucon untuk sekadar mencairkan suasana yang kali itu terasa tegang.

Semakin malam, udara semakin dingin. Namun, Anggon membuatnya terasa hangat dengan secangkir kopi yang dibagikan dengan cuma-cuma. Pertanyaan pun bermunculan, dan salah satunya adalah yang dipaparkan oleh Johnson (HI 2015): sebenernya Tuhan itu bisa dibuktikan atau tidak?
Fuad pun menjawab dengan analogi sederhana, “Kamu percaya Tuhan itu ada atau tidak? Jika ada coba minta dia bukakan botol air mineral ini.” Peserta pun tertawa setelah mendengarkan pernyataan tersebut. Kemuadian Fuad melanjutkan, “Tuhan bisa dirasionalkan tetapi tidak bisa dibuktikan secara empiris.”

Acara pun ditutup dengan penyerehan cenderamata oleh Koordinator Umum KafHa yaitu Muhammad Afrizal. Acara ini diselenggarakan oleh Anggon, kafha, Insan Madani, dan beberapa pendukung seperti Barista Kampus, Serikat Mahasiswa, Sebatss ON Air, dan Parmagz.

Semoga acara diskursus ini dapat menumbuhkan kembali ruang tukar pikiran bagi mahasiswa dan masyarakat Paramadina tentang nilai-nilai Keparamadinaan. (ssk)

Bagikan:
391