Jakarta, Parmagz— Senin (30/9) sekitar pukul 13:30 WIB telah dilaksanakan sosialisasi mengenai dana bantuan kemahasiswaan. Rapat singkat di ruang kelas baru yakni B. 1-5 ini hanya dihadiri oleh beberapa OKUP yakni HIMA Manajemen oleh Mamun Munajat, HIMAHI oleh Melati Mauluddini, KOMIK Paramadina oleh Suryo Ramadhan, Paramasophia oleh Muhammad Arsyad, HIMTI oleh M. Rafli Andhika, Parmagz oleh Nurma Komala, Dropshot oleh Ibnu Azis, T-ta Pramadina oleh Jasmine Amalia, KAFHA oleh Defangelica, Khatulistiwa oleh Ridho, Paramadina Choir oleh Alma Namira, serta Meita Fajriani yang mewakili PSC dan HIMAPSI dan SEMA yang diwakili oleh Ketua Dewan Advokasi Rakha Rizqiawan.

Leonita K. Syarief, M.Si selaku Direktur Kemahasiswaan dan Inkubator Bisnis menjelaskan mengenai jumlah dana bantuan mahasiswa yang totalnya berawal dari RENSTRA (Rencana Strategis) Paramadina 2018.

“Ini berawal dari Renstra tahun lalu di PGS (Paramadina Graduate School) Palmerah, itu isinya dari perwakilan yayasan, rektorat, para dekanat, para direktur dan kaprodi. Yang dilakukan di Renstra tersebut evaluasi program kerja selama tahun 2018, evaluasi ini adalah pencapaian program kerja yang dilakukan oleh terutama pihak –pihak yang terkait ini,” ucap Leonita yang akrab disapa Nita.

RKA atau Rencana Kegiatan Anggaran DKI 2019 ini sendiri berupa dana bantuan kemahasiswaan (BDP, PLC, GMP, Kongres, Okup) 90 % untuk 19 OKUP, Orientasi Kemahasiswaan yakni kelas regular malam dan Sabtu, S2 atau pascasarjana sejumlah 10%, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), dan Paramadina Enterpreneur and Career Centre (PECC).

“Jadi dana bantuan kemahasiswaan setelah kita hitung-hitung ini beberapa kita keluarkan untuk dana khusus BDP, PLC, GMP, Kongres, itu dibedakan dengan dana OKUP jumlahnya adalah 90 persen dari total dana keseluruhan. Nah, Alhamdulillah dana tahun ini dana bantuan kemahasiswaan sama seperti tahun lalu. Karena jumlah OKUP nya hanya 19, 8 HIMA, SEMA, 10 UKM, karena softball berdasarkan kongres 2018, kemudian yang baru Capoeira, dan Taekwondo (telah dibekukan, red). Kemudian berdasarkan SK Yayasan DKM dikeluarkan dari pebiayaan kemahasiswaan DKI,” jelasnya.

Kemudian, Nita menjelaskan bahwa dana bantuan mahasiswa tahun 2019 ialah 9 juta rupiah.

“Jadi Alhamdulillah, kalian mendapatkan 9 juta per OKUP nya jadi tidak ada perubahan dari tahun lalu. Nah, saya harap dana ini dimaksimalkan jangan kaya tahun lalu. Tahun lalu saya sangat kecewa, karena kita sudah menyiapkan dana yang cukup besar, tetapi kalian setelah dievaluasi, kegiatannya tidak terlalu happening artinya ada beberapa yang diagendakan hampir tidak kejadian,” tegasnya.

Rapat yang dihadiri oleh Dr. Fatchiah E. Kertamuda, M.Sc selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, dan Emil Radiansyah, M.Si ini ternyata juga terdapat agenda lain yakni berupa pengumuman dari rektorat yang disampaikan oleh Fatchiah berupa mundurnya Leonita sebagai Direktur Kemahasiswaan dan Inkubator Bisnis yang digantikan oleh Emil Radiansyah.

Parmagz/Nurma Syelin

“Saya pikir jalan terbaik adalah saya harus resign dan akan menunjuk direktur baru supaya semuanya bisa kembali berjalan lancar dan kalian juga bisa mendapatkan pendamping yang lebih baik. Jadi dengan berat hati saya memohon kepada bu Fath, kepada rektorat, karena ini utuh di luar perencanaan saya. Sebetulnya saya sudah punya banyak rancangan untuk DKI, tapi apa boleh buat manusia hanya punya rencana,” ucap perempuan penyuka kucing ini.

Kemunduran Leonita di kursi Direktur ini diungkapkan dirinya karena masalah kesehatan tubuhnya yang berdampak pada terhambatnya pekerjaan Nita di DKI yang banyak berinteraksi dengan kegiatan mahasiswa.

“Dan itu (penyakit saya, red) membuat saya tidak bisa ke kampus, tidak bisa mikir. Saya mulai berpikir jangan sampai kondisi saya menghambat kalian,” ucap perempuan yang juga menjadi dosen di program studi Ilmu Komunikasi ini.

DKI yang sebelumnya bernama DPM (Direktur Pengembangan Mahasiswa) telah dijabat Leonita sejak tahun 2015 dengan masa kerja 3 tahun yang kemudian pada tahun 2018 sampai 2022 dirinya kembali lagi diangkat menjadi Direktur dengan penambahan Inkubator Bisnis dan Pusat Karir ini.

“Jadi saya mohon maaf jika dalam perjalanan kalian bersama saya ada kata-kata yang secara tidak langsung, bawel-bawel nya saya yang menyakiti hati kalian, benar-benar tidak ada personal. Semuanya demi kebaikan kalian sendiri. Saya yakin bersama pak Emil dan bu Fath, DKI bisa lebih baik dan kegiatan-kegiatan kalian akan lebih baik,” kata Nita.

Walaupun mengundurkan diri dari kursi DKI, perempuan yang menempuh studi Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran akan tetap di mengajar di prodi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina.

“Saya masih di Paramadina, tetap di program studi ilmu komunikasi, tetapi saya harus fokus dengan kesehatan saya. Jadi, mohon dibantu ya pak Emil,” ucapnya.

“Tidak ada lagi ibunya anak-anak, sekarang adanya bapaknya anak-anak.” tutup Leonita dengan agenda foto bersama.

 

Reporter: Nurma Syelin

Editor: Pikri R. Alamsyah

Bagikan:
147