Di era reformasi saat ini yang membawa semangat demokratis terhadap lembaga-lembaga yang tadinya bersifat eksklusif nan minim partisipatif menjadi lebih terbuka dan melibatkan seluruh pihak yang terdampak. Seperti pemilihan presiden yang awalnya menggunakan system parlementer dimana penentuan presiden hanya melalui perwakilan beberapa orang. Namun kini beralih fungsi menjadi pemilihan secara langsung dengan melibatkan rakyat. Dengan begitu rakyat bisa memberi kritik yang membangun terhadap kebijakan-kebijakan yang dihasilkan. Adanya system demikian, besar harapan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan melalui kebijakan yang akan dijalankan berdasarkan keinginan dan kebutuhan masyarakat.
Semangat demokratis dalam era reformasi ini yang mampu merubah sistem yang hampir mustahil itu harusnya menjadi sebuah landasan bagi system politik kampus yang mana sudah sewajarnya menganut system demokratis agar aspirasi  tiap mahasiswa mampu terakomodir dengan transparan dan akuntabel.

Namun, narasi yang dibangun oleh individu dengan kritis tidak sepenuhnya di dukung, dan tidak adanya inkubator untuk menampung gagasan itu selain di OKUP dan seringkali tidak tersampaikan. Maka dalam hal ini perlu adanya tinjauan ulang terkait system yang sedang digunakan di Paramadina.

Tinjauan ulang tersebut bertujuan supaya terpenuhinya azas keadilan dan kedaulatan bagi setiap mahasiswa Paramadina, sebagai lembaga tertinggi kampus sudah semestinya serikat mahasiswa mengutamakan kaberpihakan kepada rekan mahasiswa daripada pihak yang berkepentingan.

Perbaikan manajemen serikat mahasiswa ini juga bertujuan agar lembaga tertinggi kampus menerapkan representatif kepada semua anggota mahasiswa. Dengan terlibatnya setiap mahasiswa dalam menentukan kebijakan politik kampus, diharapkan mampu menghasilkan system yang transparan, kredibel, serta akuntabel dalam periode berlangsung. Sehingga dengan ini, tidak ada lagi otorisasi keputusan oleh DPO tanpa berdiskusi dahulu dengan anggota atau staff.

Transparansi disini sangat diperlukan sebagai tonggak peradaban politik kampus kedepan. Karena dengan transparan, memudahkan mobilisasi mahasiswa dalam mengkaji kebijakan, operasional, bahkan maklumat yang dikeluarkan. Maka upaya untuk membentuk transparansi ini dapat diawali dari system recruitment yang dianut.

Sejauh ini, pola recruitment yang terlihat yaitu lebih mengutamakan kedekatan personal dan cenderung transaksional tanpa memperhatikan kemampuan yang dimiliki agar hanya kursi-kursi dapat terisi sesuai dengan transaksi yang telah disepakati.

Seorang pemimpin atau bagian daripada lembaga tertinggi kampus tidak hanya membutuhkan retorika semata, tidak hanya memiliki kemampuan orasi yang menggebu, yang dibutuhkan hanyalah kemampuan mendengar dan menjalankan aspirasi agar mampu melibatkan mahasiswa-mahasiswi dalam setiap kebijakan di Kampus Peradaban ini, dan tidak hanya sibuk dengan perwakilan yang belum tentu mewakili setiap anggotanya. Dengan demikian, sudah saatnya pola pemilihan parlementer ini beralih ke system demokratis demi mengakomodir suara-suara mahasiswa yang selama ini tidak mampu mendapatkan tempat dalam perwakilan-perwakilan nya dalam DPO.

DPO sebagai representatif seluruh anggotanya sangat rentan disalahgunakan untuk kepentingan transaksional menjelang pemilihan Sekjen, sehingga calon calon yang akan bermunculan kemungkinan hanya akan memanfaatkan kedekatan personal atau melakukan transaksi kepentingan yang akan berdampak buruk dari sistem musyawarah itu sendiri.
Mungkin kita harus melakukan survei terhadap kebijakan para DPO, apakah diketahui oleh tiap anggotanya atau hanya bertindak sebagai pribadi yang berkepentingan untuk melakukan transaksi kepada calon-calon yang ada. Nantinya hasil survei tersebut akan menjadi ukuran bagaimana sistem parlementer ini bekerja, masih relevankah sistem yang digunakan saat ini? Atau mungkin ini saatnya untuk kita bergegas menuju sistem yang lebih demokratis yaitu pemilihan langsung(?) kemungkinan akan meningkatnya partisipasi mahasiswa dalam kegiatan politik kampus akan terbuka jika kita memilih cara yang kedua, sebab tiap mahasiswa akan mempunyai kesempatan yang sama untuk maju sebagai pemimpin di Kampus tidak lagi diwarnai dengan transaksi dibawah meja oleh para perwakilan.

Penulis : Anatasya Rahmaniar
Editor : Eep larassandi
 

Baca juga:  Angkatan DIVOC Resmi Dilantik Dalam Acara Reinkarnasi T-ta Paramadina

Authors

Bagikan:
361