Jakarta, Parmagz – Acara Jakarta Kultur 4 sampai pada agenda akbarnya dengan menampilkan pertunjukkan teater “Orkes Madun atawa Madekur & Tarkeni”, dari naskah garapan Arifin C. Noer, pada Kamis malam (04/04) di Auditorium Nurcholish Madjid. Dari serangkaian acara yang terdapat di acara Jakarta Kultur 4, pertunjukkan teater ini adalah agenda yang paling dinanti-nanti. Lakon yang disutradarai oleh Mariyo Suniroh ini, mayoritas diperankan oleh anggota keluarga baru Teater Kafha angkatan 2018, dan ada beberapa anggota lama yang juga ikut bermain dalam pementasan.

Acara dimulai pukul 19.31 WIB. Pementasan dimulai dengan lagu wajib nasional “Bangun Pemudi-Pemuda” yang dinyanyikan oleh Paramadina Choir dan diikuti oleh para pemain teater. Selepas menyanyikan lagu tersebut, barulah babak pertama dari lakon Teater Madekur dan Tarkeni dimulai. Selain lagu tadi, dinyanyikan juga lagu Tarling berjudul “Tembang Kilaras” yang sangat khas pintura sebagai pembuka.

Sekilas tentang lakon Madekur & Tarkeni, lakon ini mengisahkan kisah asmara antara pencopet bernama Madekur (Nurul Hidayat) dengan seorang pelacur bernama Tarkeni (Dian). Hubungan asmara mereka tidak direstui oleh kedua orang tua Madekur (Husein Alattas dan Farah Novda) dan juga orang tua Tarkeni (Afridho Azizi dan Dinda Dwi Prasasti). Madekur oleh kedua orang tua Tarkeni diketahui sebagai pencopet, dan oleh orang tua Madekur, Tarkeni diketahui sebagai pelacur. Hal tersebut yang membuat kisah cinta mereka tidak mendapat ijin orang tua. Meski demikian, Madekur dan Tarkeni ngotot meminta ijin, dan tetap menjalani hubungan asmara mereka, walapun sudah diancam untuk tidak lagi diakui sebagai anak.

Sampai akhirnya para orang tua menyadari bahwa selama ini soal keuangan mereka hanya bergantung ke Madekur dan Tarkeni, ditambah lagi bualan Madekur yang mengaku sudah menjadi gubernur Jakarta, dipercaya oleh orang tuanya. Atas hal itulah hubungan mereka akhirnya direstui dan dipersilahkan untuk menikah. Selepas menikah, tentulah Madekur dan Tarkeni tetap menjalankan pekerjaannya itu.

Setelah menikah Tarkeni tetap boleh melacur oleh Madekur. Tarkeni sebagai pelacur selalu laris disewa sampai 16 pelanggan perharinya. Karena itulah Madekur protes karena selalu kedapatan giliran terakhir untuk melakukan hubungan intim sebagai pasangan suami istri. Hal itu adalah salah satu konflik yang menyebabkan hubungan antara Madekur dan Tarkeni mengalami gonjang-ganjing.

Di sisi lain, kebohongan Madekur dan Tarkeni tetap masih dipercaya oleh kedua orang tua mereka. Madekur dan Tarkeni masih belum mau memberitahu kebenaran kepada kedua orang tuanya karena takut hubungan mereka akan kandas, dan mereka masih menyukai pekerjaan mereka yang sudah pasti tidak akan disetujui oleh orang tua mereka. Namun, karena rindu orang tua Madekur kepada anak dan menantunya sudah tidak bisa ditahan lagi, orang tua Madekur pun rela ke Jakarta untuk mengunjungi anaknya yang dipercaya bekerja sebagai gubernur itu.

Saat orang tua Madekur datang ke Jakarta, barulah Madekur dan Tarkeni menjelaskan kebenaran kepada orang tua Madekur, bahwa selama ini Madekur bukanlah gubernur Jakarta, melainkan masih berprofesi sebagi seorang pencopet dan pelacur. Kisah cinta mereka pun berakhir tragis, seperti dalam lakon bikinan Arifin C. Noer lainnya. Madekur yang tangannya telah lama terserempet mobil, mati bersama Tarkeni yang tidak lagi laku melacur, di antara tumpukan sampah di tengah kerasnya ibu kota.

 

Naskah Arifin dan Kontekstualitas Tema Jakarta Kultur

Mayo, sapaan Mariyo Suniroh, sebagai sutradara mengungkapkan pada Parmagz, bahwa pemilihan naskah Madekur & Tarkeni adalah karena persoalan keterkaitan dan kontekstualitas cerita dengan tema Jakarta Kultur 4, “Generasi Setengah Matang”. Dalam naskah Arifin ini, secara verbal dalam dialog juga ada keterkaitan sangat erat dengan tema, “Lakon Madekur dan Tarkeni punya relasi yang kontekstual dengan tema Jakul (Jakarta Kultur, red),” papar Mayo.

Sebelum terpilihnya naskah Madekur dan Tarkeni, ada beberapa naskah yang dibaca dan dikaji oleh tim pementasan Kafha untuk Jakarta Kultur ini. Contohnya ialah naskah Pujangga Baru yang sempat masuk ke dalam daftar naskah teater yang akan ditampilkan. Namun, setelah melalui proses yang cukup panjang, terpilihlah “Orkes Madun atawa Madekur &Tarkeni” sebagai lakon yang akan dipentaskan pada acara ini.

“Dari beberapa naskah, ternyata yang menarik dibahas (dipentaskan) adalah Madekur dan Tarkeni. Karena ada sisi Jakartanya dan juga Madekur dan Tarkeni ini adalah potret anak muda yang setengah mateng jiwanya,” ucap Mayo yang juga pendiri Angkringan Gondrong (Anggon) ini.

Dalam lakon tersebut, ada beberapa tokoh dan adegan yang tidak ditampilkan dalam pentas teater Madekur dan Tarkeni. Seperti Nabi yang harusnya ada banyak, tetapi dalam pentas hanya ada satu, dan diperankan oleh Insan Kamil. Hal ini dijelaskan sang sutradara dikarenakan menyesuaikan dengan aktor yang tersedia dan juga durasi waktu pementasan yang terbatas.

Soal kemunculan tokoh Waska (Aa Saepudin) yang tiba-tiba datang di pertengahan pentas, dan terlihat seperti dipaksakan, seakan malah membuat penonton bingung tentang sosok tokoh satu ini, Mayo menerangkan bahwa, pemotongan beberapa adegan Waska sebetulnya berkaitan pada persoalan teknis, pemotongan percakapan Waska pada naskah dikarenakan aktor Tarkeni yang baru ditetapkan 3 minggu sebelum pementasan.

Banyak sekali adegan dan dialog Waska yang melibatkan Tarkeni dan Madekur, jika adegan Waska tidak dipotong dan tetap dipaksakan, hasilnya akan tidak maksimal. Sehingga Mayo sebagai sutradara, harus mempermudah penghafalan naskah dengan menghapus beberapa bagian percakapan Waska dengan Madekur dan juga Tarkeni, “Ini teknis pemain, karena banyak kesibukan dari Aa Saepudin, kemudian Tarkeni juga baru ditemukan, dan Dayat (Nurul Hidayat, red) adalah aktor baru, jadi mau gak mau kita kurangin porsi Waska,” ungkap Mayo.

Padahal Waska, dalam naskah asli Arifin, harusnya sudah muncul sejak babak pertama. Untungnya, ketersambungan jalan cerita masih tertolong berkat tokoh Semar (Muhammad Afrizal) yang memperjelas alur cerita lewat narasi yang dituturkannya. Semar dalam lakon ini juga bertindak sebai penutur cerita.

Mayo juga mengungkapkan permasalahan waktu persiapan yang singkat menjadi alasan terkait pemotongan adegan dalam produksi teater. Persiapan yang relatif terlalu cepat membuat beberapa porsi naskah dipangkas untuk kelancaran pentas. Akan tetapi, Mayo berkata jika saja waktu persiapan agak panjang, dia yakin semua bagian naskah bisa ditampilkan secara maksimal oleh tim teater Jakarta Kultur, “Kalo seandainya produksinya agak dipanjangin misalnya akhir April, aku yakin dengan kematangan pemain semua bisa tercover,” tutur Mayo.

 

Kritik untuk Para Orang Tua

Pementasan Madekur & Tarkeni selain bercerita tentang jiwa anak muda yang masih labil dan setengah matang, serta tentang hasrat anak muda yang tidak mampu untuk direalisasikan, pada sisi lain juga menampilkan kritik terhadap cara berpikir orang tua yang kolot. Dalam beberapa adegan digambarkan dengan baik bahwa orang tua Madekur maupun Tarkeni, tidak memberi ruang untuk anaknya berkembang, karena mereka sudah terkungkung dalam tradisi yang sudah mewatak.

Pentas ini dapat dikatakan sebagai bentuk kritikan terhadap pemikiran orang tua yang terlalu mengekang anaknya dan tidak memberikan kebebasan untuk menentukan pilihan, dalam konteks Madekur dan Tarkeni adalah soal percintaan.

Saat lakon tersebut ditampilkan, ada beberapa dialog yang diubah dari naskah aslinya sebagai bentuk penyesuaian dengan konteks sekarang. Penyesuaian yang dilakukan tersebut, menambah kuat pesan yang ingin disampaikan. Misalnya adalah saat dialog Madekur dengan ayahnya, karena orang tuanya tidak memberikan restu kepadanya untuk menikah dengan Tarkeni.

Dalam dialog verbal ini, sangat kentara sekali kritik yang disuarakan oleh lakon Madekur terhadap kekolotan pemikiran orang-orang tua yang ingin mengatur dan mendominasi sepenuhnya kehidupan anak-anaknya. Yang meski pada akhirnya orang tua Madekur dan Tarkeni mengalah dan memberinya ijin untuk menikah hanya karena mereka bergantung soal finansial pada anak-anaknya, dan karena bualan Madekur yang mengaku sudah jadi gubernur Jakarta.

“Ketika di negara-negara lain orang sudah sedemikian sibuk dengan revolusi digital 4.0, artificial intelligence, orang tua kita masih belum selesai dengan sarapannya, dan yang sebagian lagi sibuk merenungkan hikmah hidup tanpa sarapan,” papar Madekur pada sebuah adegan.

Semakin terang dijelaskan Mayo bahwa, untuk menyesuaikan naskah teater dengan perkembangan jaman, dan agar pesannya tersampaikan, perubahan dialog dari naskah aslinya adalah hal yang sudah biasa terjadi karena untuk menyampaikan isi pesan naskah ini adalah dengan cara menyesuaikan beberapa dialog-dialog yang kiranya bagus untuk disesuaikan dengan perkembangan jaman, “Gap (waktu, red) antara naskah (dibuat, red) dan pementasan teater kan sangat jauh, jadi kita menyesuaikan supaya penonton kedapetan pesan yang akan disampaikan di teater,” pungkas Mayo.

 

Dari Botol Pecah Hingga Pelipis Berdarah

Dalam pementasan Madekur & Tarkeni, terdapat beberapa kecelakaan kecil, seperti beberapa botol minuman di warung ibu-ibu (Putri Oktariana) dekat tempat pelacuran yang terjatuh hingga pecah. Dan saat adegan Satpol PP mengejar Madekur, salah satu Satpol PP (Ruly Choirul) menabrak properti hingga pelipisnya berdarah, alhasil saat pementasan, Ruly lebih berfokus memegangi pelipisnya.

Perihal tersebut dikatakan Mayo adalah kesalahan teknis yang sudah lumrah terjadi dalam pementasan teater dan seni pertunjukkan, “Botol pecah, kepala kejedot, itu teknis, tapi itu bisa menjadi dramatis jika ditafsirkan oleh orang,” papar Mayo. Memang, saat botol-botol minuman tidak sengaja tersenggol, jatuh dan pecah, kesan dramatis dan totalitas pementasan tercipta.

Mayo juga menjelaskan bahwa pemain dalam hal seperti itu harus bisa menyesuaikan diri karena permasalahan teknis terjadi. Tapi untungnya pemain pentas teater Madekur & Tarkeni dengan cekatan dapat menyesuaikan dan menangani kecelakaan yang terjadi saat pementasan. Sehingga pertunjukan dapat tetap dilanjutkan tanpa terinterupsi. Pertunjukan ini ditutup dengan banjir tepuk tangan oleh para penonton yang bukan hanya terdiri dari kalangan mahasiswa, tapi banyak juga para orang tua pemain teater yang sengaja hadir memenuhi aula. (pik/mfa)

 

Penulis: Pikri R. Alamsyah

Editor: M Farobi Afandi

Bagikan:
156