Jakarta, Parmagz – Senin (1/4), Jakarta Kultur 4 secara resmi dibuka di Universitas Paramadina. Acara ini diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Kafha. Jakarta Kultur adalah sebuah acara tahunan yang dibuat sebagai bentuk fase terakhir kaderisasi angkatan baru Kafha. Jakarta Kultur 4 ini bertajuk “’Generasi Setengah Matang”.

Salah satu panitia Jakarta Kultur, Anugerah Akbar Muhammad, menjelaskan bahwa tema Generasi Setengah Matang sendiri memiliki makna tentang kencenderungan generasi muda terhadap hiburan, liburan, fashion, kuliner, serta ketergantungan mereka terhadap sosial media. Hal itulah yang membuat diri pemuda menjadi hanya “Setengah Matang”, karena kritisisme mereka tergerus dan hanya terhenti di media sosial saja.

Jakarta Kultur 4 ini memiliki beberapa agenda acara yang akan dilaksanakan selama 4 hari, dari tanggal 1-3 dan 5 April 2019. Di hari pertama, sebagai pembuka ada Parade Kebudayaan. Dilanjutkan dengan agenda Diskusi Kepemudaan yang diisi oleh Chief Executive Officer (CEO) Asumsi.co Pangeran Siahaan, Cania Citta Irlanie selaku Head of Content Geolive.id, dan Benni Yusriza sebagai perwakilan dari Dewan Keluarga Besar Kafha (DKB Kafha).

Pada hari kedua akan ada Lomba Cipta Puisi Spontan dan Tadarus Sajak. Sedangkan untuk di hari ketiga pada tanggal 4 April 2019 akan ada pertunjukkan Teater Orkes Madun atawa Madekur dan Tarkeni. Dan penutupan akan ada acara musik yang menampilkan beberapa pemusik lokal yang di antaranya adalah Mahasiswa Universitas Paramadina.

 

Dibuka dengan Parade Kebudayaan

Parade kebudayaan membuka acara Jakarta Kultur 4. Agenda parade ini berisikan arak-arakan yang dilakukan para anggota Kafha mengelilingi Universitas Paramadina dengan baju adat Betawi dan lengkap ditemani alat musik tradisional seperti Rebana. Para panitia berjalan mengitari kampus Universitas Paramadina dengan ramai sembari menyanyikan lagu-lagu adat dengan meriah. Parade kebudayaan ini dimulai dari Angkringan Gondrong (Anggon) Paramadina, dan berakhir di selasar Aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina.

Sebelum memasuki selasar, para anggota dari Kafha melakukan drama kebudayaan ‘Palang Pintu’. Palang pintu merupakan tradisi budaya Betawi yang mempunyai arti membuka penghalang, yang diwakili oleh seseorang, agar dapat memasuki sebuah daerah. Aksi kebudayaan ini dilakukan Kafha yang diperankan oleh Duo Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) angkatan 2018, yaitu Ruly Choirul dan Naufal Ardy. Palang pintu dilakukan  sebagai simbol penyambutan angkatan baru Kafha, dan juga sebagai simbol pembukaan acara Jakarta Kultur 4.

Setelah parade kebudayaan, dilakukan penyambutan yang diadakan di selasar. Penyambutan ini dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran yang dibacakan oleh Pikri Ramadan Alamsyah, Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) angkatan 2018. Pikri membaca surah al-Furqan ayat 61-65. Setelah pembacaan ayat suci Alquran, dilanjutkan oleh pembacaan puisi oleh Nurul Hidayat, Mahasiswa jurusan Falsafah dan Agama (FA) angkatan 2018, Hidayat membawakan puisi karya Peri Sandi Huizche berjudul Mata Luka Sengkon Karta.

Baca juga:  133 Sarjana dan 34 Magister Lulus di Wisuda ke-31

Selepas beberapa agenda penyambutan, sampailah di pembukaan acara yang dimulai dengan sambutan dari Ketua Pelaksana Jakarta Kultur 4, Naufal Ardy, Acil (Sapaan akrab Naufal Ardy) mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia, dan pihak lain yang membantu mensukseskan acara Jakarta Kultur ini, “Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada panitia, dan pihak lain yang turut membantu acara ini dapat dilaksanakan,” ucap Acil dalam sambutannya.

Sambutan pun dilanjutkan oleh Koordinator Umum (Korum) Kafha 2019, Defa Angelica. Mahasiswa HI angkatan 2016 ini mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada panitia yang mayoritas angkatan 2018 yang telah berhasil memulai acara Jakarta Kultur 4 ini. Dengan bangga Defa menyampaikan ucapan selamat dan terima kasihnya kepada panitia, “Terima kasih kepada Panitia atas kerja kerasnya selama ini, selamat berproses,” tutur Defa.

Penyambutan juga dilakukan oleh Leonita K. Syarief M.Si, selaku perwakilan dari Direktur Kemahasiswaan Inkubator dan Bisnis (DKI). Leonita mengharapkan dengan adanya Jakarta Kultur ini, hubungan antara anggota Kafha semakin erat, terutama anggota baru yang baru masuk tahun ini. Ia juga menambahkan, dikarenakan puncak dari acara ini akan didatangi oleh banyak pihak dari luar, ia berharap kita semua bisa menjaga kebersihan dan ketentraman kampus, “Saya ucapkan selamat kepada Kafha dan panitia, saya hanya pesankan satu hal, karena nanti banyak orang yang datang dari luar, tolong dijaga kampusnya,” pinta Leonita kepada panitia.

Pembukaan acara ini dilanjutkan dengan penyambutan oleh Rais, selaku perwakilan dari Dewan Keluarga Besar Kafha, dan diakhiri dengan sambutan oleh Dr. Fachtia Kertamuda M.Sc, sebagai perwakilan dari pihak Rektorat Kampus. Selepas sambutan terakhir, acara ini secara resmi dibuka dengan pukulan gong 3 kali yang dilakukan oleh Bu Fat, sapaan akrab Fachtia, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan.

 

Diskusi Kepemudaan dan Nobar Istirahatlah Kata-kata

Setelah Parade Kebudayaan pada pagi hari, siang harinya diisi dengan agenda seminar yang mengusung tema Diskusi Kepemudaan: Keteladanan, Pemuda dan Kritisisme, yang menghadirkan Benni Yusriza, Pangeran Siahaan, dan Cania Citta Irlanie sebagai narasumbernya. Acara ini diselenggarakan di Aula Nuecholish Madjid pada pukul 15:00 WIB.

Diskusi ini menjadi lebih menarik karena banyak membahas konteks dan realita politik sekarang ini. Pangeran Siahaan selaku pendiri sekaligus CEO portal berita Asumsi.co bercerita bahwa, dengan sosial media, perkembangan teknologi memberikan kebebasan berekspresi pada setiap individu. Dengan adanya perkembangan teknologi pun generasi muda jadi semakin dimudahkan dalam mengakses segala hal terutama informasi.

Tapi sayangnya, dengan kemudahan tersebut cukup banyak orang-orang yang mudah percaya dengan hoaks dan justru cenderung malas untuk memverifikasi informasi. Seperti yang dia paparkan berdasarkan survei CSIS (Centre for Strategic and International Studies) pada tahun 2017 bahwa 77% milenial mendapatkan informasi melalui TV dan cenderung satu arah sehingga millenial banyak yang percaya dengan berita hoaks dan fake news. Di sinilah peran sikap kritis yang seharusnya ditanamkan dan dibangun oleh setiap lintas generasi di Indonesia.

Baca juga:  Rektorat Umumkan DKI Baru di Rapat Sosialisasi Dana Bantuan Kemahasiswaan

Selain Pangeran Siahaan, ada pembicara yang merupakan lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina yaitu Benni Yusriza. Benni mengeluhkan bahwa fungsi dari perkuliahan umum yang tidak membawa keuntungan pragmatis dalam segi pengalaman di dunia pekerjaan yang membuat generasi milenial tidak mampu untuk menentukan pilihan hidup setelah lulus kuliah, “Pemuda dituntut mencari kerja secara kolaboratif,” tukas Benni.

Kemudian dalam penyampaian informasi di dunia serba canggih ini, Benni mengemukakan kekecewaannya terhadap generasi setengah matang yang maunya hanya mendapat jawaban konkret tanpa mau mengetahui akal permasalahannya sehingga akal logika diabaikan untuk mencerna informasi sehingga keakuratan nya terlewat begitu saja. Yang menarik, Benni juga menyoroti bahwa, generasi setengah matang ini dalam prespektif Marxis, mereka terancam menjadi kelas yang memiliki tingkat kerentanan yang tinggi.

Cania sendiri berpendapat bahwa generasi milenial ini banyak yang apatis terhadap politik dan cenderung membuat gerakan tanpa action plan yang matang sehingga banyak gerakan yang tidak banyak manfaatnya. Generasi milenial juga banyak yang hanya mengikuti pikiran generasi tua, tanpa adanya kekritisan dalam berdemokrasi.

Pada malam harinya sekira pukul 18.30 WIB, selasar aula dan Taman Peradaban disulap oleh panitia Jakarta Kultur menjadi arena layar tancap. Meski sempat mendung dan gerimis pada sore hari, namun ketika acara nonton bareng (nobar) cuaca lumayan terang. Film yang diputar adalah sebuah biopik dari kehidupan seorang penyair yang dihilangkan oleh rejim Orde Baru, Wiji Thukul, berjudul ”Istirahatlah Kata-Kata”.

Film garapan Yosep Anggi Noen ini lumayan ramai ditonton oleh belasan mahasiswa. Panitia menyajikan jajan dan minuman berupa teh dan kopi gratis yang bisa dinikmati para peserta nobar. Para peserta terlihat antusias menonton film yang bercerita tentang sepenggal kesunyian hidup Wiji ketika menjadi buronan politik Orde Baru ini. Dari awal hingga akhir cerita, yang ditunjukkan oleh film ini adalah Wiji sebagai manusia biasa, sebagai suami, dan sebagai bapak bagi dua anaknya. Tekanan mental yang disajikan di film ini, seperti menjadi buronan, amat apik ditayangkan. Lalu rasa takut akan kejaran tentara, intel dan antek Orde Baru lainnya, mewarnai kesunyian film ini.

 

Reporter: Daffa Kresnanda dan Bary Rayhan

Editor: Pikri R. Alamsyah dan Nurma Syelin Komala

Bagikan:
114