Jakarta, Parmagz—Selasa (10/9) rangkaian kegiatan Grha Mahardika Paramadina (GMP) 2019 di hari kedua menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan Mimbar Kebebasan di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina. Mimbar kebebasan yang diarahkan oleh salah satu dosen di prodi ilmu komunikasi, yakni AG. Eka Wenats Wuryanta dan mantan ketua Sekretaris Jenderal SEMA terpilih periode 2014/2015 Ade Irawan ini berlangsung sengit antara kelompok-kelompok yang dibagi ke dalam berbagai kategori isu pembahasan.

Fahrik Fahreza, selaku ketua pelaksana GMP 2019 memaparkan bahwa sesi FGD dan mimbar kebebasan ini merupakan ruang para mahasiswa baru untuk dapat memberikan kontribusi pendapatnya serta berani untuk mengutarakannya di hadapan forum.

“FGD ini kan dalam skala kecil, sehingga dia (peserta GMP) bakal lebih pede untuk mengutarakan pendapatnya. Jadi, kita latih mulai dari forum kecil sampai forum besar (mimbar kebebasan) seangkatannya mereka”, tutur Fahrik saat di wawancarai Parmagz (10/9).

Dalam sesi FGD ini, para peserta GMP 2019 dibagi ke dalam tiga grup pembahasan, di antaranya grup pembahasan: HAM, lingkungan, dan toleransi. Mereka di mobilisasi ke dalam kelas-kelas yang sudah diisi oleh setiap pemateri kategori pembahasan isu yang telah dirancang oleh panitia GMP 2019 melalui hasil research terkait kasus-kasus yang marak diperbincangkan di Indonesia, khususnya dalam konteks sosial-politik.

“Kami sudah me-research bahwa di Indonesia ini sedang marak-maraknya terjadi—khusus pada tahun ini, kami sudah mengkaji secara mendalam melalui modul dan data empiris—kasus-kasus yang sangat diperbincangkan dan sangat darurat menurut saya dan teman-teman panitia di Indonesia ini”, ujar Fahrik.

Setelah para peserta GMP 2019 mendapatkan materi FGD, barulah mereka terjun kedalam sesi mimbar kebebasan. Ade Irawan sebagai moderator mimbar kebebasan memberikan waktu 7 menit pada setiap perwakilan kelompok untuk memberikan opening statement yang menggambarkan keresahan mereka pada isu yang dipilih.

Baca juga:  133 Sarjana dan 34 Magister Lulus di Wisuda ke-31

Mimbar kebebasan ini berlangsung panas ketika setiap kelompok diberikan waktu untuk bertanya dan mengkritisi argumen setiap kelompok oposisi.

Setelah sesi mimbar kebebasan usai, Ade Irawan mengajak peserta GMP 2019 untuk menyuarakan Sumpah Mahasiswa Indonesia. Sambil mengepalkan tangan kiri, Ade memimpin pembacaan narasi yang diikuti peserta GMP 2019 dengan lantang.

“Sumpah mahasiswa Indonesia. Kami mahasiswa Indonesia bersumpah: bertanah air satu tanah air tanpa penindasan. Kami mahasiswa Indonesia bersumpah: berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan. Kami mahasiswa Indonesia bersumpah: berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan. Hidup mahasiswa, Hidup mahasiswa, Hidup mahasiswa”.

Sesi FGD dan mimbar kebebasan ini tak upaya ialah sebuah konsep pembelajaran andragogi yang dirancang oleh panitia GMP 2019, yakni sebuah konsep pembelajaran untuk orang dewasa, yangmana mereka dilibatkan langsung untuk ikut dalam proses pengalaman belajar.

Mimbar kebebasan menjadi pengalaman yang membekas bagi para mahasiswa baru di GMP 2019 ini, seperti yang di ungkapkan oleh salah satu mahasiswa baru prodi manajemen 2019 Firdha Amalia.

“Mimbar kebebasan bikin senam jantung alias deg-deg an, harus cari tau mana yang benar dan mana yang terbaik apalagi ada kasus yang gantung gitu pas dijelasin akhirnya jadi salah paham dan jadi memanas gitu. Tapi aku seneng banget kegiatan GMP hari kedua ga ngerti lagi,” ungkap Firdha.

 

Reporter: M. Nurholif Amin

Editor: Nurma Syelin

 

Bagikan:
126