Jakarta, Parmagz—Senin (9/9) telah dilaksanakan pembukaan dan hari pertama Graha Mahardika Paramadina (GMP) 2019 di Universitas Paramadina. Pembukaan GMP 2019 dibuka dengan pemotongan pita merah sebagai simbolisasi dibukanya GMP 2019 oleh Salman Ibnu Fuad, Sekertaris Jendral (Sekjen) Serikat Mahasiswa (SEMA) di lapangan basket Universitas Paramadina.

Setelahnya, para peserta GMP 2019 dimobilisasi ke dalam aula Nurcholish Madjid dengan iringan lagu mars kampus dan para civitas akademika yang menyambut para manusia baru ini untuk dapat mengikuti rangkaian acara GMP 2019 selanjutnya.

Mengusung tema “Menjulang Semangat Insan Madani” dengan jargon “Sinergi Abdi Gelora Madani”, Fahrik Fahreza selaku ketua pelaksana acara mengutarakan keinginannya agar para mahasiswa baru yang mengalami transisi dari siswa ke mahasiswa, yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia ini, menjadikan Universitas Paramadina sebagai rumah untuk berproses, agar dapat menjadi “insan madani” yang mempunyai nilai-nilai inklusif serta memiliki semangat rasional.

“Dari tema ‘Menjulang Semangat Insan Madani’ ini gua mau menyatukan seluruh siswa manusia-manusia baru di Universitas Paramadina yang ada dari penjuru Indonesia itu bersatu. Menjulang itu kaya menyatukan lalu dihempaskan keatas. Itu artinya kita mengumpulkan manusia-manusia baru yang berproses untuk mencapai cita-cita mereka setinggi langit. Mahasiswa gak luput dari arti kata semangat dalam inklusif, berpikiran terbuka dan masyarakat madani yang menerima keterbukaan dengan rasional dan menjadi pribadi insan madani,” ungkap Fahrik dalam wawancara bersama Parmagz (7/9).

Saat memberikan sambutan pada GMP 2019 hari pertama ini, Fahrik mengutarakan GMP sebagai sebuah kaderisasi jenjang pertama sekaligus masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus peserta nantinya dapat memberikan kontribusi positif kepada kampus yang didirikan pada tahun 1998 ini.

Baca juga:  Deklarasi Universitas Paramadina Mendukung KPK

“Saya sebagai ketua pelaksana berharap semoga bahwa teman-teman dapat menjadi dan mampu berkontribusi positif terhadap kampus ini dimulai dari GMP 2019 ini,” tutur mahasiswa jurusan Psikologi 2017 ini.

Tidak hanya itu Salman juga memberikan sambutan dan juga arahan kepada para peserta tentang bagaimana mahasiswa masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Ia menyinggung dan mengatakan bahwa mahasiswa hari ini sedang berada dalam fase ketidakpedulian terhadap lingkungan.

“Mari kita melihat dan membaca gerakan mahasiswa pada tahun 1966-1998. Menariknya ada satu kesamaan di antara masing-masing gerakan itu, yaitu kita mahasiswa sebagai motor pergerakan, pembaharuan, keadilan dan keberpihakan kepada rakyat. Mari kita melihat dan membaca konteks mahasiswa pada masa sekarang. Kita sedang dalam fase tidak peduli terhadap lingkungan,” kata Salman dalam orasinya.

“Mahasiswa sekarang lebih ke arah kuliah-pulang-kuliah-pulang. Dan itu sangat merugikan bagi bangsa dan negara,” lanjutnya.

Salman juga memberikan harapan kepada pada peserta GMP 2019 dengan mengambil makna  kutipan lagu Mars Paramadina.

“Lingkungan kampus pusat budaya. Mekarkan potensi kreatif. Suburkan tradisi intelektual. Muliakan kebebasan ilmiah. Reguklah Kitab dan Hikmah. Semoga lirik ini tidak hanya asik didengar,” tutup Salman.

 

Reporter : M. Nurholif Amin

Editor : Nurma Syelin

Bagikan:
102