Jakarta, Parmagz – Senin pagi (22/04) sekitar pukul 10.00 WIB, Serikat Mahasiswa (SEMA) Universitas Paramadina menggelar audiensi dengan pihak Rektorat terkait penyebutan nama Rektor Paramadina, Prof. Firmanzah, Ph.D, oleh Prabowo Subianto dalam pidato kebangsaan yang digelar di Surabaya Jumat lalu (12/04). Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Prabowo menyebut Fiz (sapaan akrab Firmanzah) sebagai salah satu akademisi yang akan membantunya dalam menjalankan pemerintahan, andai ia berhasil memenangkan kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 ini.

SEMA melaksanakan audiensi untuk meminta klarifikasi Fiz terkait hal tersebut, untuk memastikan kampus tetap netral dalam arena pertarungan Pilpres 2019. Perwakilan SEMA dalam audiensi ini adalah Salman Ibnu Fuad (Manajemen 2016), sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) SEMA, serta salah satu Dewan Advokasi SEMA yaitu Rakha Rizqiawan (Mahasiswa Hubungan Internasional 2017). Sedangkan dari pihak Rektorat, diwakili oleh Rektor Paramadina, Prof. Firmanzah Ph.D sendiri, dan Leonita K. Syarief, M.Si selaku Direktur Kemahasiswaan dan Inkubator Bisnis (DKI). Audiensi ini dilakukan di Ruang Andalusia, Universitas Paramadina.

Setelah agenda dimulai, Fiz langsung mengawali audiensi dengan memberikan klarifikasi terkait penyebutan namanya oleh Prabowo Subianto. Fiz menjelaskan dalam audiensi bahwa dirinya tidak hanya disebut oleh Pasangan Calon (paslon) 02 saja, tetapi dari paslon 01 juga menyebut namanya. Saat ditanya apakah Fiz mendukung paslon 02, Fiz menjawab dirinya memang membantu paslon 02, tetapi, dirinya juga ikut membantu paslon 01 untuk memberikan masukan.

“Apakah saya membantu 02? Iya untuk memberi masukan, tapi saya juga memberi masukan untuk 01, jadi saya diminta bantu oleh kedua belah pihak. Kalo saya ngawur-ngawuran (mendukung paslon 02), gak mungkin kan pak Moeldoko (Kepala Staf Presiden) datang ke Paramadina,” papar Fiz.

Fiz juga mengatakan bahwa jika ada civitas Paramadina yang mendukung salah satu paslon secara personal, itu tidak masalah, karena masing-masing orang mempunyai hak politik yang dilindungi konstitusi. Yang tidak boleh menurut Fiz ialah melakukan kampanye secara terbuka di lingkungan kampus, seperti bagi-bagi kaos atau brosur nama paslon.

Terkait dengan membantu kedua paslon, mantan Dekan Fakultas Ekonomi UI (FE UI) ini mengaku sebelum memberikan masukan kepada kedua paslon, dirinya selalu berdiskusi dulu dengan Ketua Yayasan Paramadina, Jusuf Kalla (JK). Fiz mengatakan bahwa JK mengizinkan dirinya untuk membantu kedua paslon secara personal, karena menurut JK, Fiz sebagai akademisi harus memberikan masukan untuk kedua paslon.

“Saya pun ketika membantu, beberapa kali diundang diskusi di 01 atau 02, saya komunikasi kepada Pak JK, ya kata Pak JK itu harus dibantu secara personal, jadi kalo ada yang minta untuk diberikan masukan, sebagai akademisi ya beri masukan yang baik jangan ngawur-ngawuran,” tutur Fiz.

Walaupun Fiz diperbolehkan JK sebagai ketua Yayasan Paramadina untuk membantu kedua paslon, JK selalu mengingatkan Fiz untuk tidak memobilisasi atau mempengaruhi dosen ataupun mahasiswa di dalam kampus untuk mendukung salah satu paslon tertentu, “Yang penting jangan memobilisasi mahasiswa, dosen, atau apapun untuk mendukung (salah satu paslon),” lanjut Fiz dalam audiensi.

Dalam hal ini, pihak SEMA mengatakan bahwa memang di dalam kampus tidak ada kampanye secara terbuka dan lingkungan kampus tetap steril. Tetapi, yang SEMA takutkan adalah keresahan mahasiswa terkait nama kampus yang akan dikatakan berpihak kepada salah satu paslon, terkait penyebutan nama Rektor Paramadina oleh paslon 02. Menjawab hal tersebut, Fiz menjelaskan bahwa nama kampus tetap baik-baik saja, yang terpenting menurut Fiz ialah, kampus tidak dijadikan tempat kampanye, dan harus steril dari atribut partai ataupun paslon tertentu, “Yang penting di dalam kampus itu tidak ada atribut-atribut, silahkan siapa pun pro ke si A atau si B gapapa. Yang penting kampus tetap harus steril dan dijaga,” tegas Fiz.

Lalu ketika ditanyakan tentang penyebutan namanya oleh Prabowo yang disertai dengan jabatannya sebagai Rektor Paramadina, Fiz berterus terang bahwa Prabowo tidak sengaja untuk menyebut institusi Fiz dalam pemanggilan tersebut. Fiz mengaku bahwa dirinya tidak ingin disebut dengan embel-embel jabatan Rektornya dan hanya ingin disebut secara personal saja. “Itu pak Prabowo keceplosan, saya juga gak mau nama saya disebut ada embel-embelnya (Rektor Paramadina). Kalo dilihat di rilis resminya itu nama doang, tidak ada nama institusinya. Jadi ya itu keceplosan,” jelas Fiz.

Ketika ditanyakan terkait netralitasnya sebagai Rektor, Fiz menjelaskan bahwa dirinya berhubungan baik dengan kedua belah pihak yang sedang berkontestasi dalam Pilpres. Dirinya pun mengaku masih berdiskusi dengan Tim Sukses (Timses) kedua paslon. “Saya dekat dengan TKN (Tim Kampanye Nasional) maupun BPN (Badan Pemenangan Nasional), saya banyak bantu 01 ataupun 02. Saya dekat dengan kedua belah pihak, kalo kata mereka saya partisan yang ngawur-ngawuran ya mereka gak bakal datang. Saya juga sering ngobrol sama teman-teman Gerindra, dan PDIP, jadi tenang saja,” papar Fiz.

Fiz melanjutkan, jika dirinya dikatakan tidak netral, mengapa ia diundang lembaga publik untuk menjadi panelis debat di salah satu acara televisi nasional, “Jadi kalo saya gak netral ya gak mungkin lembaga publik undang saya jadi panelis debat,” tegas Fiz.

Terkait menjaga independensi kampus, Fiz menjelaskan salah satu hal yang dilakukannya untuk menjaga netralitas Paramadina dalam menyambut Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, ialah telah memblok diskusi-diskusi yang pembicaranya adalah politisi yang belum punya jabatan publik, karena dikhawatirkan akan adanya kampanye yang dilakukan dalam diskusi itu. “Jimly (Salah satu Calon DPD) itu mau kuliah umum di kampus ya kita blok, dulu Hary Tanoe juga minta kuliah di kampus juga tapi kita blok, karena posisinya sebagai Ketum (Ketua Umum) Partai Perindo, kecuali kalo dia punya jabatan publik misalnya seperti Moeldoko, dia itu walaupun Wakil Ketua TKN, tapi ke sini sebagai Kepala Staf Kepresidenan,” jelas Fiz.

Di akhir audiensi, Fiz mengingatkan untuk memberi tahu kepada civitas akademica Paramadina bahwa kampus tetap terjaga independensinya, dan tetap netral dalam menyambut Pemilu 2019, walau banyak dosen, dan alumni yang terlibat dalam pemilu. “Sampaikan ke teman-teman, bahwa kampus tetap terjaga kok, dan kita bisa melihat gak ada kegiatan kampanye di dalam kampus sampai sejauh ini. Pilkada DKI udah kita lalui, Pilpres dan Pileg kita lalui, ada dosen-dosen yang terlibat dalam Pileg tetapi semuanya oke kan? Alumni juga gak macam-macam gak mobilisasi mahasiswa untuk nyoblos siapa pun, jadi kampus tetap terjaga,” tutup Fiz dalam audiensi. (pik/mfa)

 

Reporter: Pikri R. Alamsyah

Editor: M Farobi Afandi

Bagikan:
336