Ngaso Bareng merupakan rangkaian acara Jakarta Kultur II pada hari Senin (8/5). (Foto: M. Farobi)

Ngaso Bareng merupakan rangkaian acara Jakarta Kultur II pada hari Senin (8/5). (Foto: M. Farobi)

Jakarta, Parmagz – Senin (8/5) Taman Peradaban kampus Universitas Paramadina ramai dengan gemuruh suara anak-anak usia sekolah dasar. Mereka bersuka cita menyimak dan merespon banyolan dari sepasang pemandu acara. Anak-anak ini berasal dari Sekolah Master Indonesia, sebuah lembaga pendidikan non-formal yang menampung dan mengajari anak-anak jalanan di daerah Depok dengan sukarela. Gemuruh suara tawa anak-anak ini jadi tanda, acara Jakarta Kultur II yang diselenggarakan oleh OKUP Kafha Paramadina telah resmi dibuka. Acara ini terbuka untuk umum dan bebas biaya.

Jakarta Kultur II adalah lanjutan dari acara Jakarta Kultur I yang telah ditunaikan setahun lalu dengan tema “Jakarte Punye Siape?”. Pada edisi kali ini, tema yang diangkat adalah “Kelopak Kota di Mata Akar Jakarta”. Menurut ketua panitia acara ini, Salman Ibnu Fuad, kelopak bisa diartikan sebagai fenomena dan peristiwa yang terjadi di Jakarta, kelopak ini banyak yang melanggar nilai-nilai kebudayaan dan kemanusiaan. Sedang akar di sini, diartikan sebagai masyarakat Jakarta, kelopak tidak akan tumbuh dengan baik dan indah jika akarnya kekurangan kesejahteraan dan mengalami ketidakadilan.

Setelah tema Jakarta Kultur I telah terjawab, bahwa Jakarta adalah milik warganya, pada edisi kedua ini kawan-kawan Kafha Paramadina ingin mengajak warga Jakarta untuk mempercantik kembali kelopaknya dan memperjuangkan hak-haknya yang telah dirampas oleh pihak-pihak tertentu. Tidak hanya itu, warga Jakarta juga diajak untuk kembali peduli terhadap sesama.

Dari serangkaian acara yang akan berlangsung selama tiga hari ini, Ngaso Bareng bersama anak-anak sekolah Master Indonesia Depok adalah yang pertama. Salman menambahkan, Ngaso Bareng ini bertujuan untuk menjadi sarana memandang lebih dekat salah satu fenomena yang mengemuka di Jakarta dan sekitarnya yang tidak lain adalah soal anak jalanan. Dan dengan berinteraksi bersama anak-anak ini, diharapkan bisa menjadi sarana untuk memahami secara langsung karakteristik persoalan-persoalan yang mengemuka di Jakarta dan sekitarnya.

Baca juga:  Dari Parade Budaya hingga Nonton Bersama

Meski pengunjung acara ini tidak terlalu ramai dan langit sore begitu mendung, acara tetap berjalan dengan riang gembira. Setelah dibuka oleh aksi pentas seni dari panitia dan berbagai sambutan telah dikemukakan, selanjutnya giliran anak-anak Sekolah Master unjuk gigi. Jasmin, ditemani dua orang temannya, dengan berani maju membacakan puisi karyanya yang bertema persahabatan dan kasih sayang.

Setelah rangkaian acara pembukaan usai, anak-anak dibimbing oleh panitia untuk melaksanakan salat maghrib berjamaah di surau kampus. Ngaso Bareng ditutup dengan makan bersama susai maghrib dan tidak ketinggalan berfoto di selasar aula.

Salah seorang mahasiswa sedang membacakan puisinya. (Foto: M. Farobi)

Salah seorang mahasiswa sedang membacakan puisinya. (Foto: M. Farobi)

Tidak selang beberapa lama, gemerlap lampu kerlap-kerlip serta dekorasi yang artsy, mengubah selasar aula Nurcholish Madjid menjadi panggung yang syadhu. Langit malam cerah menyambut malam puisi yang merupakan acara kedua, tepat pukul 20.01 WIB sesi malam puisi dimulai.

Pemandu acara mengarahkan peserta dan tamu undangan yang ingin membacakan puisinya untuk mencatat namanya di meja penerima tamu, dan memilih puisi yang sudah disediakan oleh panitia, jika tidak, para peserta juga diperkenankan untuk membacakan puisi karya sendiri. Puisi-puisi yang disediakan oleh panitia bertemakan Jakarta dengan segala persoalan dan fenomena yang berkaitan dengannya.

Dengan denting gitar merdu dan suara apa adanya Afridho dari panitia membuka malam puisi dengan lantunan musikalisasi sajak penyair Joko Pinurbo, berjudul Aku Tidur di Remang Tubuhmu (2014). Kemudian dilanjut dengan pembacaan puisi dari para peserta dan tamu undangan dari berbagai komunitas teater seperti Teater Gerimis, Teater Sahid dan berbagai komunitas teater lainnya.

Sesi malam puisi ini diselenggarakan atas kerjasama antara panitia Jakarta Kultur II dengan Paramadina Sastra (Pars). Pars merupakan wadah bagi para mahasiswa Paramadina yang memiliki ketertarikan di bidang sastra. Parade pembacaan puisi di malam puisi ini bertujuan untuk meneguhkan cita-cita Jakarta Kultur II, yaitu antara lain memberikan pembelajaran serta meneguhkan kembali kecintaan pada kebudayaan dan nilai-nilai kemanusiaan, yang kesemua itu merupakan hati dari kota Jakarta.

Baca juga:  Madekur & Tarkeni: Tragisnya Kisah Cinta dan Kritik untuk Para Orang Tua

Kritik sosial juga disampaikan lewat media visual. Seperti misalnya sebuah kayu di taman peradaban yang bertuliskan “Bertani wajib lapor 1×24 jam” yang bertujuan untuk mengkritik pemerintah yang sedang rajin melakukan penggusuran tanah sawah warga di berbagai daerah. Di lobi kampus terlihat sebuah patung menyerupai warga pegunungan Kendeng, Patmi yang sedang melakukan aksi cor kaki di depan istana, seperti beberapa waktu lalu. Beberapa tulisan yang menuntut keadilan juga tidak lupa ditempel di sana. Beberapa sisi tembok dan taman kampus juga dipasangi tulisan yang berisi ajakan untuk tidak hidup indivdualis ala warga kota dan peduli terhadap sesama, serta juga berisi tuntutan atas keadilan warga yang terampas. (mfa)

Bagikan: