Jakarta, Parmagz – ASIG (Area of Science, IT and Games) 2019 yang sempat vakum satu tahun, kembali digelar pada Selasa, 17 Desember 2019. Acara yang diusung oleh Himpunan Mahasiswa Informatika (HIMTI) Universitas Paramadina ini membuka pagelaran acara yang dihadiri oleh Prof. Dr. Widodo Muktiyo selaku Dirjen Informasi Komunikasi Publilk (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia.

Dr. Fatchiah E. Kertamuda, M. Sc selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan memberi sambutan acara, sebelum ASIG ke-13 di buka melalui pemotongan pita. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Widodo Muktiyo yang telah berkenan hadir di sini. Jauh-jauh datang ke Paramadina, ini kampus kami ya pak, mungkin ini pertama kalinya bapak datang ke Paramadina ya,” sambut Fatchiah yang dibalas Widodo sambil mengangkat jari menyimbolkan kehadirannya ke Paramadina ialah yang kedua kalinya.

Tak hanya membuka acara, Dirjen yang baru diangkat pada Jumat, 6 September 2019 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika RI pada Kabinet Kerja, Rudiantara, S. Stat., MBA., ini juga duduk di kursi narasumber dalam talkshow yang bertemakan “Internet Ethics” bersama dengan tiga narasumber lainnya, yakni Ir. Quintin Kurnia Dikara Barcah, MBA., M. Sc. (Dosen Teknik Informatika Universitas Paramadina), Angki Trijaka (Sekertaris Jenderal Asosiasi Video Games Indonesia), dan Hartman Harris (Co-Founder Evos Sport).

“Hai, guys. Lahir boleh dalam masa kolonial, tapi mindset harus milenial,” sapa Widodo yang dikukuhkan menjadi Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) ini. Dalam perkembangan teknologi ini, Widodo menegaskan bahwa setiap individulah yang mempunyai peran penting dalam mengontrol aktivitas di internet, sedangkan pemerintah hanyalah salah satu komponen dalam pengontol kebijakan.

“Dalam perkembangan peradaban teknologi ini, kompleksitas sosialnya ini tumbuhnya cepat, tetapi kapasitas kognitif kemampuan kita akan menjawab ini lambat, sehingga menimbulkan blind spot atau wilayah gelap yang dapat menjerumuskan kita dan diri kira sendiri yang bisa mengendalikan sebagai human dignity ini. Pemerintah hanya instrument duniawi saja,” ucap laki-laki yang fokus S-1 hingga S-3 dalam bidang Ilmu Komunikasi ini.

Pentingnya penguatan karakter khususnya anak muda menjadi penekanan bagi Widodo dalam era teknologi ini. “Intinya adalah karakter, anak muda jangan menjadikan itu (teknologi, red) makhluk yang kayaknya tanpa salah, itu hanya alat. Itu tools yang bisa membelah leher kita dan mengangkat derajat kita paling tinggi,” tegasnya.

Acara yang ditujukan untuk mengedukasi pelajar dan mahasiswa seputar ilmu komunikasi ini mengusung tema “Sophisticatech” untuk perhelatan ASIG ke-13.

“Tema tahun ini “Sophisticatech”, yaitu singkatan Sophisticated dan Technology yaitu kalau diartikan ke Indonesia berarti teknologi yang canggih. Jadi, pengennya semuanya ngerti tentang teknologi apalagi di zaman era modern ini semuanya pasti butuh teknologi,” kata M. Rafli Andika selaku ketua ASIG ke-13 ini.

Terkait vakumnya ASIG di tahun 2018, Dea Oktavia, ketua HIMTI Universitas Periode 2019 ini mengungkapkan dua faktor internal yang membuat perhelatan ASIG harus vakum di tahun 2018.

“ASIG tahun lalu vakum karena ketua ASIGnya sendiri cuti kuliah, jadi gak bisa ter-handle. Gak ada penggantinya untuk tahun kemarin. Terus masalah kedua, dana tahun kemarin yang sudah habis untuk acara kami yang lain jadi gak ada lebih untuk ASIG. Makanya ASIG vakum,” kata Dea yang ditemui Parmagz Rabu, 18 Desember 2019.

Perhelatan yang digelar dari 17-20 Desember ini, menghadirkan sejumlah agenda terkait teknologi. Dari talkshow, kompetisi game DOTA 2, bazar makanan dan minuman, pameran games, sampai perhelatan musik bertemakan “Economical Music Paramadina” yang akan ditampilkan pada malam terakhir perhelatan ASIG, “Itu kami mengundang guest star, stand up comedy, MC, DJ, itu nanti di hari Jumat tanggal 20 mulainya jam 7 malam,” tutup Rafli.

Baca juga artikel seputar ASIG atau tulisan menarik lainnya di Parmagz.

 

Reporter: Nurma Syelin

Editor: M. Farobi Afandi

Bagikan:
143