3 dari 3

Jakarta, Parmagz – Setelah Komisi Pemilihan Sekjen (KPS) mempublikasikan surat pengunduran diri resmi calon Sekretaris Jenderal (Sekjen) nomor urut 1 pada akun Instagram SEMA, ada beberapa warganet Paramadina yang berkomentar, menduga bahwa pengunduran diri Rizaldi Sukma secara tiba-tiba dari proses pemilihan Sekjen ini, adalah bagian dari strategi yang dimainkan oleh pihak tertentu agar calon yang tersisa bisa dipilih secara aklamasi. Dengan kata lain, ada “settingan yang dilakukan dalam kontestasi ini. Namun, benarkah demikian?

Hal janggal lainnya terdapat pada saat Sidang Pleno II Kongres Serikat Mahasiswa (SEMA) Paramadina, Kamis (21/3) lalu. Pada kesempatan itu, Rizaldi mengungkapkan beberapa klarifikasi terhadap simpang siur kabar tentang pengunduran dirinya dari kontestasi pencalonan Sekjen SEMA. Di antaranya Rizaldi menyatakan bahwa sebetulnya ia jugalah yang turut mendorong calon nomor urut 2, Salman Ibnu Fuad, untuk maju sebagai calon Sekjen 2019. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan besar, apa alasan Rizaldi di balik itu?

Berangkat dari pernyataan-pernyataan Rizaldi dan asumsi yang bertebaran, Parmagz melakukan klarifikasi langsung pada mantan calon Sekjen nomor urut 1, Rizaldi, tentang apa yang sebetulnya terjadi pada kontestasi pemilihan Sekjen tahun ini. Beberapa pertanyaan yang berangkat dari kejanggalan-kejanggalan dalam kontestasi pemilihan Sekjen ini, diungkap secara gamblang dan blak-blakan oleh Rizaldi dalam perbincangannya bersama Parmagz.

Berikut petikan perbincangan Parmagz bersama Rizaldi Sukma.

 

Mengapa Rizaldi Mendorong Salman Maju?

Saat ditemui Parmagz pada Senin (25/3) di Ruang Panjang kampus Paramadina, Rizaldi atau yang kerap disapa Zaldi sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Zaldi mengawali pernyataan bahwa ia memilih diam tak berkometar terhadap asumsi-asumsi dan hujatan orang-orang terhadap dirinya, “Saya diam terhadap hujatan kanan kiri dan cacian maki, saya sebetulnya tidak mau membalas hujatan mereka yang menuntut saya. Saya orang yang mau diajak komunikasi seperti Parmagz ini untuk (mengungkap, red) ada apa sih dengan kejadian ini. Orang-orang hanya berasumsi kepada saya, tidak mengajak komunikasi,” tutur Zaldi mengawali.

Ternyata, bukan hanya Salman yang diajak Zaldi untuk mencalonkan diri menjadi Sekjen. Rizaldi yang saat itu mengaku akan menjabat sebagai koordinator Dewan Pimpinan Organisasi (DPO) ini mengajak 3 orang. Mereka adalah Salman, serta dua orang lain yang namanya enggan ia sebutkan untuk maju sebagai calon Sekjen 2019. Akan tetapi, kedua orang yang tidak Zaldi sebutkan namanya tadi, tidak ingin maju dengan alasan yang menurut Zaldi tidak rasional, “Gua udah mengajak tiga orang untuk maju termasuk Salman. Gua tidak mau menyebut dua orang ini. Dan dua orang ini menurut gua alasannya kurang rasional,” ungkapnya.

Bisa dibilang peran Zaldi dalam pemilihan Sekjen ini ialah calon Sekjen seeker. Hal itu karena Zaldi mengaku terdorong untuk melakukan ini agar demokrasi pada pemilihan Sekjen tahun 2019 bisa berjalan, juga karena perasaan miris Zaldi melihat tidak adanya perwakilan dari OKUP-OKUP untuk maju dan menopang SEMA.

Lantas mengapa Zaldi begitu gigih mencari kandidat untuk maju menjadi Sekjen? Hal yang melatarinya adalah percakapan Zaldi dengan Sekjen SEMA 2018, Nasarullah Hamid atau yang akrab disapa Nawa. Saat itu posisi Zaldi adalah sebagai dewan bagian Pengembangan Kewirausahaan pada kepengurusan Nawa, Zaldi berkisah bahwa saat dirinya sudah siap untuk menjalankan peran sebagai koordinator DPO, suatu waktu karena masih melihat sepinya peminat pada bursa pencalonan Sekjen, Nawa menanyainya perihal siapa yang potensial menjadi calon Sekjen tahun 2019. Saat itu Zaldi menjawab belum tahu siapa, tapi dia menyatakan siap sedia mencari calon dengan syarat Nawa sebagai Sekjen 2018, tidak sama sekali ikut campur atau mengintervensi proses pemilihan Sekjen 2019.

“Oke gua cari … tapi jangan ikut campur sama Sekjen tahun depan, gua gituin. Tahun depan biar gue aja (yang cari kandidat, red), tapi tahun depan urusan Sekjen itu urusan lu (jadi dewan penasehat, red), ibaratnya mantan presiden ke presiden selanjutnya. Tapi untuk pencalonan, dia (Nawa, red) ngga boleh maen, ibaratnya ngga boleh turun gunung. Akhirnya, ‘gue lepas tangan,’ kata Nawa gitu. Yaudah (pencarian kandidat ini, red) urusan gua berarti ya,” cerita Zaldi.

Zaldi mengaku membujuk Salman untuk maju sudah sejak Sidang Pleno I Kongres SEMA (28/2). Jauh sebelum tenggat pendaftaran Sekjen (3-7/3). Zaldi mengaku saat itu ia sudah langsung menarik Salman untuk maju, “Setelah sidang Pleno Pertama Kongres, pas itu ada Salman kan, saya tarik Salman,” Zaldi melanjutkan, “Man, lu mau gak mau harus maju jadi Sekjen, gak ada orang lagi, gua udah coba dorong ini itu, gak ada yang mau,” ungkap Zaldi menirukan ucapannya pada Salman.

Bagi Zaldi membujuk Salman bukanlah hal yang mudah. Dia mengungkapkan bahwa Salman adalah orang yang baru ingin maju ketika ada dorongan dari berbagai pihak yang bisa menopangnya, “Dia tuh bukan orang yang kekeh dengan kemauannya sendiri. Dan akhirnya dia terdorong karena ada topangan dari beberapa orang. Gua bujuk Salman dari jam setengah sembilan (malam, red) sampai jam setengah empat (dini hari, red),” ungkapnya sambil tertawa.

Zaldi mengira bahwa dengan bersedianya Salman maju sebagai calon Sekjen 2019, akan menyelesaikan problem pada pemilihan Sekjen kali ini. Akan tetapi tidak demikian, Salman mau mengurus berkas-berkas pencalonannya, dengan syarat adanya satu calon lagi. Salman menyuruh Zaldi untuk mencari kandidat lain yang menjadi rivalnya dalam kontestasi ini, “Setelah Salman setuju, (Salman mengatakan bahwa, red) ‘berkas-berkas biar gua yang ngurus. Tapi dengan satu syarat, lu juga cari orang lagi, Zal.’ Wah PR lagi dong ya, berarti usaha gua kemarin … ternyata bukan jawaban.”

Di saat Zaldi sudah merasa buntu untuk menemukan satu orang lagi untuk maju sebagai calon Sekjen, di situlah Zaldi mulai berpikir untuk mencalonkan dirinya ke bursa kandidat Sekjen 2019. Namun saat itu Zaldi dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya sedang menjabat posisi strategis sebagai ketua UKM Basketball Paramadina 2019. Keinginan nekat Rizaldi untuk maju ini dikarenakan kebuntuannya untuk menemukan orang lain, ia juga mengaku bahwa niatnya adalah demi keberlangsungan demokrasi pada kontestasi ini, “Man gua udah gak ada orang lain lagi, gak seru kan kalau cuma satu orang, gua mau ada demokrasi dalam SEMA ini, terus gua gak mau kejadiannya kaya tahun-tahun kemarin. Tapi, seenggaknya ini SEMA loh,” ujar Zaldi menirukan ucapannya pada Salman.

 

Lantas, Mengapa Rizaldi Mundur?

Zaldi mengatakan bahwa keputusannya untuk maju sebagai kandidat Sekjen dapat dianalogikan seperti politik injak bambu, “Yaudah kalau gitu kita pake politik injak bambu aja, bambu dibelah terus satu diinjek dan satu dinaikin. Posisi Salman dinaikin saya yang nginjek. Nah itulah yang saya lakukan kemarin,” terang Zaldi tentang apa yang sebetulnya ia lakukan pada kontestasi pemilihan Sekjen tahun 2019 ini.

Keputusan untuk naik sebagai calon Sekjen ini bisa dibilang menjadi dilema untuk dirinya sendiri. Di satu sisi dia tidak ingin lepas menjadi ketua Basketball Paramadina 2019 dan di sisi lain, Zaldi tidak ingin calon Sekjen SEMA 2019 ini hanya menjadi calon tunggal.  “Gua tuh gak mau lepas jadi ketua Basket karena itu udah perjanjian gua sebelumnya, terus apa gimana caranya tapi gua juga pengen ada ruang demokrasi dalam SEMA ini,” tegasnya.

Zaldi sudah menyadari bahwa niatannya yang menurutnya baik ini dilaksanakan dengan tindakan yang salah. Sehingga pada akhirnya menimbulkan problematika yang bukan hanya ada pada dirinya, tetapi juga pada pihak-pihak terkait lainnya, seperti SEMA 2018, Basketball Paramadina, dan KPS. Dalam perbincangan ini juga Zaldi mengatakan sambil tertawa, bahwa untuk pemilihan Sekjen 2019 ini dia ialah aktor di belakang semuanya, “untuk tahun ini aktornya gua,” tutur Zaldi.

Seperti diketahui, bahwa pengunduran diri Rizaldi yang terkesan tiba-tiba, baik lewat instastory pribadi (17/3), maupun surat resmi menyatakan bahwa dinamika internal basket dan desakan dari ketua umum Basket Paramadina ialah faktor penyebab dirinya mundur, padahal yang terjadi sejatinya tidak demikian, “Pas gua kasih tau, dia (Rakha Ardhan, ketua Basket 2018, red) shock, ‘lu ngapain,’ katanya. Dan gua menjelaskan ke dia. Dan tapi gak dipermasalahin sama dia. Dia udah kaya bodo amat,” pungkas Zaldi.

Hal ini menerangkan bahwa, sebetulnya tidak ada desakan sama sekali dari Basket yang mengharuskan Zaldi mundur seperti tertuang dalam instastory Zaldi maupun surat pengunduran dirinya yang telah disetujui KPS dan diunggah di Instagram SEMA. Pengunduran diri Zaldi murni kemauannya sendiri, dan bisa dikatakan bagian dari naskah skenario yang Zaldi tulis dan mainkan sendiri dalam kontestasi ini, yang menurutnya bertujuan untuk membuka ruang demokrasi dalam pemilihan Sekjen 2019.

 

Apa Saja Berkas yang Rizaldi Ajukan ke KPS?

Rizaldi yang mengaku membentuk tim Badan Pemenangan Salman (BPS) bersama dengan beberapa orang lainnya ini, mengatakan bahwa setelah akhirnya ia nekat untuk maju ke kontestasi pencalonan Sekjen, ia membuat surat cuti sendiri sebagai ketua Basket. Dalam surat cuti tersebut Zaldi juga memberikan wewenang kepada Kusuma Wisnu Aji untuk menjadi pelaksana tugas (Plt) Paramadina Basketball, selama masa kontestasi pemilihan Sekjen berlangsung. Saat ditanya berkas apa yang ia ajukan ke KPS, Zaldi menjawab, “Gua ngajuin, tapi gak semuanya saya ajukan, cuma pergantian cuti … Tapi pada posisi itu saya sedang mencari orang lain terus.”

Dan setelah gagal untuk menemukan orang yang mau untuk maju, hingga sampai pada acara pengundian nomor urut dan penyampaian visi misi (15/03), Rizaldi belum juga memenuhi berkas yang sesuai dengan Pasal 21 tentang syarat pencalonan Sekjen, yaitu surat rekomendasi dari HIMA atau OKUP.

Kredibilitas KPS pun pada titik ini patut dipertanyakan. Menurut pengakuan Zaldi, KPS mengetahui niatannya yang hanya mencoba mengisi ruang kosong pencalonan Sekjen saja, “KPS menagih, mana berkasnya, Saya jawab ya sabar gua lagi cari orang lagi biar nemu sampai tiga empat orang maju. Kalau misalnya ada, gua pun bakal mundur,” tegasnya. Masalah lainnya adalah, pedoman KPS yang seharusnya sudah ada sejak sebelum anggota KPS ditetapkan, baru ada setelah Sidang Pleno II Kongres SEMA, “Pedoman KPS juga gua pertanyakan, independennya KPS apa, karena baru ada kemarin (saat Kongres Pleno II, red),” ungkapnya.

Memang, Pedoman KPS baru disebar oleh ketua KPS menjelang Kongres Pleno II (21/3). Dokumen pedoman tersebut dikirim ke forum multichat LINE peserta Kongres. Pedoman KPS yang berjumlah dua halaman dan membahas 5 poin utama, yaitu mengenai pemilihan Sekjen, Komisi Pemilihan Sekjen (KPS), syarat pencalonan Sekjen, pemilik hak suara pemilihan Sekjen SEMA Universitas Paramadina, dan tata cara pemilihan Sekjen.

Fakta lainnya, selain mencari kandidat untuk dicalonkan menjadi Sekjen, Zaldi menyebutkan bahwa ternyata dirinya juga yang mencari anggota KPS. Zaldi menyarankan agar pedoman KPS sudah diberikan sebelum ada penempatan anggota KPS, dan dia berharap anggota KPS tidak dari latar yang berbeda angkatan. “Harusnya pedoman KPS sudah diberikan sebelum penempatan KPS, ketika ada sidang pleno penetapan KPS harusnya pedoman KPS langsung diberikan. Dan seharusnya anggota KPS jangan tiga sampai 5 orang yang berbeda-beda angkatan. Perwakilan satu angkatan pun gak masalah. Karena kemarin aja gua juga yang nyari anggota KPS-nya. Gua semuanya yang nyari. Presidium pun gua yang cari. Gua tuh capek,” tutup Zaldi. (nur/mfa)

 

Baca juga artikel lainnya terkait pemilihan #Sekjen2019

Reporter: Nurma Syelin Komala

Editor: M Farobi Afandi

Bagikan:
224