Niatnya mau ngerjain tugas paper lima halaman yang sumbernya dari e-book bahasa Inggris. Tapi, pas cek notifikasi dan bales chat WA, jempol tangan malah berjung klik aplikasi Twitter, Instagram, dan nyelesain nonton season 2 YOU di Netflix. Eh, 6 jam kemudian niatan ngerjain paper gak jadi deh karena ngantuk. Besoknya minta file temen dan langsung print aja di Fredi~

Prokrastinasi atau procrastination dalam bahasa Inggris, istilah dalam ilmu psikologi ini mewakili sebuah tindakan menunda tugas atau pekerjaan yang seharusnya diselesaikan dalam waktu tertentu. Secara etimologi, prokrastinasi berasal dari dua kata dalam bahasa Latin, yakni “pro” berarti forward atau maju dan “crastinus” berarti “belonging tomorrow” atau milik hari besok. Nah, kalau para prokrastinator (sebutan untuk seseorang yang melakukan prokrastinasi) ini punya kesukaan untuk berkata ‘besok aja’ atau ‘nanti aja’ ketika dihadapkan kepada hal-hal yang sebetulnya bisa dikerjakan saat itu juga.

Kalau di zaman peradaban Yunani kuno, ketika Socrates memilih mati meminum racun pohon Taxus Baccata alias cemara Inggris, prokrastinasi dikenal dengan sebutan Akrasia (dibaca “ah-KRAH-see-ah”), yang kalau Socrates dan Plato percayai sebagai sebuah kecacatan moral seseorang, sedangkan Aristoteles menilainya sebagai suatu konsepsi yang salah tentang melihat apa yang “harus” dilakukan oleh seseorang.

Dilihat sekilas antara prokastinasi dan akrasia bisa jadi dipahami berbeda hanya secara sebutannya saja, tetapi sebetulnya keduanya ini bukanlah hal yang sama, walaupun berhubungan satu sama lain.

Siklus Prokastinasi

md-health.com

Contohnya gini, kalau prokrastinasi, penundaan terjadi ketika seseorang telah memilih untuk memutuskan mengerjakan suatu tugas, dan penundaan tersebut akan terus dilakukan sampai pada akhirnya seseorang tersebut harus memilih atau harus melakukannya karena deadline dan sebagainya. Misalnya, kasus paper lima halaman, Melati (nama samaran) sebenarnya udah baca satu halaman e-book dan udah mengerjakan satu lembar papernya, di tengah jalan dia lebih memilih nonton YOU season 2 di Netflix.

Sedangkan pada kasus akrasia, perasaan “harus” atau niatan itu selalu ada, tapi gak pernah diarahkan kepada tindakan yang mencapai tujuannya itu. Misalnya, Mawar udah niat mau berhenti konsumsi makanan junk food di tahun 2019, dan sampai awal Januari tahun 2020 niatan itu gak pernah dimulai sama sekali alias resolusi awal tahun yang gagal belum kesampaian.

Tipis bedanya kan?

Tapi yang harus diketahui antara prokrastinasi dan akrasia ini, sebetulnya di hati terdalam, mereka ngerasa kalau perilaku tersebut gak baik untuk dirinya karena perilaku menunda-nunda dan menjauhkan dirinya dari tujuan yang ingin dicapainya tersebut. Tapi, tetap aja terkadang ‘nanti dulu’ yang selalu keluar dari mulut.

Baca juga:  Rekomendasi Musik Lokal untuk Kamu Dengarkan saat #DiRumahAja

Eits, disini Parmagz gak akan kasih 5 tips caranya berhenti ngelakuin kebiasaan yang mengancam masa depan ini, karena di portal media online udah banyak banget yang bahas. Tinggal individunya aja siap atau gak untuk dorong seluruh kapasitas will-power yang ada di dalam dirinya sebagai manusia ini.

Berbicara tentang will-power, The New York Times yang mewawancarai Dr. Piers Steel, seorang profesor dari Universitas Calgary Kanana yang sekaligus penulis buku “The Procastination Equation: How to Stop Putting Things Off and Start Getting Stuff Done” menyatakan bahwa perilaku prokastinasi yang disebutnya sebagai “self-harm” ini bukanlah permasalahan mengenai kurangnya manajemen waktu, melainkan masalah regulasi mengontrol emosi, di mana seseorang menunda tugasnya tersebut dikarenakan urgensi untuk mengelola perasaan negatif di dalam dirinya, daripada memulai atau melanjutkan tugas.

Perasaan negatif di sini dimaksudkan kepada relasi tugas dan cerminan individu kepada tugas itu sendiri, seperti contoh Melati yang prokrastinasi terhadap tugas papernya, perasaan negatif tersebut karena Melati sadar dirinya gak terlalu menguasai bahasa Inggris dan ragu terhadap dirinya sendiri bisa atau gak untuk menyelesaikan tugas yang berkualitas. Kemudian, semisal tugas tersebut lantas selesai dikerjakan dan gak sesuai dengan ekspektasinya, Melati takut dosennya akan berpikiran buruk tentang dirinya yang berarah kepada kuantitas nilai semester Melati.

Kadang memang ketika ada tugas, kita selalu dihadapkan dengan kata ‘sulit, ribet, susah’ dan secara langsung memberikan seluruh aura pesimistik terhadap diri kita akan ‘bisa gak ya ngerjain tugas ini?”, “aduh gua kan gak bisa nulis panjang-panjang”, “ah, elah dosennya ribet banget dah ya”. Yap, konsekuensi terbesar kita ketika lebih memilih lanjut dibangku perkuliahan ini adalah realitas akan adanya PR, paper, makalah, presentasi, magang, UTS, UAS, dan skripsi. Kalau kata Dr. Steel, makanya seorang prokrastinator ini melakukan tindakan yang sama sekali gak rasional (irasional) karena udah tau konsekuensi tersebut, tetapi masih terus melakukan hal prokrastinasi ini.

Prokastinasi juga suatu kebiasaan buruk yang mencontohkan sulitnya kita sebagai manusia untuk bisa berada di waktu saat ini (being present). Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Hershfield bertajuk “Future Self-Continuity: How Conceptions of The Future Self Transform Intertemporal Choice“, menunjukan bahwa pada tingkatan saraf manusia dalam menanggapi “dirinya di masa depan” tersebut sebagai orang asing daripada “aku” sebagai dirinya sendiri. Ketika kita menunda-nunda suatu pekerjaan, otak kita akan berpikiran bahwa pekerjaan yang sedang kita kerjakan tersebut ialah kepunyaan orang asing. Sebab itu kita gak menganggap terlalu serius pekerjaan tersebut. Eh, ayo sadar, itu masa depan guys.

Dalam jangka panjang perilaku prokrastinasi ini gak hanya berdampak kepada semakin berkurangnya produktivitas kita, tetapi juga mempengaruhi kesehatan mental yang membuat kita sulit untuk membuat keputusan yang bijaksana. Dan kalau seseorang udah jadi prokrastinator kelas kakap, salah satu bagian otak yang disebut amigdala ini akan membajak kesadaran emosional dalam diri kita sendiri.

Baca juga:  Rekomendasi Musik Lokal untuk Kamu Dengarkan saat #DiRumahAja

Aduh, ini amigdala apa lagi coba. 

Pasti pernah dong sekali dalam hidup kita ngerasain yang namanya kesetrum, tersundut rokok, terciprat minyak goreng panas di wajan atau dikejar anjing. Masing ingat dong responnya? Mulai dari bilang ‘aduh’, ‘aw’, terus menjauh dari sumber tersebut. Nah, si amigdala yang punya peran dalam menghadapi situasi darurat tersebut. Amigdala akan membajak mekanisme berpikir rasional yang akan diarahkan ke respon nanodetik baik berbentuk kata-kata atau menjauh dari sumber ‘bahaya’ tersebut.

Dalam kasus si prokrastinator, ketika dihadapkan dalam tugas yang membuat timbul perasaan negatif tersebut, amigdala sebagai detektor akan menyala fungsinya, dan menganggap tugas yang sebetulnya bernilai positif baik secara intelektual dan masa depan kita justru dianggap sebagai ancaman dengan mengalihkannya ke tindakan seperti nonton Netflix, nonton film di IndoXXI (yang sayangnya udah ditutup), atau apapun hal yang dilakukan oleh prokrastinator untuk membelakangi tugas tersebut. Dan dalam tahap ini kerja pembajakan amigdala akan semakin gak kondisional dan proporsional yang akan berujung pada perasaan menyesal. Pembajakan amigdala yang seperti ini juga terjadi ketika seseorang sedang marah dan mengeluarkan banyak sumpah serapah, ketika kesadaran rasional kita justru di kontrol penuh oleh amigdala ini.

Kalau tadi ada istilah Akrasia, maka ada Enkratia sebagai antonimnya, yakni self-control. Karena itu gak ada solusi selain bagaimana seseorang ini secara internal bisa mengontrol perasaan negatifnya demi keluar dari sifat prokrastinasi tersebut.

 

Penulis: Nurma Syelin

Editor: 

Bagikan:
430