Jakarta, Parmagz – Senin, 22 April kemarin, sejumlah negara termasuk Indonesia memperingati Hari Bumi atau Earth Day. Peringatan ini pertama kali diusung pada tahun 1970 oleh senator dari Wisconsin Amerika Serikat, Gaylord Nelson. Perayaan Hari Bumi mulanya hanya berlangsung di Amerika Serikat, dan menjadi simbol perjuangan gerakan lingkungan hidup pada tahun 60-an. Tujuannya adalah untuk mendesak masuk isu-isu lingkungan sebagai agenda tetap nasional. Kini peringatan Hari Bumi telah menjadi sebuah agenda global untuk mengajak masyarakat dunia lebih menjaga planet bumi yang diperkirakan berusia 4.543 miliar tahun ini.

Populasi masyarakat dunia yang diperkirakan menyentuh angka 7.7 miliar pada tahun 2019 menurut PBB ini, semakin banyak menimbulkan permasalahan, mulai dari perubahan iklim yang membuat suhu bumi menjadi lebih panas, sampai sampah yang dihasilkan dari aktivitas kehidupan sehari-hari manusia, khususnya plastik. Plastik menimbulkan banyak efek negatif yang berdampak tidak hanya pada manusia, tetapi makhluk hidup lainnya, khususya hewan di laut. Awal April yang lalu bahkan seekor paus Sperma betina yang sedang mengandung ditemukan menelan 22 kg sampah plastik di dalam perutnya.

Berangkat dari fakta kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh plastik, ada berbagai cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penggunaan plastik, apa saja? Berikut uraiannya.

 

  1. Stop Penggunaan Kantong Plastik

Kampanye yang satu ini mungkin sering terdengar di telinga kita. Plastik membutuhkan waktu 50-100 tahun untuk terurai, bahkan stereofoam membutuhkan 500 tahun untuk bisa hancur sempurna. Tentu hal ini berdampak bagi ekosistem bumi, terutama laut.  World Economic Forum bahkan menyatakan ada 150 juta ton plastik di lautan saat ini yang membahayakan ekosistem di sana. Tidak jarang hewan-hewan di laut, khususnya penyu laut yang memakan ubur-ubur justru memakan plastik karena mengira itu adalah ubur-ubur. Mulai sekarang kita bisa mengganti pemakaian kantong plastik dengan eco-bag atau yang biasa disebut tote bag saat belanja. Aksi sederhana ini akan sangat berdampak positif untuk kesehatan bumi.

 

  1. Stop Membakar Plastik

Nah, mungkin kamu bertanya-tanya, untuk mengurangi timbunan plastik lantas kenapa nggak dibakar saja. Karena dengan dibakar, plastik malah justru menimbulkan masalah baru lagi yakni kesehatan makhluk hidup dan lapisan ozon bumi. Plastik mengandung zat kimia seperti karbon dan hidrogen. Zat tersebut akan bercampur dengan zat dari sampah lainnya terutama makanan, misalnya klorida. Yang mana saat terjadinya proses pembakaran plastik akan menghasilkan dioksin dan futuran. Zat kimiawi tersebut sangat membahayakan tubuh. Efek ringannya akan berdampak pada saluran pernapasan manusia, bahkan jika kamu terus-menerus membakar plastik penyakit kanker pun menjadi ancamannya.

Baca juga:  5 Teladan yang Harus Ditumbuhkan untuk Menjadi Kartini Masa Kini

Proses pembakaran plastik juga menghasilkan emisi karbondioksida yang berdampak pada penurunan fungsi lapisan ozon sebagai proteksi permukaan bumi dari sinar ultraviolet. Dengan semakin menipisnya lapisan ozon akan menimbulkan pemanasan global yang membuat es di daerah kutub mencair. Karena es mencair permukaan laut pun naik dan menyebabkan ratusan masalah lainnya.

 

  1. Stop Penggunaan Sedotan Plastik

Menurut penelitian yang dipublikasikan Sciencemag.org oleh Dr. Jenna Jambeck-Universitas Georgia (2015), Indonesia menjadi negara terbesar ke-2 penyumbang sampah plastik ke laut sebesar 3.21 juta metrik pertahun. Sedotan yang juga terbuat dari kandungan berbahaya layaknya kantong plastik, mengancam kehidupan biota di laut. Sebab partikel mikro plastik yang berukuran sangat kecil akan dimakan oleh hewan-hewan laut dimana manusia sebagai rantai makanan teratas akan terancam secara tidak sadar saat mengkonsumsi hewan laut.

Jika dalam jangka panjang bisa sampai menyebabkan kematian yang disebabkan oleh keracunan. Sedotan plastik ini pun secara fisik sangat menganggu keberlangsungan ekosistem di laut, seperti kasus video penyelamatan kura-kura yang hidungnya tersumbat oleh sedotan plastik sebesar 12 cm. Kamu bisa mengganti sedotan plastik dengan yang berbahan stainless steel. Eits, nggak hanya sedotan, untuk kamu yang suka ngafe atau chatime juga wajib bawa gelas berbahan eco-friendly ya. Terkesan ribet tapi tindakan bijak kamu ini akan sangat berdampak pada upaya perlindungan bumi.

 

Kepunahan Sperma di Masa Depan karena Plastik

Seperti dipaparkan di atas, banyak sekali aktivitas manusia yang tidak bijak dalam menggunakan plastik. Tanpa disadari, gunungan sampah khususnya plastik tidak hanya mengancam ekosistem lingkungan, tapi secara tidak sadar manusia sedang melakukan percobaan bunuh diri pada spesiesnya sendiri. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan para peneliti dari Universitas Hebrew Yerusalem mengungkapkan bahwa, antara tahun 1973 dan 2011 konsentrasi sperma dalam ejakulasi pria di negara-negara Barat telah turun rata-rata 1.4 persen, yang menyebabkan total penurunan lebih dari 52 persen. Secara angka penurunan tersebut awalnya dari rata-rata 99 juta sperma perkubik menjadi 47 juta sperma per kubik. Secara teoritis, tahun 2050 sperma diprediksi akan mengalami kepunahan. Banyak faktor yang membuat penurunan sperma, seperti kurang mengkonsumsi makanan sehat, kurang olahraga, alkohol, obesitas, stres dan satu hal yang menjadi bumerang: plastik.

Baca juga:  5 Teladan yang Harus Ditumbuhkan untuk Menjadi Kartini Masa Kini

Dalam sebuah video yang diunggah oleh National Geographic berjudul The Global Spermageddon, Shanna Swan, seorang professor bidang kedokteran lingkungan dan kesehatan masyarakat mengatakan bahwa kandungan bernama phthalate yang biasa digunakan untuk bahan pemberi fleksibilitas memiliki efek untuk mengubah hormon dalam tubuh kita terutama hormon testoteron yang diproduksi oleh laki-laki. Dan phthalate ini akan larut saat terkena suhu yang panas, baik panas dari microwave, makanan yang masih panas kemudian diletakan ke wadah berplastik, atau produk konsumsi baik makanan atau minuman yang terkena sinar matahari saat proses pengiriman.

“Bahan kimia yang kami khawatirkan tidak terikat secara kimiawi di dalam plastik. Mereka (phthalate) ada di dalam komposisi, tetapi mereka akan keluar.” Swan juga mengatakan bahwa penurunan produksi sperma bukan hanya terjadi bagi laki-laki dewasa, tetapi sudah dimulai pada perkembangan janin di dalam rahim sang ibu yang berefek pada ukuran penis yang kecil dan jumlah sperma yang rendah, “Ketika ibumu mengandung bayinya, apa yang dia minum dan makan akan secara aktif mempengaruhi perkembangan tubuh si bayi.”

Permasalahan tersebut sangat mengkhawatirkan bagi spesies manusia sebab ejakulasi laki-laki hanyalah berupa semen tanpa adanya sel sperma. Permasalahan ini coba diselesaikan melalui penerapan bioteknologi oleh para saintis. Pada akhirnya hubungan seks akan terdiskoneksi dengan tujuan untuk memiliki anak. Walaupun mendapatkan titik cerah, tapi kita tidak pernah tahu dampak apa yang akan terjadi, khususnya ketika bioteknologi dalam pembuatan bayi dilakukan dalam jangka panjang.

“Saya tidak dapat memprediksi masa depan, tetapi saya bisa memberitahumu bahwa masa depan tidak terlihat bagus,” jelas Swan.

Plastik memang memiliki puluhan keuntungan untuk kamu, mulai dari gampang dibawa kemana-mana, tahan air, dan mempermudah kamu untuk meletakan makanan dan minuman. Tapi, disamping itu ada jutaan dampak negatif dari plastik yang tidak hanya mengancam kesehatan, tapi juga menyangkut eksistensi kita sebagai manusia. Untuk itu, sudah selayaknya kita kurangi pemakaian plastik dari sekarang, perubahan yang kamu lakukan akan sangat berarti untuk keseimbangan bumi kita ini. (nur/mfa)

 

Reporter: Nurma Syelin Komala

Editor: M Farobi Afandi

Bagikan:
484