Tanggal 9 Maret 2021, kita memperingati Hari Musik Nasional di Indonesia. Tujuh tahun sudah kita peringati Hari Musik di Indonesia karena sesuai dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 10 Tahun 2013. Tujuan Keppres ini tentu saja untuk menghormati jasa para musisi dan seniman, khususnya jasa dari pengarang lagu Indonesia Raya yaitu Wage Rudolf Supratman (WR Supratman). Karena berkat jasa beliau dimasa lalu melalui karyanya yang dapat membangkitkan semangat para pemuda bangsa ini untuk merebut dan mempertahankan tanah air nya membuat beliau sangat memiliki andil didalam perjuangan tersebut.

 

Tentu saja sampai sekarang kita rasakan dampak dari perkembangan musik di Indonesia. Apalagi dengan berkembangnya Media Sosial (Medsos) saat ini yang membuat para musisi dan seniman dapat lebih mudah untuk memasarkan karya mereka. Bahkan tanpa bantuan Label pun mereka dapat memasarkan karya dengan cara Independent atau istilah yang berkembang saat ini adalah Indie.

Tentu saja bukan karya yang main – main, ataupun asal – asalan. Banyak proses dan rintangan berat yang harus mereka lalui. Tentunya untuk memikat hati para pendengar musik mereka.

Seiring berjalannya waktu, dapat kita lihat juga perkembangan music seperti Jazz, Rock, Punk, Blues, bahkan musik asli Indonesia yaitu Campur Sari juga ikut mendapatkan pasarnya. Terbukti dengan dedikasi Almarhum Didi Kempot yang dari karya – karyanya yang sebelumnya tidak diminati banyak kalangan karena dianggap kampungan, sekarang berapa banyak manusia tidak melihat gender dan usia dapat menikmati karya beliau. Tentu saja karena bantuan dari perkembangan yang terjadi.

Namun, Maret 2020 yang lalu. Ketika panggung konser sedang meriah – meriahnya, festival sedang marak – maraknya. Bencana pun datang. Pandemi Covid-19 mematahkan jalan mereka. Tidak hanya para musisi, tetapi orang – orang yang ada dibalik layar juga merasakannya. Terbukti diawal kemunculan virus ini, semua konser dipaksa untuk berhenti sementara sampai waktu yang belum ditentukan.

Walaupun begitu, para musisi percaya bahwa ini merupakan sebuah tantangan yang harus mereka hadapi. Sampai pada suatu waktu, festival musik Indonesia yang bertajuk Synchronize Fest memberanikan diri mereka untuk menyelenggarakan festival secara online dengan berkolaborasi bersama SCTV.

Namun dari gebrakan yang terjadi, masih banyak musisi yang belum puas dengan hal tersebut. Terlebih karena kurangnya elemen lain yaitu para penonton serta fans dari para musisi yang hanya melihat dari layar kaca. Memang saja, sebab bisa diibaratkan bahwa band merupakan sebuah badan sedangkan para penonton merupakan energinya. Tentu saja efek crowded itu yang mereka semua rindukan.

Di dalam memperingati Hari Musik Nasional inilah, meskipun Pandemi masih berjalan dan menemui titik akhir. Mereka berharap agar konser dapat digelar dan tentunya mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Terlebih lagi dengan telah ditemukannya vaksin virus ini, mereka berharap semoga doa – doa mereka dapat terkabul untuk dapat merasakan kembali athmosphere gigs yang terdapat diatas panggung dan semoga pandemi ini cepat berlalu tanpa menyisakan duka pada kita semua.

Penulis : Muhammad Noorghazali
Editor : Devita Martiyani

Bagikan:
146